Jumat, 22 Jun 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Sempat Dinyatakan Meninggal, Warga Pau Hidup Lagi Tiga Jam Kemudian

Selasa, 13 Mar 2018 19:07 | editor : I Putu Suyatra

Sempat Dinyatakan Meninggal, Warga Pau Hidup Lagi Tiga Jam Kemudian

Mantan Bendesa Adat Pau, I Nengah Sukirta (I MADE MERTAWAN/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SEMARAPURA - Warga di Desa Adat Pau, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung dikagetkan dengan kabar kematian warga setempat Ni Wayan Norti, Selasa (13/3).  Sekitar tiga jam kemudian, Norti dinyatakan hidup lagi. Norti yang usianya sekitar 37 tahun itu sempat dinyatakan meninggal oleh suaminya I Nyoman Sutiasa.

Informasi yang didapat koran ini, saat mengabarkan istrinya meninggal, Sutiasa bersama istrinya berada di rumah kosnya di Denpasar. Sekitar pukul 10.00 wita, pihak keluarganya di Pau dihubungi Sutiasa, menyatakan istrinya yang sebelumnya sehat walafiat mendadak lemas, hinggah melas balung, dan akhirnya meninggal dunia.  Melalui sambungan telepone, pihak keluarganya menyarankan jenazah Norti dititip di rumah sakit lantaran Ida Bhatara nyejer di Pau.

“Karena suaminya ini ngotot dibawa ke rumahnya, akhirnya pihak keluarga dan beberapa warga lain menunggu di jalur masuk Desa Pau,” tutur Kepala Dusun Pau Jro Mangku Wayan Ardana Ariasa.

Sejumlah warga Pau membagi diri. Ada nyanggong di pertigaan Banda, dan pertigaan Takmung agar jenazah tersebut tak dibawa ke rumahnya. “Saya ketemu di pertigaan Banda. Saya lihat dibawa pakai mobil pribadi, karena ngotot ingin dibawa pulang, akhirnya saya persilahkan,” tutur Ardana.

Uniknya, hendak digotong di depan rumahnya, Norti tiba-tiba bergerak. Keluarganya pun dibikin kaget. “Saya sempat pegang tangannya, sudah dingin.  Karena tiba-tiba  hidup, langsung dibawa masuk. Ternyata kerauhan,” terangnya seraya mengatakan Sutiasa tiba di Pau sekitar pukul 13.00 Wita.

Pihak keluarganya juga sempat menghubungi petugas medis dari Puskesmas Banjarangkan II, memastikan kondisi Norti yang sempat dinyatakan meninggal. “Karena sudah kerauhan, saya matur dulu, minta izin, apakah boleh diperiksa dokter. Ternyata tidak dikasi,” imbuhnya, dibenarkan warga lainnya.  

Sampai di rumahnya, Norti terus kerauhan, terus mebaosan bahkan sampai ke Pura Pajenengan Sakti Desa Adat Pau.

Berdasarkan pemuus, Norti harus membersihkan diri secara niskala. Ia harus mediksa. Mendapat pawisik itu, pihak keluarga pun menyanggupi, dan merencanakan pewintenan pada purnama kadasa.

“Karena sudah seperti itu pawisiknya, akhirnya pihak keluarga bersedia melaksanakan upacara mediksa,” imbuh mantan Bendesa Adat Pau, I Nengah Sukirta. Pawisik itu juga menegaskan agar Sukirta ikut mewinten.  

Mantan Bendesa Adat Pau Nengah Sukirta mengaku sudah mendapat firasat akan terjadi sesuatu di desa setempat. Itu terjadi saat Desa Adat Pau melasti serangkaian Nyepi, Senin lalu (12/3). Malam sebelum melasti, dia bermimpi palinggih di perbatasan desa ditumbuhi semak belukar. Pagi harinya dia langsung membersihkan palinggih itu sebelum krama desa melasti ke Watu Klotok. “Tumben saya mimpi begitu, saya pikir itu firasat. Saat melasti saya juga mendapat firasat aneh,” ujarnya.

Apa itu? Seperti biasa, melasti melintas di Catus Pata Klungkung. Di sana digelar upacara sambleh kucit butuan. Tiba-tiba Sukirta ingin menyantap darah kucit tersebut.  Dalam keadaan setengah sadar, Sukirta membayangkan ceceran darah itu begitu nikmat. “Tapi saya bisa mengendalikan diri,” tuturnya.

Tak sampai di situ. Saat prosesi upacara di Watu Klotok, Norti disebutkan sempat kerauhan. Dalam keadaan tak sadar, Norti mengatakan bahwa Sukirta akan menggantikannya ngiring Ida Ratu Gede Mas Mecaling. Ia pun dibuat kaget, hingga tak bisa tidur malam harinya. “Hari ini (Selasa kemarin,Red) mendapat kabar ini (Norti,Red) meninggal, dan hidup lagi. Ohh.. ternyata berdasarkan penikaan saya harus ikut mewinten. Saya katakan saya siap,” tandas Sukirta. 

(bx/wan/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia