Sabtu, 23 Jun 2018
radarbali
icon featured
Hukum & Kriminal

Terungkap! Jadi Bos Geng Motor, Ain dan Ari Jadi Algojo Pria Sumba

Minggu, 14 Jan 2018 16:15 | editor : ali mustofa

geng motor, penikam pria sumba, polsek denbar, polresta denpasar

BRUTAL: Anggota geng motor penikam pria Sumba ditunjukkan ke media kemarin (Kadek Surya Kencana/Radar Bali)

DENPASAR - Bertubuh kurus dan memiliki tinggi rata-rata 140 tak membuat para bocah-bocah ini bertindak layaknya anak-anak seusianya.

Ain, 16; Ari, 16; Moh, 15; Feb, 17; Yud, 14; Dan, 17, dan Say alias Cod, 15, justru kerap bertindak brutal ketika aksinya dihalangi korban.

Mereka tidak takut menggeluti dunia kejahatan. Mereka justru sangat berpengalaman dalam dunia kriminal yang biasanya dilakukan orang dewasa.

Siapa yang menjadi bos, dan siapa yang menusuk dan menebas Darius Taba Kababa, 32, hingga tewas, Rabu (8/1) dini hari lalu?

Ain dan  Ari langsung mengacungkan tangan bersama-sama. “Kami berdua yang menjadi ketua. Saya menusuk korban, dan teman saya ini yang menebas,” jelas Ain dengan nada tegas.

Mereka mengatakan bahwa sajam yang dibawa milik teman yang didapat dari teman mereka lagi (orang ke empat pemegang sajam, red).

Disinggung mengenai dari mana mereka saling kenal dan sejak kapan membentuk geng motor, Kanitreskrim Iptu Aan Saputra masih melakukan penyelidikan.

Yang pasti, para pelaku semuanya anak putus sekolah. Mereka berasal dari keluarga sederhana. “Usia-usia se - mereka ini lagi mencari identitas, lagi mencari jati diri. Mereka pun hidup di jalanan,” bebernya.

Mereka mulai berkenalan ketika sama-sama menonton balapan liar beberapa tahun lalu. Dari sana mereka saling tukar nomor.

Mereka lalu bertemu dan mengadakan pesta miras di Jalan Pidada dan Terminal Ubung. “Tahu sendiri, ABG kan sudah mabuk akhirnya unjuk jago

di jalanan dan berujung ke begal. Karena keenakan begal dan hasilnya foya-foya, akhirnya mereka ditangkap,” tutur Iptu Aan.

Kapolresta Denpasar Kombes Hadi Purnomo mengimbau kepada para orangtua untuk memperhatikan anak-anaknya agar tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

“Mungkin karena faktor lingkungan dan mencari jati diri sehingga jadilah seperti ini. Kami harap orang tua bisa menjaga dan memperhatikan anak-anaknya dengan baik. Jangan sampai anak putus sekolah,” paparnya. 

(rb/dre/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia