Selasa, 19 Jun 2018
radarbali
icon featured
Dwipa

Ngeri, Dinyatakan Meninggal, Almarhum Notri Mendadak Hidup Lagi

Selasa, 13 Mar 2018 21:16 | editor : ali mustofa

mati suri, notri hidup lagi, desa adat pau, pura pajenengan sakti

MOHON PETUNJUK: Sejumlah warga berkumpul di Pura Pajenengan Sakti, Desa Adat Pau, Selasa (13/2) sore (Dewa Ayu Pitri Arisanti/Radar Bali)

SEMARAPURA - Warga Desa Adat Pau, Desa Tihingan, Kecamatan Banjarangkan, Klungkung digegerkan dengan peristiwa mati suri yang dialami salah seorang warganya bernama Ni Wayan Norti, 37.

Tidak sampai di sana. Setelah kembali hidup dari mati suri, Norti mendadak mengalami trance (kerauhan) dan meminta untuk dibawa ke Pura Pajenengan Sakti, Desa Adat Pau.

Kepala Dusun Pau Jro Mangku Wayan Ardana Ariasa mengungkapkan, pada saat itu Norti dan suaminya, I Nyoman Sutiasa sedang berada di kosnya yang berada di wilayah Denpasar.

Sekitar pukul 09.30, pihaknya mendapat telepon dari Sutiasa yang mengungkapkan Norti meninggal dunia di rumah.

“Katanya Norti ini krok-krok dan kemudian meninggal. Kemudian ada keluarga yang telepon Sutiasa agar dititipkan di rumah sakit karena masih ada upacara di desa,” terangnya.

Namun saran itu ditolak olah Sutiasa yang kemudian tetap membawa Norti pulang ke Desa Adat Pau dengan menggunakan mobil.

Akhirnya sejumlah warga berjaga di sejumlah ruas jalan untuk menasihati Sutiasa. “Ada yang berjaga di pertigaan Banda dan perempatan Takmung.

Dan, di pertigaan Banda berhasil dicegat tetapi Sutiasa tetap bersikeras untuk dibawa pulang. Jadi, kami biarkan,” katanya.

Setibanya di gang rumahnya sekitar pukul 13.00, Norti saat hendak digotong tiba-tiba bergerak sehingga sempat membuat kaget.

Meski begitu, Norti tetap digotong dan dibawa masuk ke rumah dan dibaringkan. “Saya sempat memegang tangannya. Bagian lengannya hangat, tapi di telapak tangannya dingin,” ujar Ariasa.

Karena khawatir dengan kondisi Norti, pihak keluarga akhirnya berinisiatif menghubungi petugas medis Puskesmas Banjarangkan II.

“Karena sudah kerauhan, saya minta izin, apakah boleh diperiksa dokter atau tidak. Ternyata tidak dikasih,” jelasnya.

Norti yang dalam kondisi trance, akhirnya meminta agar dibawa ke Pura Pajenengan Sakti, Desa Adat Pau.

Salah seorang warga juga mengalami trance. Jadi, ada dua orang mengalami trance hampir bersamaan.

Dalam peristiwa trance itu, Norti harus melakukan pensucian diri dengan melakukan Upacara Pawintenan.

Lalu dilanjutkan dengan prosesi Dwi Jati atau prosesi menjadi Pendeta. “Pawintenannya rencananya saat Purnama Kedasa.

Untuk prosesi Mediksanya pihak keluarga sudah menyanggupi. Dan nanti diminta untuk membuat griya di Subak Enjung. Dan dia punya tanah di sana sekitar 22 are,” imbuhnya.

Sebenarnya, Senin (12/3) lalu, Norti sudah mengalami trance saat mengikuti upacara Melasti dari Desa Pakraman Pau menuju Pantai Watu Klotok, Desa Tojan, Klungkung.

Setelah selesai Melasti pada sore hari, Norti diajak sang suami menuju tempat tinggalnya di Denpasar. Sementara kedua anaknya berada di Desa Adat Pau.

 “Sehari-hari memang tinggal di Pau. Suaminya kerja jadi guide freelance di Denpasar. Biasanya kosnya di Denpasar hanya sebagai tempat persinggahan sementara,” tandasnya.

Hingga pukul 16.00 masih mengalami trance dan berada di Pura Pajenengan Sakti. Saat trance tersebut, Norti sempat membuat warga heboh

karena berlari di tengah jalan raya untuk menjemput ke kedua anaknya ke rumahnya dan dibawanya ke Pura Pajenengan Sakti. 

(rb/ayu/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia