Selasa, 19 Jun 2018
radarbali
icon featured
Features
Lolos dari Lubang Aorta Dissection (12)

Pengukur Suhu, Alat Wajib Baru

Selasa, 20 Feb 2018 10:15 | editor : ali mustofa

dahlan iskan, aorta dissection, catatan kaki

Dahlan Iskan dan Ibu Dahlan Iskan (Istimewa)

Oleh Dahlan Iskan



Hasil lab yang mengindikasikan muncul tidaknya kanker di tubuh saya selesai tepat di malam tahun baru Imlek: Negatif! Alhamdulillah. Allahu Akbar. Saya seperti dapat angpao setebal bantal!

Salah satu penanda tumor saya, AFP, hasilnya 2,7. Ini jauh di bawah pertanda munculnya tumor (15). Penanda kanker lainnya, CEA, menunjukkan angka 2,1. Itu bagus. Jauh dari batas 5. Penanda munculnya tumor lainnya, CA19-9, juga bagus. Hanya 12. Jauh dari 37. PSA saya juga ok: 8,31. Bukan di bawah 4.

Penanda lainnya, FT3, FT4 dan TSHs semua baik. Tidak menunjukkan tanda-tanda munculnya bahaya. Sedang ANA-profile juga tidak ada angka yang mencurigakan. Saya pun tenang.

Tidak sia-sia doa dari berbagai kelompok pengajian. Juga dari teman-teman gereja. Dari teman-teman Budha, yang doanya selama tiga jam penuh mulai saya masuk ruang operasi sampai masuk ICU.

Tapi mengapa berat badan saya turun terus? Ini akan saya analisa lebih lanjut. Secara terpisah. Apakah ada hubungannya dengan pola hidup baru saya?

Sudah lebih lima tahun saya menempuh hidup sehat. Di samping berolahraga rutin, makanan pun saya jaga. Saya sudah terbiasa tidak minum yang ada gulanya.

Hanya air putih. Tidak makan kue yang manis.

Mengurangi makan nasi. Tidak minum dari minuman botol atau kaleng. Menghindari bumbu masak. Menjauhi pengawet makanan. Intinya: perang total melawan gula.

Saya tidak mengidap sakit gula tapi saya harus jaga diri. Juga harus solider dengan istri yang terkena sakit gula. Saya ingin jadi contoh untuk istri saya: ini lho yang tidak sakit gula saja diet keras.

Kebiasaan itu terbawa sehari-hari. Sampai sekarang. Di saat mestinya saya harus menaikkan berat badan, saya tidak bisa berubah.

Mulut sudah terlanjur tidak bisa menerima makanan atau minuman yang manis. Lidah terlanjur menolak makanan yang berminyak.

Selera makan terlanjur berubah.

Kalau sudah tidak pernah minum manis, air putih pun terasa manis. Kalau terbiasa minum manis, mula-mula gula satu sendok sudah manis. Lama-lama dua sendok baru terasa manis. Setelah itu tiga sendok baru dibilang manis.

Saya belum tahu harus bagaimana sekarang. Mungkin harus mulai memaksakan diri untuk mulai olahraga rutin.

Meski semua indikasi penanda tumor negatif, saya belum lapor dokter Benjamin. Takut ditegur kok belum waktunya sudah melakukan test sendiri.

Tapi saya pasti akan melaporkannya. Saya melihat ada beberapa indikasi lain yang belum baik. Di dalam hasil lab itu terbaca CRP saya masih 49. Ini pertanda masih ada sedikit infeksi di dalam tubuh saya.

Itulah sebabnya air liur saya masih pahit. Selere makan masih belum bisa pulih. Temperatur badan saya juga masih sekitar 37,3 sampai 37,6 celsius. Tiga kali sehari saya mengukur suhu badan. Belum pernah di level 36 derajat celsius.

CRP yang 49 itu masih sama dengan keadaan saya bulan lalu. Saya heran. Kok tidak turun-turun ya?

Targetnya harus bisa mencapai 15. Masih jauh.

Agar tidak ada lagi indikasi terjadi infeksi di dalam tubuh. Apakah pecahnya aorta saya di Madinah akhir Desember lalu itu begitu parahnya? Begitu panjangnya? Sampai sudah hampir dua bulan masih 49?

Dengan CRP di angka itu saya memang tidak lagi diberi obat antibiotik. Dokter memilih menyerahkannya ke mekanisme penyembuhan oleh tubuh sendiri.

Beda dengan ketika CRP saya masih 170. Yakni setelah terjadinya peristiwa aorta dissection di Madinah itu. Atau sesaat setelah dilakukan operasi aorta.

Maka begitu tiba di Singapura saya digelontor antibiotik. Setelah operasi pun terus dihantam antibiotik. Terutama melalui mekanisme infus.

Bahwa tanpa minum antibiotik suhu badan saya masih di kisaran 37,5 derajat dan CRP saya juga belum mau turun dari 49 yang penting tidak naik lagi.

Mungkin memang diperlukan waktu yang lebih panjang untuk menormalkan kerusakan saluran darah utama saya yang begitu panjang.

Kini ke mana-mana saya bawa pengukur suhu badan. Toh sudah ada yang modern. Seukuran alat cukur jenggot. Tinggal tembakkan sinar ke arah kening. Bisa saya lakukan sendiri. Hanya baterainya cepat habis.

Cucu-cucu saya sering menjadikannya mainan tembak-tembakan sinar.

Banyak yang bertanya apakah stent yang dipasang di pembuluh darah saya itu perlu perawatan? Bisa dicopot? Untuk dibersihkan, misalnya?

Jawabnya: tidak. Rangkaian stent itu permanen menyatu dengan dinding saluran darah. Karena itu bahannya dipilih yang cocok untuk itu.

Tentu stent yang dirangkai menjadi seperti selang sepanjang setengah meter tersebut tetap dianggap benda asing. Yang tidak boleh dimasukkan tubuh. Yang harus ditolak oleh sistem tubuh.

Tapi saya kan sudah punya benda asing lainnya di tubuh saya. Sejak 10 atau 11 tahun lalu. Yakni hati baru saya yang aslinya hati milik pemuda Tianjin yang meninggal mendadak.

Setiap hari saya minum obat untuk “memaksa” tubuh saya mau menerima benda asing itu. Jadi obat tersebut sekalian untuk benda asing baru yang berupa selang rangkaian stent ini.

Memang tidak perlu ada pemeliharaan untuk rangkaian stent itu. Tapi juga tidak boleh sembrono. Misalnya: saya harus disiplin minum obat pengencer darah.

Mula-mula saya menolak minum obat ini. Darah saya menjadi sangat encer. Setiap waktu selesai pengambilan darah perlu menunggu lama. Darah masih keluar terus dari bekas jarum.

Perawat tidak bisa segera menempelkan kapas dan membalutnya dengan plester.

Tapi dokter Benjamin Chua memberi penjelasan bagus. Begini: kalau darah saya terlalu kental, apalagi kalau banyak kolesterolnya, dikhawatirkan ada lemak yang menempel ke salah satu stent itu.

Lemak itu, atau apa pun yang bisa menempel, lantas mengeras. Suatu saat benda kecil yang sudah mengeras itu bisa lepas dari stent. Ikut darah. Beredar ke seluruh tubuh.

Lewat jantung. Atau otak. Lalu menyumbat di situ. Kalau menyumbatnya di jantung bisa mati. Kalau nyangkutnya di otak bisa stroke.

Wah....ini serius. Bukan sekedar pengencer darah untuk meringankan beban jantung.

Sejak ada penjelasan seperti itu saya tawakkal: ada satu obat lagi yang harus secara disiplin saya minum setiap hari.

Hanya saja saya berpesan pada istri: jangan pernah benturkan kepala saya ke tembok.

Penjelasan ini berlaku juga untuk orang yang di jantungnya sudah dipasangi stent. Atau orang awam menyebutnya dipasangi ring. Istri mereka juga tidak boleh membenturkan kepala suami ke tembok.

Mereka juga harus minum obat pengencer darah. Takut ada lemak yang menempel di ring itu. Mengeras. Dan lepas.

Itulah sebabnya orang yang sudah dipasangi ring harus jaga makanan. Jangan yang berlemak.

Saya lebih berat dari itu. Orang pasang ring di jantungnya biasanya hanya satu atau dua. Atau paling banyak lima. Atau berapalah.

Sedang ring yang dipasang di saluran darah utama saya ini jumlahnya 570! Dirangkai menjadi seperti selang dengan diameter hampir 4 cm.

Dengan demikian kemungkinan ada benda yang menempel di salah satunya tentu 570 kali lebih banyak dari yang hanya pasang satu ring.

(rb/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia