JawaPos Radar

Bangun 65 Persen Tol Trans Jawa, Dari Mana Jasa Marga Dapat Dananya?

09/08/2018, 17:05 WIB | Editor: Saugi Riyandi
Bangun 65 Persen Tol Trans Jawa, Dari Mana Jasa Marga Dapat Dananya?
Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani (jilbab) saat berbincang dengan media di kantornya, Kamis (8/9) (Uji Sukma/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Pembangunan infrastruktur pada masa pemerintahan Presiden dan Wapres Joko Widodo-Jusuf Kalla, terus digenjot. Adalah pembangunan jalan tol yakni Trans Jawa dan Trans Sumatera yang terus dibangun pemerintah. Pemerintah melibatkan banyak BUMN dalam pembangunan tersebut, salah satunya PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Sepanjang kurang lebih 1.187,59 kilometer atau 1.200 kilometer yang terbentang dari Merak sampai Banyuwangi sebesar 65 persennya digarap oleh Jasa Marga. “Dari Merak sampai Banyuwangi ada 20 Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) sebanyak 13 punya kita, jadi 65 persen milik Jasa Marga,” ujar Direktur Utama Jasa Marga Desi Arryani di Kantornya, Jakarta, Kamis (9/8).

Desi menuturkan tentunya pembangunan ini dilakukan untuk mengejar infrastruktur yang sudah tertinggal dari negara-negara lain. Dengan digenjotnya infrastruktur, tentunya Jasa Marga harus memiliki kreativitas dari segi pendanaan. Apakah lantas pembangunan ini membuat keuangan Jasa Marga jadi terseok-seok?

Desi dengan tegas menjawab tidak. Dia menuturkan, meski Jasa Marga harus keluar uang untuk mendanai proyek baru, namun proyek-proyek tersebut bisa mengontribusikan sumber pendapatan baru untuk perusahaan.

"Otomatis ada pendapatan yang naik juga dengan melihat terlebih dahulu risikonya," jelasnya.

Diperlukan beragam kreativitas untuk membangun proyek baru. Beberapa cara yang dilakukan adalah dengan Reksa Dana Pencatatan Terbatas (RDPT) melakukan sekuritisasi aset yang mature sampai project bond. Desi mengatakan keuntungan dari alternatif pendanaan itu adalah untuk memperkuat anak perusahaan.

Misalnya, melakukan sekuritisasi aset Tol Jagorawi. Jasa Marga menjual pendapatan yang didapat Tol Jagorawi tanpa menghilangkan asetnya dengan nama KIK EBA Mandiri. Jagorawi dipilih lantaran sudah memiliki pendapatan yang stabil dan tetap. Investor bisa menikmati cashflow rutin setiap tahun selama lima tahun sampai jatuh tempo KIK EBA.

"Sekuritisasi, itu untuk aset yang sudah mature. Kalau Trans Jawa nggak mungkin disekuritisasi sebab pembangunannya aja baru. Kalau Jakarta Cikampek area kalau disekuritisasi tentu investor berpikir apakah ada gangguan atau nggak? Nanti takutnya nggak laku, jadi (sekuritisasi Japek) kita mundurkan, kemudian pembiayaan lainnya kita juga ada project bond," pungkasnya.

(ce1/uji/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up