JawaPos Radar

Catatan Tim Ekspedisi Himapala Unesa

Bengawan Solo Berbau Menyengat di Sragen-Ngawi

11/08/2018, 11:03 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Bengawan Solo
Tim Ekspedisi Himapala Unesa saat mengarungi Bengawan Solo dari hulu ke hilir. (Istimewa)
Share this image

JawaPos.com - 10 Mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Pecinta Alam (Himapala) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) mengarungi Sungai Bengawan Solo. Mereka menggunakan satu unit perahu karet dan satu unit perahu rakit berbahan pipa untuk menyusuri sungai sepanjang 498 km. Banyak temuan yang menjadi catatan tim saat mengarungi sungai selama 20 hari.

Titik awal pengarungan dimulai di Bendungan Serbaguna Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), dengan dilepas pihak Perum Jasa Tirta. Kemudian setiap harinya, Tim Himapala Unesa mengarungi sungai sejauh 25 km.

Ketua Tim Pelaksana Ekspedisi Bengawan Solo Syahrul Khoir mengatakan, pihaknya menemukan banyak hal mulai dari hulu hingga wilayah Kabupaten Sukoharjo, Jateng. Antara lain Daerah Aliran Sungai (DAS) dipenuhi batuan padas dan pendangkalan sungai oleh batuan kecil dan tanah yang berjarak kurang dari 1 km di tiap batuan.

Bengawan Solo
Tim Ekspedisi Himapala Unesa saat mengarungi Bengawan Solo dari hulu ke hilir. (Istimewa)

Kondisi tersebut menciptakan riam-riam air yang cukup membuat perahu rakit tidak dapat melaju dengan lancar. Memasuki daerah Surakarta-Karanganyar-Sragen, batuan padas semakin banyak dan menciptakan riam-riam air yang lebih besar. Tak jarang, tim harus mengangkat perahu dan logistik ke darat untuk menghindari kerusakan pada perahu.

Memasuki minggu ketiga, tim melintasi wilayah Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur (Jatim). Di sana, Bengawan Solo memiliki memiliki penampang yang lebih lebar dan cukup dalam. Kendala angin kencang dari arah berlawanan juga cukup menghambat perjalanan.

"Kami mencatat ekosistem sungai dan kebudayaan yang berkembang selama masa pengarungan dari hulu ke hilir. Dari temuan itu, akan menjadi sebuah bahan penelitian," kata Syahrul saat dikonfirmasi, Sabtu (11/8).

Muatan Pengamatan Air dan Analisa Ekososbud Tim Ekspedisi Bengawan Solo Hulu-Hilir mencatat adanya pencemaran sungai sepanjang hulu hingga hilir. Tepatnya mulai daerah Sukoharjo, Jateng, hingga Ngawi, Jatim.

Pencemaran sungai didominasi limbah rumah tangga hingga limbah industri rumahan dan pabrik. Terutama limbah industri tekstil dan limbah bahan kimia.

"Sejak wilayah Sragen hingga Ngawi, warna air sungai hitam pekat disertai bau menyengat. Apabila menyentuh, kulit terasa gatal dan air sungai sudah tidak layak konsumsi. Selain itu, tim juga kerap kali menemui ikan-ikan di sungai munggut (mabuk, red) akibat dari pencemaran limbah industri," terangnya.

Memasuki wilayah Bojonegoro, warna air kembali coklat atau warna normal air sungai sejak pertemuan antara anak Sungai Bengawan Solo di daerah Cepu - Padangan. Namun ditemukan adanya tumpahan minyak di aliran sungai yang diperkirakan berasal dari penambang pasir yang mendominasi sejak daerah Margomulyo hingga kawasan Kalitidu, Bojonegoro.

Daerah Aliran Sungai memberi pengaruh besar terhadap warga sekitar bantaran Bengawan Solo. Melalui analisa tim, terbukti di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo masih menjadi sumber air induk untuk irigasi persawahan. Sekaligus masih menjadi sumber air alami untuk warga di sekitaran Margomulyo.

Tambang pasir masih menjadi pencaharian utama bagi warga di sekitaran Sragen dan Bojonegoro. Namun perbedaan jelas terlihat antara keduanya. Penambang di daerah Sragen masih menggunakan alat manual. Sedangkan di kawasan Bojonegoro sudah menggunakan mesin sedot untuk menambang pasir dari dasar sungai.

"Disamping mata pencaharian sebagai pencari ikan dan penambang pasir, warga bantaran sungai juga memiliki struktur budaya masing-masing di setiap daerah. Serta masih ada sumber potensi pariwisata di DAS Bengawan Solo," paparnya.

Berikut pencemaran Bengawan Solo di Kota/Kabupaten:

1. Sukoharjo, Surakarta
Pencemaran bahan pewarna kain, limbah rumah tangga, bau fermentasi, warna air keruh. Limbah industri tekstil kain pantai, industri ciu, limbah warga bantaran sungai.

2. Karanganyar, Sragen
Warna air hitam pekat, bau menyengat, terasa gatal di kulit, ikan-ikan munggut. Limbah industri sepanjang daerah Palur, Karangnyar hingga kawasan Sragen.

3. Ngawi
Warna air hitam pekat, bau menyengat, terasa gatal di kulit, ikan-ikan munggut. Aliran limbah dari kawasan Jawa Tengah.

4. Bojonegoro
Terlihat tumpahan minyak, air didominasi warna coklat kehijauan, berwarna keruh. Tumpahan oli pelumas mesin penambang pasir.

(yud/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up