Sabtu, 23 Jun 2018
radarbali
icon featured
Features
Warung Makan Sambal Bejek yang Merakyat

Jadi Langgaran Rakyat Jelata Hingga Pejabat, Layani Online via Gojek

Kamis, 22 Feb 2018 20:15 | editor : ali mustofa

warung makan, sambal bejek, kuliner tradisional, kuliner bali

: Pak Win saat melayani pelanggannya dengan menu andalan sambal bejek di warung makannya di Banjar Gunung Siku, Desa Belayu, Marga, Tabanan. (Juliadi/Radar Bali)

Warung makan sambal bejek yang terletak di Banjar Gunung Siku, Desa Belayu, Marga, Tabanan tidak pernah sepi pelanggan. Penikmat kuliner dari beragam kelas begitu menikmati setiap makan di Warung Makan Sambal Bejek.


JULIADI,
Tabanan

BUTUH waktu 15 menit untuk berkunjung ke Warung Makan Sambal Bejek dar pusat kota Tabanan. Warung ini lokasinya berada dipinggir Jalan Raya Belayu, Marga, Tabanan.

Warung ini mulai buka pukul 09.00 pagi hingga pukul 13.00. Aroma sambal bejek menyengat seperti berasa dilidah ketika pertama kali menginjak kaki ke warung tersebut.

Pelanggan tampak antri menunggu giliran makanan yang dipesan. Pemilik warung I Nyoman Winten
beserta ke empat karyawan terlihat sibuk menyiapkan makanan..
“Sebentar dulu ya, ngobrolnya masih banyak pelanggan ni,” katanya kepada wartawan Jawa Pos Radar Bali sembari memberikan makanan kepada pelanggan.
Menurut pria berusia 47 tahun ini, warung miliknya berdiri sejak tahun 1978. Dia adalah generasi kedua yang meneruskan usaha warung makan ibunya.

Warung makan ini dulunya dikelola oleh Ibu. Karena usia sudah lanjut sehingga dia yang melanjutkan.
“Sehari 200 sampai 300 porsi nasi sambel bejek laku terjual 200 piring belum lagi pesanan yang dibungkus. Jika dirata-rata perhari omset yang kami dihasilkan Rp 4 juta sampai Rp 5 Juta,” katanya.
Menurut pria yang akrab disapa Pak Win, menu utama dari sambal bejek yakni bunga kecombrang atau sering disebut bunga honje yang dalam bahasa bali (bunga bongkot).

Bunga ini biasanya dijadikan bahan campuran atau bumbu penyedap makanan. Kemudian bumbu lainnya seperti minyak kelapa tandusan, bawang merah, cabe, kecambah, sayur hijau yakni sawi, dan daging ayam.
Per hari untuk bahan seperti cabe menghabiskan 2 kg, bawang merah 6 kg, daging ayam 15 kg, bunga kecombrang 100 sampai 150 biji, kecambah dan sayur hijau 7 sampai 8 kg.

“Khusus untuk pengolahan makanan tidak boleh sembarang orang yang mengolah apalagi yang membuat sambal bejek. Beda tangan yang membuat maka beda rasanya,” imbuhnya.
Pak Win menambahkan satu porsi nasi sambal bejek yang harga lumayan murah berkisar antar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.

Pelanggan mulai dari kalangan rakyat biasa hingga para pejabat daerah yang ada di pemerintah Tabanan. Bahkan wisatawan sering singgah kemari. Termasuk juga langganan tetap Bupati Tabanan.
“Kami juga menerima pemesanan nasi sambel melalui jasa antar via aplikasi Gojek online. Mau tidak mau harus mengikuti perkembangan zaman. Agar pelanggan tetap dan baru terus terlayani meski tidak harus ke warung kami,” tandasnya.
Pak Win juga mengakui jika saat ini persaingan warung dan rumah makan semakin ketat. Namun warungnya tetap eksis dan diburu para pencinta kuliner.
“Yang membedakan kami dengan warung dan warung makan pada menu utama dengan kekhasan sambal bejek,” ungkapnya.
Yang menarik, jika tak ada aral melintang, Pak Win bakal menerima tamu kehormatan. Orang nomor satu di republik ini dijadwalkan makan siang di warungnya.

Kebetulan, Jumat (23/2) besok Presiden Joko Widodo bakal ada di Tabanan untuk acara penyerahan sertifikat tanah kepada masyarakat Tabanan di Taman Pujuan Bangsa Margarana Tabanan.

Warungnya pun kebagian orderan nasi. Sebanyak 200 bungkus nasi kotak dengan menu sambal bejek dipesan bagi para tamu undangan yang hadir nantinya.
“Kami berharap juga jika Presiden RI berkenan singgah ke warung kami. Karena ini warung satu-satu di Bali yang masih tradisional dengan menu utama sambal bejek asli Bali,” tandsanya.
Salah satu pelanggan nasi sambel bejek Agung Yuliana, 57, mengatakan dirinya sudah menjadi langganan tetap pencinta nasi sambal bejek. Hampir 25 tahun lebih menikmati makanan ini. Rasa beda di sambal dan bumbu. Lebih berasa ketika dinikmati lidah.
“Di warung ini tidak pernah sepi pengunjung. Ya hampir setiap hari kami makan disini bersama kawan lainya,” ungkap pria yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil di salah satu instansi pemerintahan di
Kabupaten Tabanan.

(rb/jul/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia