Minggu, 27 May 2018
radarbali
icon featured
Dwipa
Wabup Sedana Arta Ngresigana

Ingin Jadikan Objek Wisata Spiritual

Selasa, 16 Jan 2018 22:26 | editor : ali mustofa

ritual persembahyangan, pura petirtaan

BISA JADI IKON PARIWISATA: Wakil Bupati Bangli Sanga Nyoman Sedana Arta bersama Muspida di sela ritual Ngresigana di Pura Petirtaan Taman Campuhan Sala, Selasa kemarin (16/1). (Istimewa)

RadarBali.com – Wakil Bupati (Wabup) Bangli Sanga Nyoman Sedana Arta, Muspika Kecamatan Susut, PHDI, Perwakilan DPRD Dewa Gede Oka dan perwakilan dari OPD, mengikuti ritual Ngresigana di Pura Petirtaan Taman Campuhan Sala, Selasa kemarin (16/1).

Menariknya, kawasan ini didorong jadi objek wisata spiritual.

’’Upacara ini dalam upaya menjaga dan melestarikan peninggalan leluhur dan meningkatkan kualitas spiritual dalam kehidupan beragama dan berbudaya.

Sekaligus sebagai prosesi akhir setelah melakukan renovasi besar besaran,’’ papar Wabup Bangli Sanga Nyoman Sedana arta dalam rilisnya ke Jawa Pos Radar Bali, kemarin.

Semedangkan, Bendesa Adat Desa Sala Bapak Kayana menyampaikan, Pura Petirtaan Taman Campuhan merupakan pura kuno yang merupakan peninggalan leluhur.

 Keberadaan pura sendiri awalnya adalah berada di bagian bawah. Namun karena seringnya terkena longsor dari tebing di sekitarnya, akhirnya dilakukan pemugaran dan renovasi. Sehingga keberadaanya seperti saat ini.

Pura Petirtaan ini dikelola masyarakat Desa Adat Sala. Merupakan tempat pesucian para Dewa dan sekaligus merupakan tempat pemelastian bagi masyarakat Sala dan sekitarnya.

’’Pelaksanaan Upacara Ngresigana yang terselenggara saat ini merupakan hasil dari swadaya masyarakat desa Sala dan sekitarnya. Ditambah aturan punia dari para pemedek atau pengunjung yang melakukan penglukatan,’’ jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, prosesi penglukatan dimulai dari pesembahyangan.

Yang mana, para pengunjung harus melakukan piuning/ mohon izin sebelum mandi di lokasi dengan sarana pejati oleh pemangku di pura ini.

Prosesinya, pertama pengunjung harus mandi di pusat campuhan/pertemuan air dari berbagai penjuru mata angin.

Berikutnya mandi di air gerojogan (air terjun) yang dikenal dengan nama Pasraman Tanhana. Dilanjutkan dengan mandi di air terjun Dedari.

Usai melakukan pemandian barulah masuk ke areal jeroan penglukatan dengan Tirta Bolakan, Tirta Taman, Tirta Bungbung, Tirta Pandan, Tirta Tulak Wali, dan terakhir adalah Tirta Utama yang keluar dari sumber mata air yang berasal dari goa di sebelah pura.

Prosesi terakhir adalah sembayang di areal utama pura. Saat itulah, mereka memohon petunjuk sesuai dengan persoalan yang dihadapi masing-masing.

’’Kami selaku pengelola berharap kesucian dari warisan leluhur ini bisa terus terjaga dan bermanfaat bagi masyarakat setempat dan masyarakat umum lainnya. Bukan hanya untuk pengobatan saja, tetapi bisa berkembang menjadi wisata spiritual,” kata Kayana.

Wabup Sanga Nyoman Sedana Arta menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Sala yang telah melakukan pelestarian budaya yang menjadi warisan leluhur.

 Sekaligus memberi terobosan bagi masyarakat. Bukan hanya sebagai sarana pengobatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat dan sekitarnya mampu membersihkan diri dari hal-hal negatif dengan melakukan penglukatan.

Katanya, hal ini merupakan terobosan positif dan hal itu ternyata bisa berkembang menjadi sebuah daya tarik tersendiri.

 Para pengunjung yang datang ke Taman Tirta Campuhan Sala bukan hanya untuk melakukan pembersihan diri saja, tetapi sekaligus untuk berwisata spiritual.

Oleh karena itu ke depan langkah langkah konkrit harus dilakukan kaitannya dengan pengelolaan. Baik itu lingkungan yang harus terus dijaga kebersihanya dan sumber dayanya juga harus dikelola dengan lebih baik.

’’Pemerintah (Pemkab Bangli, Red) akan selalu memberikan dukungan. Sehingga Taman Tirta Campuhan yang ada di Desa Adat Sala dapat memberi dampak positif untuk masyarakat setempat dan sekitarnya menjadi kawasan wisata spiritual,” harap Sedana Arta. (djo)

(rb/tir/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia