Jumat, 22 Jun 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Ada Patung Babi “Seruduk” Lingga Yoni di Pura Sang Hyang Celeng

Selasa, 13 Mar 2018 11:48 | editor : I Putu Suyatra

Ada Patung Babi “Seruduk” Lingga Yoni di Pura Sang Hyang Celeng

PURA SANG HYANG CELENG : Pura Sang Hyang Celeng di Desa Jagaraga yang disungsung oleh Krama Desa Menyali. (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Di Desa Menyali, Kecamatan Sawan, Buleleng, ada pura unik,  namanya Pura Sang Hyang Celeng. Di pura ini ditemukan sebuah patung Celeng (Babi) yang merupakan simbol Waraha sebagai manifestasi Dewa Wisnu. Patung ini berdiri di bawah  Lingga Yoni simbol Siwa.

Secara administratif, Pura Sang Hyang Celeng terletak di Banjar Kangin Teben, Desa Jagaraga Kecamatan Sawan. Namun, yang menyungsung pura ini  bukanlah dari masyarakat Jagaraga. Tetapi justru masyarakat Desa Menyali yang kini jumlahnya hingga 1600 kepala keluarga (KK). Kedua desa ini memang bertetangga yang berbatasan langsung.


Pura ini lokasinya agak masuk ke dalam gang sempit, jaraknya hanya 50 meter dari ruas jalan Jagaraga-Menyali. Pura ini mengususng konsep Eka Mandala, yakni  hanya satu areal saja, tanpa memiliki jaba dan madya mandala.


Jika dilihat seksama, pura yang luasnya tak lebih dari 15 meter persegi ini, hanya memiliki satu palinggih utama. Yakni patung Babi (waraha) yang di depan kepalanya terdapat Lingga Yoni yang dibungkus kain kuning.

Patung Babi tersebut dibungkus dengan kain poleng yang seolah-olah terlihat menyeruduk Lingga Yoni.


Menurut Jro Mangku Made Werdi, 68, dulu wilayah Desa Menyali sangatlah luas. Bahkan, hingga melingkupi Desa Jagaraga dan Giri Emas. Namun, luas wilayahnya menyusut, hingga wilayah Desa Jagaraga berdiri sendiri. Meski demikian, Pura Sang Hyang Celeng statusnya masih diempon oleh Desa Menyali.

“Pura ini sudah ada sejak zaman Pra Hindu. Angka tahunnya tidak dipastikan, bahkan sudah ada sejak  zaman perang melawan penjajah,” ujar Mangku Werdi saat ditemui Bali Express (Jawa Pos Group)  di rumahnya, Dusun Kangingan, Desa Menyali, akhir pekan kemarin.


Diceritakan Mangku Werdi, pura ini tak bisa dilepaskan dari sosok Dewa Wisnu, dalam manifestasinya sebagai Waraha (Babi). Pura ini berdekatan dengan Pura Puseh. Pemangku pengemponnya pun jadi satu dengan Pura Puseh.


Memang tidak ada bukti atau catatan sejarah terkait Pura Sang Hyang Celeng ini. Tetapi, jika merujuk dari cerita para pendahulunya diyakini memiliki kekuatan gaib, berupa Patung Waraha (Babi) yang bersenjatakan Cakra Sudarsana, salah satu simbul awatara Wisnu.


Patung Waraha atau yang identik dengan Varaha Awatara, merupakan Awatara Dewa Wisnu yang ketiga, yang digambar dalam wujud seekor Babi yang keluar dari hidung Dewa Brahma. Selanjutnya dalam kisahnya Waraha Awatara membawa bumi dengan kedua taringnya bersenjatakan gada, mengangkat bumi yang tenggelam di samudra alam semesta bernama Garbhodaka.

“Desa kami kan menyungsung Dewa Wisnu. Makanya, Pura Sang Hyang Celeng berdampingan dengan Pura Puseh. Posisi Waraha seolah menyeruduk patung Lingga Yoni itu, diibaratkan seperti menyelamatkan Bumi dari berbagai kezaliman. Kami berharap Desa Menyali itu selalu diberikan kedamaian, kemakmuran, dan kesejahteraan,” bebernya.


Berbagai cerita unik pun berkaitan dengan keberadaan Pura Sang Hyang Celeng ini. Konon katanya, Anak Agung Jelantik yang merupakan Raja Buleleng pada zaman Perang Puputan Jagaraga tahun 1829-an, sering bermeditasi dan memohon kekuatan di tempat ini, sehingga selalu sukses memukul mundur Belanda.


Belanda pun dibuat jengkel lantaran sulitnya menangkap Anak Agung Jelantik kala itu. Bahkan, dari mata-mata yang disebar Belanda, Raja Anak Agung Patih Jelantik disinyalir mendapatkan kekuatan di pura ini. Tanpa pikir panjang, Belanda langsung memotong Patung Waraha atau Babi ini. Tak hanya memotong kepala Babi, Belanda juga menghancurkan patung Lingga Yoni. Selanjutnya patung tersebut dikubur di areal Pura Sang Hyang Celeng.

“Penggalan patung kepala Babi itulah yang konon dibuang di salah satu Masjid di Singaraja. Tujuannya adalah untuk mengadu domba antara umat Islam dengan Umat Hindu di Singaraja, agar dukungan terhadap Anak Agung Patih Jelantik bisa terpecah belah  melawan penjajah Belanda,” tuturnya.


Sejak dipotong oleh pasukan Belanda, patung Babi tersebut tidak memiliki kepala. Sekitar tahun 1996 barulah dilakukan pemugaran. Proses pemugaran dilakukan dengan membuat kembali patung Babi atau Waraha. Sedangkan, Lingga Yoni tersebut ditemukan oleh masyarakat saat melakukan pemugaran.

“Nah setelah pemugaran selesai, barulah dilakukan upacara melaspas. Hingga kini pura tersebut masih kokoh berdiri,” imbuhnya.


Dikatakan Mangku Werdi, pujawali  dilaksanakan setiap Purnama Sasih Karo antara  Juli-Agustus. Pujawalinya berlangsung selama dua hari, yang harus dipuput oleh Kubayan, bukan dari kalangan Sulinggih. “Saat pujawali juga sering dipentaskan Tari Sanghyang Celeng. Tarian ini ditampilkan oleh anak – anak di bawah belasan tahun,” tuturnya.


Menariknya, Pura Sang Hyang Celeng ini juga sangat erat kaitannya dengan Tumpek Uye. Krama Menyali melakukan persembahan sesajen saat hari raya Tumpek Kandang (Tumpek Uye).


Pura ini ramai dikunjungi masyarakat untuk meminta keselamatan serta berkah dari  Dewa Wisnu dalam manifestasinya sebagai pemelihara. Tujuannya untuk memihon tirta yang nantinya dipercikkan kepada hewan piaraan, seperti Babi, Sapi, unggas dan hewan piaraan lainnya.


Menurutnya, ketika Tumpek Uye, hewan ternak dibuatkan otonan. Dalam prosesi ritual itu, umat memohon ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi agar ternak peliharaannya diberkati karahayuan. Perayaan Tumpek Uye atau Tumpek Kandang   mengandung makna, bahwa umat hendaknya mengembangkan kasih sayang kepada semua makhluk ciptaan-Nya. Dalam konteks ekonomi, prosesi ritual itu mengamanatkan agar sektor peternakan bisa dikembangkan untuk memperkuat sendi-sendi perekonomian masyarakat, khususnya di Menyali.

“Saat menghaturkan sesajen itu, krama yang memang memiliki hewan piaraan seperti Babi, Sapi atau Unggas, sering memohon tirta di Pura Sang Hyang Celeng. Tujuannya agar hewan piaraannya sehat dan bisa menghasilkan,” terangnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia