Senin, 25 Jun 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Seminar Kerauhan Zaman Now Jadi Arena Kerauhan Massal, Ini Penyebabnya

Senin, 12 Feb 2018 08:00 | editor : I Putu Suyatra

Seminar Kerauhan Zaman Now Jadi Arena Kerauhan Massal, Ini Penyebabnya

KERAUHAN: Praktisi kerauhan, Dr. I Komang Indra Wirawan, S.Sn. M.Fil. saat mempraktikkan proses kerauhan di Gedung Dharma Wanita Shanti Graha, Jalan PB. Sudirman, Denpasar Minggu (11/2). (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Suasana seminar Fenomena Kerauhan Zaman Now yang digelar Pinandita Sanggraha Nusantara Kota Denpasar mendadak tegang di Gedung Dharma Wanita Shanti Graha, Jalan PB Sudirman, Denpasar Minggu, (11/2). Ini menyusul kerauhan massal yang terjadi saat salah satu materi mempraktikkan kerauhan zaman now di hadapan 250 peserta.

Dalam praktik kerauhan tersebut, cukup banyak peserta yang mengalami kerauhan, layaknya seperti kerauhan massal. Namun semua itu dipandu oleh seorang pemateri sehingga secara bertahap para peserta sadar dengan sendirinya. Hal itu menurut Dr. I Komang Indra Wirawan, S.Sn. M.Fil.H yang menyadarkan kembali adalah diri seseorang yang mengalami kerauhan, terlebih memang ngiring sasuhunan secara niskala.

“Praktik ini tidaklah ajang menunjukkan kebolehan, namun sebagai media menanggapi kerahuan, kerangsukan dan kesurupan. Karena ketiga tersebut diatur dalam alam makro dan mikro yang tetap bergerak, terlebih pada proses sakralisasi ruang dan waktu,” jelas Dr. I Komang Indra Wirawan, S.Sn. M.Fil.H atau yang lebih dikenal dengan panggilan Komang Gases.

Sebelum praktik kerauhan tersebut, Komang Gases menjelaskan ada dua hal terkait kerauhan.  Yakni profan dan sakral. Sebab kerauhan cenderung hal yang berkaitan dengan panca yadnya.

“Seperti dalam tradisi Bali Selatan, jika belum terjadinya kerauhan pada upcara yang dilakukan maka dirasa kurang maksimal. Karena jika di pura biasanya terjadi kerauhan Dewa dan kerauhan yang dimasuki oleh pepatihan,” papar Doktor Ilmu Agama tersebut.

Sedangkan kerangsukan, Indra Wirawan menjelaskan adanya unsur kesengajaan, bahkan dapat dimasukkan oleh seseorang. Yaitu yang dimasukkan ong kara terbalik. Dan ketika itu dihidupkan maka akan terjadi kerangsukan. Itulah yang dianggap sebagai profan karena tidak ada unsur dari dewa.

Sementara kesurupan bisa terjadi ketika seseorang mengalami tingkat emosi yang sudah melewati batas. Yaitu otak kanan dan otak kiri tidak dalam kesadaran penuh.  Hal tersebut menurutnya tidak salah karena tetap sebagai mempertahankan budaya agama sediri.

Pada tempat yang sama, pemateri seminar dari spesialis kejiwaan, dr. I Gusti Rai Putra Wiguna SpKj,  memaparkan kerauhan adalah fenomena dan adanya sebuah gangguan jiwa pada diri seseorang. Yaitu pada gelombang dalam otak yang sadar menjadi tidak sadar. Sehingga lebih berkonsentrasi di bawah alam sadar bahkan bisa dipraktikkan pada seseorang yang memang memiliki kesadaran tertentu.

“Salah satunya seperti saat erupsi Gunung Agung ada yang viral kerauhan, itu merupakan gangguan psikologi dan gangguan disolatif. Yaitu karena melihat ada perbedaan, perubahan, kesadaran, dan emosi,” paparnya.

Selain itu, Putra Wiguna juga menyampaikan seseorang yang sedang mengalami masalah dan sulit menyelesaikannya bisa juga mengalami hal itu. Sebab ketika tidak bisa menahan masalah maka akan munculnya kekurangan kesadaran seseorang.

“Bisa saja karea stress di masa lalu, terus ada yang mengingatkan kembali maka akan mengalami trauma berat. Karena masih terekam dalam otak mengakibatkan menurunnya kesadaran,” imbuh Wiguna. 

(bx/ade/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia