Senin, 25 Jun 2018
baliexpress
icon featured
Bali

Makan Nasi di Acara Perpisahan, 83 Siswa SDN 3 Pemuteran Keracunan

Rabu, 13 Jun 2018 21:57 | editor : I Putu Suyatra

Makan Nasi di Acara Perpisahan, 83 Siswa SDN 3 Pemuteran Keracunan

KUNJUNGI KORBAN: Wabup Buleleng, Nyoman Sutjidra saat mengunjungi korban keracunan massal Rabu (13/6). (I PUTU MARDIKA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, SINGARAJA - Kasus keracunan massal kembali terjadi di Buleleng. Kali ini menimpa puluhan siswa di  SDN 3 Pemuteran, Desa Pemuteran, kecamatan Gerokgak. Puluhan siswa mengalami pusing, mual hingga muntah-muntah setelah menyantap nasi bungkus yang didapat di Sekolah setelah acara perpisahan siswa kelas VI digelar, Rabu (13/6) pagi.

Data dihimpun di lapangan menyebutkan hingga pukul 21.00 Wita, sebanyak 83 siswa dilaporkan mengalami keracunan. Mereka sempat dilarikan ke Puskesmas I Gerokgak untuk mendapatkan penanganan.

Namun dari jumlah tersebut 7 orang siswa dirawat di Puskesmas I Gerokgak. Sedangkan 8 orang lainnya dirujuk ke RS Pratama Tangguwisia, Kecamatan Seririt. Selebihnya sebanyak 63 siswa sudah diperbolehkan pulang dan hanya diberikan rawat jalan.

Ditemui di RS Pratama Tangguwisia, Putu Deby Cahyani, 11, siswa kelas IV mengungkapkan dirinya menyantap nasi bungkus yang dibagikan gurunya sekitar pukul 09.00 Wita. Ia menuturkan, nasi yang disantapnya tersebut berisi lauk berupa daging babi, telur, mie goreng dan daging ayam. Nasi tersebut dijual oleh seorang guru di SDN 3 Pemuteran.

“Makan jam 09.00 Wita. Mual jam 14.00 Wita. Langsung pusing, sempat pingsan malah” tuturnya didampingi sang ayah Wayan Sumanaka, 35, warga asal Banjar Dinas yeh Panes, Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak.

Meski demikian, Sumanaka sempat tidak ngeh  kalau sang anak keracunan. Namun setelah beberapa temannya juga dilarikan ke Bidan Desa Pemuteran, barulah ia menyadari kalau sang anak mengalami keracunan. “Langsung saya bawa ke bidan. Kemudian dari bidan desa merujuk ke Puskesmas I Gerokgak. Dari sana dirujuk lagi ke RS Pratama,” ujarnya.

Kasus serupa juga dialami Luh Marwati. Anakanya Komang Tirta, 12 juga mengalami pusing, mual hingga muntah. Saking kerasnya, warna muntah anaknya hingga berwarna kekuningan.

Parahnya, saat anaknya menunjukkan gejala keracunan, dirinya sedang bekerja. Namun karena ditelpon, ia pun pulang dan membawa sang anak ke Puskesmas, hingga akhirnya dirujuk ke RS Pratama. “Saya pas kerja. Kok ditelpon, katanya anak keracunan. Makanya langsung dibawa ke Puskesmas dulu” akunya kepada Bali Express (Jawa Pos Group).

Rupanya, tak semua yang mengalami keracunan adalah siswa SDN 3 Pemuteran. Seperti yang dialami balita berusia 4,5 tahun bernama Putu Yasa. Pasalnya Putu Yasa ikut menyantap nasi bungkus yang dibawa sang kakak, Komang Dodi, 13.

Siang itu, Yasa membawa nasi bungkus itu pulang ke rumah untuk disantap bersama sang adik. Hanya saja, Yasa tidak memakan mie gorengnya. Ia hanya memakan nasi dan daging babi. “Adik yang makan mienya semua. Makanya muntah” tuturnya singkat.

Menerima laporan adanya keracunan massal, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Buleleng, Gede Suyasa langsung meluncur ke RS Pratama Tangguwisia untuk menjenguk siswa yang dirawat. Tak hanya itu, Suyasa juga sempat menjenguk siswa yang dirawat di Puskesmas Gerokgak I.

Saat ditemui di RS Pratama, Suyasa menjelaskan dari total 184 orang siswa SDN 3 Pemuteran, hanya 173 orang siswa yang turut menyantap nasi bungkus tersebut. Sedangkan sisanya sebanyak 12 siswa ijin dan tidak masuk sekolah karena beberapa alasan. Hanya saja, yang mengalami keracunan sebanyak 83 orang siswa.

 “Ada tujuh orang yang dirujuk ke RS Pratama karena terus mengalami muntah, ada tujuh orang juga di Puskesmas Gerokgak I, sisanya sudah dibolehkan pulang,” kata Suyasa. 

Atas kasus ini, Suyasa nampak kecewa. Pasalnya peristiwa keracunan massal sudah berulang kali terjadi. Bahkan, pihaknya sudah mengantisipasi dengan membuat surat edaran secara berulang kali. Tak hanya itu, peringatan lisan di setiap rapat untuk memperhatikan kebersihan makanan juga sering disampaikan.

“Berulang kali saya sudah tekankan, guru janganlah jual nasi, karena tidak profesinya disitu. Kasus terulang lagi artinya, kurang perharian pihak sekolah, tidak perhatikan surat edaran, tidak memperhatiakan kesehatan makanan dan tidak pikirkan risiko,” keluhnya.

Dalam waktu dekat, Suyasa mengaku akan segera memanggil pihak sekolah yang bersangkutan. Pihaknya akan berjanji mengevaluasi sekaligus memberkan sanksi yang tepat bagi sekolah karena dinilai lalai.

Perihal biaya pengobatan korban keracunan, Suyasa sudah membuat surat permohonan pembebasan biaya pengobatan kepada Bupati Buleleng. Sehingga seluruh koran bebas dari biaya pengobatan.

Sementara itu Kadiskes Buleleng, dr IG Mahapramana ditemui di rumah sakit mengaku sudah mengambil sampel makanan, minuman dan muntahan korban. Sampel segera diuji di laboratorium.

Pihaknya tak bisa menduga, apa yang menjadi pemicu keracunan massal ini.“Saat ini belum dapat kami pastikan penyebab keracunanya, kalau hasil laboratoriumnya sudah keluar baru bisa diketahui pasti,” singkatnya. 

(bx/dik/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia