Senin, 25 Jun 2018
baliexpress
icon featured
Balinese

Usaba Sumbu, Simbol Ketangguhan dan Kemakmuran di Bungaya

Kamis, 14 Jun 2018 13:01 | editor : I Putu Suyatra

Usaba Sumbu, Simbol Ketangguhan dan Kemakmuran di Bungaya

PANGLINGSIR : Wanita yang tidak menikah yang disebut panglingsir terkini, juga dilibatkan dalam Usaha Sumbu. (DIAH TRITINTYA/BALI EXPRESS)

BALI EXPRESS, AMLAPURA - Desa Adat Bungaya, Karangasem, merupakan salah satu desa tua di Bali. Banyak tradisi menarik digelar, salah satunya adalah Usaba Sumbu yang dilakukan selama tujuh hari, yakni dari  5 -12 Juni 2018.


Desa Adat Bungaya secara teritorial dibagi menjadi dua bagian, yakni  Desa Bungaya dan Desa Bungaya Kangin. Desa adat ini terdiri atas 15 banjar adat dengan jumlah penduduk sebanyak 15.000 jiwa atau 3.021 kepala keluarga. 


Jika dilihat dari sisi historisnya, dalam Babad Dalem tertulis Desa Adat  Bungaya merupakan desa tua yang pernah menjadi pemerintahan Raja Gelgel (Dalem Waturenggong), di mana pada saat pemberontakan Maruti, I Gusti Batan Jeruk telah gugur di Desa Bungaya, di Jungutan atau Penataran pada abad ke-16. Dalam perkembangannya sampai dengan pemerintahan Raja Gelgel Dalem Dimade, telah dikukuhkan I Gusti Alit Ngurah Bungaya keturunan Pangeran Asak (Arya Kepakisan) sebagai Pemacek Desa Bungaya pada abad ke-18. Ini dibuktikan dengan pemberian 40 buah Biring Agung besin (besi)  tumbak dan 40 keris luk Bungaya, serta sawah dan pelaba sebanyak 108 saih (tanpa pipil) untuk biaya upacara (aci) seperti Usaba Dalem, Usaba Aya, Usaba di Pura Puseh, Balai Agung, juga Usaba atau Ngusaba Sumbu.


Dijelaskan Keliang Pura Pajenengan Dadia Pasek Kaler Kangin, Gede Krisna Adiwidana,  Usaba Sumbu merupakan simbolisasi dari rasa syukur atas kemakmuran serta simbol ketangguhan kerajaan Dalem Waturenggong ketika itu. "Hal itu terlihat dari Sumbu yang berbentuk seperti penjor berisi aneka hasil pertanian, jaja serta daging babi dengan daun kelapa dan bunga yang menjuntai. Dan,  Sumbu merupakan simbol sekaligus sarana dalam ritual Usaba Sumbu," terangnya kepada Bali Express ( Jawa Pos Group) di Bunganya, pekan kemarin. Menurutnya, Sumbu penuh dengan filosofi makna dari kehidupan sehari – hari masyarakat Bungaya. “Sumbu itu bagi kami sarat makna. Karena setiap detailnya punya arti tersendiri," ujarnya.


Krisna mencontohkan bunga besar yang ada di sumbu adalah  bunga Sungenge yang merupakan simbolisasi kesuburan pertiwi serta kemakmuran masyarakat.


Selain bunga Sungenge, juga terdapat hiasan lain pada sumbu yang dipasang, yaitu  jaja Gina dan Jalinan Bungsu. “Nah jaja dan Jalinan Bungsu itu merupakan simbolisasi dari matahari. Kami disini sangat mengagungkan Dewa Surya sebagi Dewa tertinggi,” ujar pria yang juga anggota KPU Karangasem ini.


Dijelaskannya,  Sumbu itu merupakan simbol kemakmuran sebuah daerah agraris. Maka, upacara ini menggambarkan kesuburan desa, dan rasa syukur warga atas kesuburan yang  dilimpahkan.


Ritual Usaha Sumbu kemarin melibatkan 125 Daa (sebutan bagi teruni atau gadis yang belum menikah dan melakukan ritual khusus), serta 445 teruna Bungaya, berlangsung lancar. 


Uniknya, pelaksanaan Ngusaba Sumbu dilaksanakan setiap malam hari. “Malam hari bagi kami, lewat dari pukul 6 sore adalah waktu yang sangat baik menghadap Tuhan dan para Dewa, setelah kewajiban bercocok tanam di ladang usai,” ungkapnya.
Dalam Usaba Sumbu, lanjutnya,  ada tradisi pembagian kekelan dan daging babi bagi 31 orang pengurus dan perangkat desa. 
Di Utara Bale Agung terdapat bale jajar kecil yang digunakan tempat menyiapkan banten atau  hidangan untuk sesajen. Dari pantuan Bali Express (Jawa Pos Group),  sejumlah laki – laki terlihat berdesakan membawa sokasi ( besek) yang berisi nasi putih. Para pangempon dan perangkat desa itu mengerubungi seorang kasinoman yang menerima satu persatu besek yang berisi nasi. Nasi tersebut dikumpulkan dalam satu wadah besar sebagai bentuk tradisi gotong royong. 


“Nasi  nantinya akan dibagikan kembali kepada seluruh perangkat desa dan masyarakat. Nah sebagai penggantinya akan diberikan kekelan putih dan merah yang terbuat dari parutan  kelapa dan dicampur darah babi. Selain kekelan, besek  juga akan diisi dengan potongan daging babi, hati serta balung yang akan dibagi rata oleh Kasinoman,” ujar panglingsir serta pangempon Desa Adat Bungaya, De  Mantan Rateng. Dalam mempersiapkan pembagian hidangan tersebut, lanjut De Mantan Rateng, Kasinoman harus melalui berbagai persyaratan dan ritual khusus. “Sebelum Ngusaba Sumbu dimulai, jauh hari sebelumnya, mereka harus melaksanakan ritual khusus, seperti puasa, tidak boleh makan sembarangan. Makanya menjadi seorang Kasinoman cukup sulit dan sakral. Kalau ngawur nyawa bisa jadi taruhannya,” ungkapnya.


Konon ketika memotong Balung Babi bila tidak terbelah dalam sekali hentakan, prosesi Usaba Sumbu dapat dikatakan gagal atau dapat membahayakan Kasinoman yang tengah bertugas. “Usaba Sumbu sangat sakral, segala aktivitas ada sebab dan akibatnya.  Ketika memotong balung, Kasinoman harus berserah dan berdoa, dan jika itu dilanggar biasanya ada saja mala petakanya," bebernya. Dikatakannya, dahulu ada Kasinoma yang melanggar aturan, akhirnya meninggal karena sebab tak jelas.
Selain ritual khusus, lanjutnya, para perangkat Desa Bungaya  diwajibkan tidak menggunakan pakaian selama masa jabatannya. “Mereka tidak boleh menggunakan baju, hanya kain saja dan ikat pinggang khusus. Tak hanya pada acara adat saja, dalam kehidupan sehari – hari pun dilarang keras menggunakan baju. Seperti saya dulu, bertemu Presiden Jokowi ketika pembukaan PKB, saya hanya menggunakan kamen  dan ikat pinggang,” paparnya. 


Bunganya memang berbeda dengan tatanan desa adat lain di Bali.Dalam tatanan kehidupan Desa Adat Bungaya, kultur dan adat-istiadatnya sangat melekat sampai sekarang, di antaranya dapat dilihat dari beberapa faktor, seperti  adanya peninggalan sejarah berupa instumen Selonding, juga Palinggih Ida Batara Bagus Selonding. Dan, hal ini mengingatkan kembali pada zaman kerajaan di  Bali  abad ke-10, pada pemerintahan Sri Wira Dalem Kesari dengan Pamerajan Selondingnya di Besakih.


Selonding di Desa Adat Bungaya bentuknya hampir serupa dengan yang ada di Desa Adat Tenganan, namun fungsi serta nadanya  jauh berbeda. Jika dilihat secara seksama, Selonding di Desa Adat Bungaya memiliki lubang di areal tengahnya untuk memasang perangkat Seloding pada penopangnya. Sedangkan Selonding yang ada di Tenganan tidak memiliki lubang sama sekali.
Selonding di Desa Adat Bungaya hanya dimainkan dalam ritual agung, yakni saat Ngusaba Dangsil.  Pengaruhnya juga orang khusus yang harus melewati ritual khusus juga.

(bx/tya/yes/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia