Senin, 18 Jun 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Ini Makna dan Tujuan Melasti Jelang Hari Raya Nyepi

Selasa, 13 Mar 2018 08:30 | editor : I Putu Suyatra

Ini Makna dan Tujuan Melasti Jelang Hari Raya Nyepi

BERSIH : Melasti bertujuan untuk membersihkan alam sekala dan niskala, dan bersiap menyambut Tahun Baru Saka lebih baik dari sebelumnya. (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Melasti merupakan tradisi yang dilakukan setiap setahun sekali, umumnya dilaksanakan sebelum tapa brata Panyepian. Lantas, apa dasar dari pelaksanaannya dan mengapa dilakukan di sumber mata air?

Melasti dilaksanakan umat Hindu, biasanya dilaksanakan seminggu sebelum perayaan Nyepi. Namun, semuanya tergantung dari tradisi masing masing. Di Bali Barat biasanya Melasti dilaksanakan tiga hari atau dua hari sebelum Nyepi.


Masyarakat berbondong – bondong menuju laut ataupun mata air untuk melaksanakan ritual pembersihan. Selain membawa membawa  prasaranan persembahyangan, masyarakat juga mengusung pretima (benda atau patung yang disakralkan) untuk dibersihkan secara sekala dan niskala.
"Dalam lontar Sundarigama dan Shanghyang Aji Swamandala, disebutkan, Melasti merupakan proses meningkatkan Sraddha dan Bhakti pada para Dewata dan manifestasi Tuhan, yang bertujuan untuk menghilangkan mala atau penderitaan," papar Ida Pandita Mpu Putra Yoga Parama Daksa kepada Bali Express (Jawa Pos Group), akhir pekan kemarin.


Dalam lontar Sundarigama, dijelaskan, Melasti memiliki lima tujuan utama, yaitu Ngarania ngiring prawetak dewata, anganyutaken laraning jagat, papa kelesa, letuhing bhuwana, ngamet sari ning amerta ring telenging segara. Artinya, Melasti adalah meningkatkan Sraddha dan Bhakti pada para Dewata manifestasi Tuhan Yang Mahaesa, untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat, menghilangkan papa klesa dan mencegah kerusakan alam.


Ngiring prewatek dewata, dimaksudkan bahwa upacara Melasti itu hendaknya didahului dengan memuja Tuhan dengan segala manifestasinya dalam prosesi Melasti. Tujuannya untuk dapat mengikuti tuntunan para dewa sebagai manifestasi Tuhan. Dengan mengikuti tuntunan Tuhan, manusia akan mendapatkan kekuatan suci untuk mengelola kehidupan di dunia ini. Karena itu, Melasti agak berbeda dengan berbhakti kepada Tuhan dalam upacara ngodalin atau saat sembahyang biasa. Para dewata disimbolkan hadir mengelilingi desa, sarana pretima dengan segala abon-abon Ida Bhatara. Semestinya umat yang rumahnya dilalui oleh iring-iringan Melasti itu menghaturkan sesaji setidak-tidaknya canang dan dupa lewat pintu masuknya kepada Ida Bhatara yang disimbolkan lewat rumah itu. Tujuan berbhakti tersebut agar kehadiran beliau dapat dimanfaatkan oleh umat untuk menerima wara nugraha Ida Bhatara manifestasi Tuhan yang hadir melalui Melasti.


Selanjutnya, Anganyutaken laraning jagat adalah menghayutkan penderitaan masyarakat. Upacara Melasti bertujuan untuk memotivasi umat secara ritual dan spiritual untuk melenyapkan penyakit-penyakit sosial. Penyakit sosial itu,  Di antaranya seperti kesenjangan antarkelompok, permusuhan antargolongan, wabah penyakit.Setelah Melasti semestinya ada kegiatan-kegiatan nyata untuk menginventariskan berbagai persoalan sosial untuk dicarikan solusinya. Dengan langkah nyata itu, berbagai penyakit sosial dapat diselesaikan tahap demi tahap secara niskala. Upacara Melasti adalah langkah yang bersifat niskala yang harus diimbangi oleh langkah sekala. Tujuan Melasti berikutnya adalah Papa kelesa. Jadi, Melasti bertujuan menuntun umat agar menghilangkan kepapanannya secara individual. Ada lima klesa yang dapat membuat orang papa, yaitu Awidya(kegelapan atau mabuk), Asmita  adalah egois, mementingkan diri sendiri, Raga, pengumbaran hawa nafsu, Dwesa merupakan sifat pemarah dan pendendam, dan Adhiniwesa adalah rasa takut tanpa sebab, yang paling mengerikan rasa takut mati. Kelima hal itu disebut klesa yang harus dihilangkan agar seseorang jangan menderita.
Kemudian tujuan Melasti selanjutnya adalah Letuhing bhuwana (alam yang kotor). Maksudnya, upacara Melasti bertujuan untuk meningkatkan kesadaran umat Hindu agar mengembalikan kelestarian alam lingkungan atau  menghilangkan sifat-sifat manusia yang merusak alam lingkungan. Tidak merusak sumber air, tanah, udara, dan lain-lain.


Tujuan berikutnya adalah Ngamet sarining amerta ring telenging segara. Artinya, mengambil sari-sari kehidupan dari tengah lautan. Melasti mengandung muatan nilai-nilai kehidupan yang sangat universal.
Melasti dalam Babad Bal, juga disebut  Melis atau Makiyis yang  bertujuan untuk melebur segala macam kekotoran pikiran, perkataan dan perbuatan, serta memperoleh air suci (angemet tirta amerta) untuk kehidupan yang pelaksanaannya  dilakukan di laut, danau, dan sumber  mata air yang disucikan. Dan, pura yang memiliki pretima atau pralingga  diusung ke tempat patirtan tersebut.  “Melasti agak berbeda  dengan upacara dewa yadnya lainnya, seperti piodalan atau sembahyang purnama. Melasti merupakan tahap ritual untuk mendapat tuntunan dari Tuhan, melalui manifestasinya seperti para dewa.  Para Dewata disimbolkan hadir mengelilingi desa, makanya mereka biasanya membawa serta pretima dengan sarana abon – abonnya,” papar Ida Pandita Parama Daksa.


Lantas, kenapa mesti  dilaksanakan di laut atau mata air?  "Kembali lagi kepada tujuan Melasti, yaitu sebuah ritual pembersihan dengan menggunakan media air. Selain itu, juga untuk mendapatkan tirta amerta  agar kehidupan kedepannya lebih baik,” paparnya.  Melasti tidak hanya dapat dilakukan di laut, juga dapat dilakukan di sumber sumber mata air, seperti danau, dan sumber mata air lainnya.


Di sisi lain, Ida Pandita Parama Daksa juga menjelaskan, Melasti dapat meminimalisi sifat buruk manusia. Dalam lontar Sundarigama menyebutkan, ada lima penyebab yang dapat membuat orang mabuk, yaitu Asmita yang berarti keegoisan, Awidya adalah kegelapan, Raga yaitu hawa nafsu, Dwesa merupakan sifat pemarah dan pendendam, dan Adhiniwesa merupakan rasa takut tanpa sebab. “ Kelima sifat itu ada dalam diri tiap manusia. Nah, sebelum melaksanakan tapa brata memang diharuskan melaksanakan Melasti untuk melebur semua sifat buruk itu,” paparnya.


Ida Pandita Parama Daksa mengimbau kepada umat yang melaksanakan Melasti agar tidak membuang sampah makanan atau minuman sembarangan. "Jaga kebersihan agar tidak mengotori lingkungan tempat melaksanakan Melasti, dan tentu  agar tidak mengurangi makna kita melaksanakan Melasti,” sarannya. (diah tritintya)

(bx/ima/bay/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia