JawaPos Radar

Menjaga Akal Sehat dalam Pilpres

Oleh A. HELMY FAISHAL ZAINI, Sekjen PBNU

09/08/2018, 14:05 WIB | Editor: Ilham Safutra
Menjaga Akal Sehat dalam Pilpres
Pilpres 2019 (Kokoh Praba/JawaPos.com)
Share this image

JawaPos.com - Tugas manusia yang paling luhur di muka bumi ini adalah menjadi khalifah. Khalifah adalah titah agung yang diberikan Allah kepada manusia agar mampu mengelola, me-manage, dan mengatur kehidupan dengan sebaik-baiknya. Wahana untuk memanifestasikan titah Tuhan, yakni menjadi pengatur (khalifah) dalam konteks berbangsa dan bernegara, salah satunya bisa dicapai melalui ranah politik.

Sebagai zoon politicon, manusia adalah makhluk yang bersiasat dan berpolitik, bahkan ketika ia memutuskan untuk tidak berpolitik sekalipun. Demikian pernyataan Plato dalam The Republic. Artinya, politik adalah "naluri". Setiap manusia punya naluri untuk bersiasat, dalam konteks inilah definisi politik paling dasar bisa dipahami.

Pertanyaannya, politik yang bagaimana yang bisa diusahakan dalam rangka menunaikan titah Allah? Tentu saja politik yang menjunjung kemanusiaan, bahkan dalam konteks yang lebih fundamental, politik yang menebarkan kasih sayang dan rahmat kepada sekalian. Dalam bahasa agama disebut sebagai rahmatan lil 'alamin. Yakni, bagaimana menyebarkan nilai-nilai kasih sayang kepada siapa pun.

Menjaga Akal Sehat dalam Pilpres
Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini (Dery Ridwansyah/JawaPos.com)

Dalam pandangan saya, politik rahmatan lil 'alamin yang tidak lepas dari akar kesadaran platonik yang menyebut manusia sebagai zoon politicon sebagaimana saya ungkapkan di atas. Manusia selalu berpolitik, kata Plato, bahkan keputusannya untuk tidak berpolitik pun sesungguhnya merupakan tindakan politik. Karena itu, politik adalah hal yang penting dalam sejarah hidup manusia, apalagi dalam kaitannya berbangsa dan bernegara.

Pandangan politik rahmatan lil 'alamin, akarnya menghunjam atas dasar kemanusiaan, kecintaan terhadap bangsa dan negara, nasionalisme, kasih sayang, dan nilai-nilai luhur lainnya. Sementara manifestasinya berupa daun-daun keteduhan dalam wujud kebijaksanaan dan kebijakan-kebijakan yang pro dan sesuai dengan daulat kemanusiaan. Dalam sebuah kesempatan, Gus Dur pernah mengatakan bahwa yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan. Artinya, politik rahmatan lil 'alamin adalah politik yang ber-framework dan berbingkai cita-cita meluhurkan kemanusiaan.

Pola pendekatan serta pemilihan asas berpolitik itu sungguh sangat penting. Sebab, pada titik itulah sesungguhnya partai politik hari ini banyak tergelincir dan masuk ke kubangan pragmatisme berpolitik. Pragmatisme berpolitik tersebut, misalnya, ditempuh dengan cara menjadikan kekuasaan sebagai tujuan absolut dan harus didekati secara Machiavellian.

Pragmatisme dalam memandang kekuasaan tersebut dalam catatan saya haruslah dihindari. Bukan berarti tidak penting, tapi skala prioritasnya jauh di bawah misi politik yang menempatkan kemanusiaan dan akal sehat sebagai supremasi. Dalam pandangan saya, kekuasaan diartikan tidak hanya sebatas menguasai pemerintahan, tapi lebih dari itu. Kekuasaan adalah sebagaimana yang dikatakan Max Weber (2003) power as the probability that the one actor within social relationship will be in a position to carry out his own will despite resistance. Artinya, wilayah kekuasaan sangatlah luas, yang melibatkan hampir seluruh lapisan sosial, bukan soal pemerintahan belaka.

Akal Sehat

Masih sangat segar dalam ingatan kita ketika dengan sangat berapi-api sang proklamator sekaligus Presiden Pertama RI Ir Soekarno pernah mengatakan "beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia". Bagi siapa pun yang mengenal Bung Karno, ia akan paham bahwa betapa pun kalimat tersebut bukan saja berhenti hanya sebatas retorika. Namun, lebih dari itu, kalimat tersebut adalah spirit dan alarm bagi siapa saja bahwa peran pemuda adalah vital dalam rangka membangun sebuah negara.

Pemuda yang dimaksud Bung Karno di atas bukan pemuda yang diukur menggunakan skala usia fisik, tapi pemuda yang dimaksud adalah usia gairah dan pemikiran. Orang boleh berusia tua, tapi jiwa dan gairah serta semangat harus tetap muda. Demikianlah kira-kira yang dimaksud Bung Karno.

Pada awal-awal proklamasi dan perjuangan kemerdekaan riuh rendah, perjuangan diisi dan disesaki oleh barisan-barisan wajah anak muda, baik secara usia, lebih-lebih secara pemikiran. Nama-nama seperti Soekarno, Sjahrir, Hatta, Tan Malaka, KH Wahid Hasyim adalah pemuda-pemuda yang baru menapaki usia 40 tahun. Usia yang tergolong masih sangat muda. Namun, justru gairah mudanya itulah yang terbukti berhasil merebut kemerdekaan republik ini. Ringkasnya, sejarah kemerdekaan negara ini adalah sejarah pemudanya.

Dalam film Guru Bangsa: Tjokroaminoto digambarkan dengan sangat jelas bahwa betapa anak-anak murid Pak Tjokro yang juga merupakan anak-anak muda yang indekos di rumahnya di Jalan Paneleh, Surabaya, adalah mereka yang usianya masih sangat belia. Anak-anak itu, antara lain, bernama Semaun, Darsono, dan Soekarno. Setidaknya tiga nama anak muda itulah yang menghiasi peta perjuangan kemerdekaan dan pergerakan pada awal-awal berdirinya Republik Indonesia.

Dalam konteks ini, mengapa Bung Karno memilih pemuda? Karena dengan pemuda, semangat perjuangan, gairah untuk maju meraih cita-cita yang gilang gemilang akan mudah dicapai. Tentu saja pemuda yang dimaksud adalah mereka yang juga memiliki prasarat moralitas yang tinggi.

Moralitas politik yang tinggi yang dimaskud adalah etika politik yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat dan kepentingan bersama. Hal ini sangat penting dan menemui titik urgensinya saat ini mengingat hari ini kita sedang mengalami tarik ulur kepentingan golongan dan segelintir orang dengan kepentingan rakyat.

Penting untuk kembali mengingat bahwa momentum pilpres adalah momentum untuk memilih pemimpin bangsa. Hati yang jernih dan akal yang sehat harus menjadi gatra penuntun untuk menjalani proses ini. Dengan demikian, cita-cita menuju negara adil makmur baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur bisa dicapai. Semoga. Wallahu a'lam bis-sawab. 

(*/c10/tom)

Alur Cerita Berita

Menjaga Akal Sehat dalam Pilpres 09/08/2018, 14:05 WIB
Lihat semua

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up