Sabtu, 23 Jun 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Pura Sari Abangan; Tiap Sulinggih Muput, Beberapa Hari Kemudian Lebar

Selasa, 13 Mar 2018 09:30 | editor : I Putu Suyatra

Pura Sari Abangan; Tiap Sulinggih Muput, Beberapa Hari Kemudian Lebar

PALINGGIH PERANDA: Palinggih Peranda Sakti yang berada di Pura Sari Abangan, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Keberadaan Pura Sari Abangan yang berlokasi di Banjar Ancak, Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng, terbilang unik. Pujawali yang digelar setiap Purnama Kapat (Bulan Oktober, Red) tidak boleh dipuput oleh Sulinggih. Melainkan harus dipuput oleh prawayah atau kubayan. Keunikan lain, siapa pun yang mengambil pesaren (wanita untuk dijadikan istri, Red) di banjar Ancak, wajib ngerama di Pura Sari Abangan ini. Seperti apa?

Tercatat ada delapan palinggih yang berada di Pura Sari Abangan ini. Di antaranya Dewa Agung Ngurah Sesuhunan, Dewa Agung Wayan, pengayatan Pura Ponjok Batu, Dewa Ayu Mas Manik, Dewa Ngurah Panji, Ratu Peranda Sakti dan Dewa Ayu Pasaren.

Dari delapan jejeran pelinggih tersebut terdapat pelinggih Ratu Peranda Sakti. Posisinya paling di pojok selatan di Utama Madala. Di atas pelinggih ini terdapat patung seorang Sulinggih dengan posisi sedang duduk bersila.

Menurut Pangempon Pura Nyoman Suma Argawa, pembangunan pura ini diduga dilakukan  sekitar abad ke-8-11. Artinya dibangun sebelum masuknya kerajaan Majapahit. Sehingga di Pura ini tidak ditemukan adanya pelinggih Padmasana.

“Bisa dilihat di Pura Sari Abangan ini tidak ditemukan pelinggih Surya. Karena dibangun sebelum masuknya Kerajaan Majapahit ke Bali,” kata Suma Argawa.

Ia mengatakan Pura Sari Abangan merupakan Pura Dang Kahyangan karena ada penyungsungan Ratu Paranda Sakti atau Dang Hyang Nirartha. Menariknya, saat pujawali di Pura Sari Abangan tidak diperkenankan menggunakan sulinggih saat memuput upacara.

 “Kepercayaan kami sudah secara turun temurun. Tidak berani menggunakan Sulinggih untuk muput upacara saat pujawali. Tetapi harus menggunakan prawayah atau kubayan yang ada di Desa. Dulu pernah menggunakan Sulinggih untuk muput upacara setelah itu beberapa harinya Sulinggih itu lebar. Itu kejadiannya berulang-ulang, sehingga tidak ada sulinggih yang berani muput ke sini,” ujarnya.

Selain itu, di pura ini terdapat pelinggih Dewa Ayu Pesaren. Cirinya pada pelinggih ini terdapat patung lanang istri (laki perempuan) yang dipahat sangat sederhana. Karena pelinggih inilah ada istilah wajib ngerama bagi seorang pria yang mengambil pesaren (istri, Red) dari Banjar Ancak, Bungkulan.

Artinya, sambung Suma Argawa, setiap pria darimanapun asalnya yang mengambil seorang wanita dari Banjar Ancak, Desa Bungkulan, maka mereka wajib ngerama (sebagai penyembah, Red) di Pura Sari Abangan. Jika tidak bersedia, maka sudah dipastikan akan mengalami kesakitan atau kesialan.

“Makanya pengempon di pura ini jumlahnya ribuan. Tidak hanya disungsung oleh warga Bungkulan. Tetapi hingga seluruh Bali, bahkan ada dari Lombok. Karena ada ikatan ngerama untuk warga yang menikahi istri dari Banjar Ancak Sari, yang disimbolkan sebagai pesaren. Disadari atau tidak mereka tidak bisa lepas, sehingga krama yang nyungsung pura ini ada di mana-mana,” imbuhnya.

Keunikan tak sampai di situ. Di sana juga terdapat pelinggih Dewa Agung Wayan yang posisinya paling utara. Dalam sebuah penggambaran sosok Dewa Agung Wayan sangat menyeramkan. Wajahnya berkumis dengan rambut terurai. Dewa Agung Wayan merupakan dewa penghukum yang sangat tegas, bagi manusia yang sering berbuat kesalahan. “Beliau sangat tegas. Kalau ada orang bersalah tidak tangung-tanggung, bisa sisip dihukum hingga mati. Beliau ini sangat ditakuti,” bebernya.

Sementara itu setiap piodalan yang jatuh pada Purnama Kapat, Suma Argawa menyebut pujawali selalu diiringi oleh sejumlah tarian sakral dan rangkaian upacara khsus.  Seperti tari Baris Omang, Baris Badrangan, Baris Kupu-kupu, Baris Pendet. “Memang pujawali rutinnya setiap purnama sasih kapat yang jatub setahun sekali. Tetapi kalau pujawali Agungnya (besar, Red) dilaksanakan setiap lima tahun sekali,” jelasnya.

Demi menjaga kelestarian pura ini, para pengempon Pura Sari Abngan berencana melakukan restorasi terhadap beberapa bangunan. Hal tersebut dilakukan untuk mengembalikan bentuk asli salah satu bangunan pura kuno di Bali Utara. Bahkan pura ini pun diajukan untuk menjadi cagar budaya.

Sebelumnya Pura ini sempat mengalami pemugaran yang menghilangkan sejumlah keaslian bangunan. Salah satunya dengan pemugaran pelataran palinggih menggunakan bias malela dan menghilangkan seni ukiran Bali Utara. Padahal sebelumnya seluruh bangunan pura berbahan dasar batu paras. “Ini yang ingin kami kembalikan ke bentuk semula, karena ini yang merupakan identitas Bali Utara,” kata dia.

Sementara itu Peneliti Utama Balai Pelestari Nilai Budaya Bali-NTB-NTT, Made Purna yang sempat ditemui belum lama ini mengatakan pihaknya sejauh masih melakukan pengamatan awal. Dari hasil pengamatan ia pun masih menemui sejumlah bangunan pura yang masih utuh dan sanagt tradisional. Meski beberapa yang direnovasi.

“Memang ada yang direnovasi diubah motif ukiran dan bahannya, apakah pertimbangan ekonomis atau kepraktisan teknik pengerjaan, intinya pura ini tetap kami amati, apalagi akan dibuatkan purana, yakin masih bisa ditelusurim,” kata dia.

Ia pun membenarkan dari kasat mata, bangunan Pura Sari Abangan merupakan bangunan yang sanagt kuno versi Den Bukit yang diperkirakan dibangun sekitar abad ke 8-11 sebelum masuknya Majapahit. “Inilah tonggak kita, kalau ingin adakan pelestraian sisa-sisa ini yang harus dipertahankan dan diteruskan oleh generasi muda,” tutupnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia