Minggu, 27 May 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Kama Sutra Tak Hanya Posisi Seks, Tamparan dan Desahan Juga Diungkap

Rabu, 16 May 2018 12:01 | editor : I Putu Suyatra

Kama Sutra Tak Hanya Posisi Seks, Tamparan dan Desahan Juga Diungkap

PENTING : Ilmu Kama Sutra penting dipelajari untuk melakukan hubungan badan yang baik dan mencapai klimaks maksimal. (ISTIMEWA)

BALI EXPRESS, DENPASAR - Mempelajari Kama Sutra, sangatlah penting bagi pasangan suami istri terkait hubungan badan. Pasalnya,  di dalamnya terdapat cara, waktu yang tepat, dan pantangan melakukan hubungan seksual.

Salah satu Dosen Agama Hindu, yang mengajar di Kampus IKIP PGRI Bali, I Ketut Sandika, S.Pd, M.Pd mengungkapkan,  seks  sudah ada sejak manusia itu ada. Bahkan, seks dalam padangan sastra yang ada di Hindu tidak tabu berbicara hal tersebut maupun untuk dilaksanakan. “Seks itu ada dalam Kama Sutra, kemudian ada juga di lontar Kama Tattwa, Swara Gama, dan yang lainnya lagi. Berarti seks dalam pandangan Hindu itu kan memang wajib bagi mereka yang telah dirasakan pantas,” jelasnya kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, akhir pekan kemarin.

Sebagai makhluk hidup tentunya memiliki tujuan, terlebih jika telah berpasangan yang juga berkeinginan memiliki keturunan. Maka dalam Kama Sutra, lanjutnya, dibeber tata cara membuat keturunan agar menjadi anak yang suputra,  mulai dari waktu yang tepat bersenggama, pantangan, bahkan cara membuat keturunan laki maupun perempuan. Namun diakuinya, saat pasangan yang melakukan hubungan badan hanya mengandalkan sebatas nafsu,  jarang memperhatikan waktu yang tepat ataupun ritual yang dilakukannya. “Itu terjadi karena kesenangan seksual hanya dirasa salah satu kegembiraan yang dilakukan. Padahal, itu semua memerlukan cara maupaun rasa dalam menikmati setiap tindakan," terang pria Magister Pendidikan Agama Hindu tersebut.


Selain menjalankan nafsu, lanjut Sandika,  berhubungan seksual juga bertemunya kama bang dan kama petak yang sedang mekarnya yang dapat memengaruhi keturunan yang dihasilkan.


Sandika menegaskan, yang tepat melakukan semua itu adalah pasangan yang telah melakukan grehasta asrama atau menikah.  "Seksual bagi sebuah pasangan merupakan berkreater atau menciptakan sebuah keturunan sesuai ajaran Kama Sutra. Yakni sesuai jenis-jenis hubungan,  dimensi, kekuatan, keinginan atau nafsu dan waktunya,"urainya.


Bahkan, dalam melakukan hubungan seksual, lanjutnya,  terdapat empat jenis pelukan, yang merupakan bagian dari pernyataan kasih sayang timbal balik dari seorang pria dan wanita. Terdiri atas sentuhan, tubrukan, rabaan, dan penekanan. Terlebih pada kegiatan masing-masingnya dinyatakan oleh makna dari kata yang melambangkannya. Bila seseorang pria dengan alasan dibuat-buat menghampiri wanita dari depan atau samping dan menyentuh badannya, disebut sentuhan dan pelukan. Dikatakan
pelukan dengan tubrukan, apabila seorang wanita membungkuk dan menubruk pria yang sedang duduk atau berdiri dengan dadanya, kemudian si pria merangkulnya. Bahkan, kedua pelukan tersebut hanya berlangsung antara orang-orang yang sebelumnya belum berbicara secara bebas satu sama lain.

Sedangkan pelukan perabaan atau penggesekan, terjadi apabila pasangan berjalan bersama-sama dengan perlahan-lahan di tempat yang gelap, kemudian saling menggesekkan badannya masing-masing.
Dan, jenis pelukan keempat ada pelukan dengan penekanan, yakni bila saat peristiwa pelukan tersebut salah satu dari mereka menekan badan yang lainnya secara paksa. Baik itu pada dinding ataupun tiang yang ada di lokasi tersebut.


Selanjutnya  ada juga  empat cara berpelukan dari anggota-anggota badan yang sederhana, yakni rangkulan paha, rangkulan jaghana atau bagian badan dari pusar ke bawah hingga paha, rangkulan dari dada, dan rangkulan dari dahi. “Selain cara melakukan gerakan yang sensasional, dalam berhubungan badan  itu sangat diperlukan cara-cara khusus agar rasa saling mencintai itu tumbuh dan puncak bertemunya memang pada waktunya. Maka di sanalah sebuah pasangan akan merasakan kenikmatan dalam berhubungan, bukan hanya nafsu belaka,” papar Sandika.


Meski berhubungan dilakukan suka sama suka, bukan berarti dapat dilakukan kapan saja. Karena ada juga waktu pantang melakukan hubungan seksual, terutama pada rainan atau hari yang dianggap suci.
" Pada saat hari suci, seperti  Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon dan lainnya adalah harinya para dewa yang hendak turun ke Bumi. Maka, sebaiknya saat itu jangan berhubungan badan, manfaatkan untuk meditasi ataupun sembahyang," urainya.


Sandika mengutip dari buku Kama Sutra yang diterjemahkan ahli bahasa I Wayan Maswinara, ada tiga jenis ciuman, yakni ciuman nominal atau sekadar, ciuman bergetar, dan ciuman menyentuh. Dikatakan ciuman nominal,  bila seorang gadis hanya menyentuh mulut pasangannya dengan mulutnya sendiri. Tetapi ia sendiri tak melakukan apa-apa. Disebut ciuman bergetar, bila seorang membuang rasa malunya sendiri berkeinginan untuk menyentuh bibir yang ditekan pada mulutnya sendiri sambil menggerakkan bibir bawahnya. Namun, tanpa menggerakkan bibir atasnya. Sedangkan yang ketiga adalah bila seorang gadis menyentuh bibir bawah dengan lidahnya dan setelah menutup matanya, meletakkan tangannya pada bibir pasangannya.

Selain itu, juga terdapat berbagai macam cara berbaring dan berbagai jenis hubungan badan yang berbeda, terdiri atas tiga jenis, yakni posisi terbuka lebar, posisi menganga, dan posisi dari istri Indra. Yang dimaksud posisi terbuka lebar,  bila wanita merendahkan kepalanya dan mengangkat bagian tengah badannya.

Saat seperti itu, pria harus menggunakan obat luar seperti salep agar memudahkan penembusannya. Disebut posisi menganga, bila wanita mengangkat pahanya dan membiarkannya sedemikian selama melakukan hubungan badan. Sedangkan posisi Indrani, bila wanita menempatkan pahanya sedemikian rupa dengan menekuk kakinya, yang dilakukan selama berhubungan badan.


Selain itu, terdapat juga model penamparan atau pukulan dan suara yang tepat saat berhubungan. Tentunya memukul dengan cinta kasih yang tepat pada bahu, kepala, dada, bagian punggung, bagian tengah dari badan, dan bagian pinggang kanan kiri. Sedangkan penamparan menimbulkan suara seperti ciuman, juga mengurangi sakit yang terdapat delapan pekikan, yaitu suara hin, mengguntur, mendengkur, isakan, suara phut, suara phat, suara sut, dan suara plat.


Di samping itu, saat wanita terlibat berhubungan badan, ruang antara dada dapat dipukul dengan belakang tangan yang awalnya pelan-pelan, kemudian secara proporsional menambah kegembiraan hingga berakhir.

"Ada tanda-tanda dari kenikmatan dan kepuasan wanita dalam berhubungan. Semua itu bisa dilihat ketika badannya mengendur santai, menutup matanya, mengesampingkan segala rasa malunya, dan menunjukkan keinginannya yang bertambah untuk menyatukan kedua organ itu serapat mungkin. Sedangkan tanda jika kegagalan mencapai kepuasan adalah ia akan menggoyang-goyangkan tangannya, tak membiarkan si pria untuk bangun dan merasa kecewa, menggigit si pria, dan terus bergerak-gerak setelah si pria selesai," beber Sandika.


Meski demikian, lanjutnya,  sebaiknya si pria dapat meraba yoni atau alat kelamin si wanita dengan tangan dan jari-jarinya sebelum terlibat hubungan badan, hingga  menjadi lembek.  Setelah itu, pria dapat mulai memasukkan linggam-nya pada yoni. Kegiatan yang sebaiknya dilakukan pria adalah menggerakkannya maju, penggesekkan atau pengadukan, penusukan, perabaan, penekanan, dan memberikan sebuah hembusan hingga mencapai puncak kenikmatan.

(bx/ade/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia