Sabtu, 26 May 2018
radarbali
icon featured
Hukum & Kriminal

Kenapa Harus Takut dengan Wanita Bercadar?

Rabu, 16 May 2018 11:42 | editor : ali mustofa

teror bom, bom surabaya, wanita bercadar

Ilustrasi (dok.pojoksatu)

DENPASAR – Hari-hari ini masyarakat Indonesia dihantui teror bom. Dalam sepekan terakhir, empat kejadian berlangsung dalam waktu yang berdekatan.

Setelah bom menguncang tiga gereja di Surabaya Minggu (13/5) lalu, kurang dari 10 jam, muncul bom susulan di sebuah rusunawa di Sepanjang, Sidoarjo.

Senin (14/5) pagi giliran teroris meneror Mapolresta Surabaya. Terakhir, Rabu (16/5) pagi tadi. Mapolda Riau diserang sekelompok teroris.

Dari serangkaian teror itu, pengeboman tiga gereja yang paling dramatis. Hal ini tidak lepas dari aksi biadab teroris yang memakai simbol agama dalam aksinya.

Salah satu pelaku menggunakan cadar. Sebelumnya dua orang perempuan juga diamankan saat hendak meneror Mako Brimob Kelapa Dua.

Efeknya luar biasa. Dua perempuan bercadar di Bali sempat diinterograsi kepolisian Senin (14/5) lalu saat diketahui berkeliaraan, salah satunya di dekat Mapolda Bali.

Kenapa wanita bercadar harus ditakuti? Dikutip dari berbagai literatur, cadar adalah kain penutup kepala atau muka (bagi perempuan).

Fungsi cadar adalah untuk menutupi kecantikan wajah sehingga tidak kelihatan menggoda. Maka tidak tepat jika memakai cadar namun sisa wajah yang tidak tertutup cadar kelihatan menggoda.

Apalagi sengaja dirias/dihias sehingga menarik perhatian lelaki. Memakai cadar memang tidak wajib menurut sebagian ulama salaf.

Namun, sangat dianjurkan. Terutama jika wajah wanita tersebut kelihatan cantik/menarik perhatian dan membuat para lelaki tergoda/terfitnah.

Semakin cantik wajah seorang wanita, maka semakin dianjurkan menutup wajahnya (memakai cadar). Sebab jika semakin cantik maka otomatis

semakin kuat pengaruhnya bagi para pria yang melihatnya, sehingga menimbulkan dampak negatif bagi para pria tersebut maupun wanita itu sendiri.

Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Ishomuddin dikutip dari situs www. nu.or.id mengatakan,

cadar merupakan tradisi orang-orang Timur Tengah yang sering dirinya lihat langsung ketika bertandang ke dataran Arab.

Di sana, sambung Kiai Ishom, cadar tidak hanya dipakai orang Islam, orang Yahudi di daerah Yaman juga memakai cadar.

“Orang Nasrani ada sebagian yang memakai cadar,” ungkap Dosen UIN Raden Intan Lampung ini. Jadi, lanjutnya, memakai cadar bukan murni ajaran Islam, tetapi merupakan budaya orang-orang Arab.

Diunggah dari akun @lambe_jaim, Brigjen Krisna Murti justru memberi penjelasan gamblang seputar wanita bercadar.

Sekadar mengingatkan, Brigjen Krisna Murti adalah mantan Wakapolda Lampung, dan Direskrim Polda Metro yang sukses dalam operasi bom Sarinah.

1.       Wanita menutup aurat dg jilbab ataupun bercadar itu adalah pilihan berdasarkan keyakian masing2.. Jadi jangan kalian cap mereka dg label tidak baik. Menutup aurat adalah kewajiban yang diajarkan nabi..

2.       Laki2 yang berjenggot adalah Sunnah Rasul. Jangan kalian label mereka dengan hal2 tidak baik.. Semua kembali kepada keyakinan masing2..

3.       Laki2 bercelana diatas mata kaki, bukanlah identik dengan kaum radikal. Dalam Islam kita diajarkan untuk tidak menggunakan celana yang menyapu lantai. Dalam Shalat kita diajarkan untuk menaikan celana diatas mata kaki agar diterima Shalat kita..

4.       Jangan label orang karena penampilan. Dan jangan juga menyembunyikan kejahatan dengan penampilan..

5.       Banyak pelaku kejahatan bersembunyi dibalik pakaian bagus, dibalik batik, dibalik jas, dibalik seragam, dibalik perilaku manis..

6.       Kita perang terhadap kejahatan, bukan perang terhadap manusia.. .

Yang menjadi persoalan, di Kawasan Timur Tengah hingga Asia Barat (Pakistan dan Afghanistan) kerap terjadi aksi bom bunuh yang dilakukan perempuan bercadar.

Mereka menyasar tantara sekutu maupun pemerintah yang dianggap ingkar terhadap daulah Islamiyah. Mereka menganggap aparat adalah thogut yang halal darahnya.

Dengan memakai cadar, banyak yang tidak sadar mereka membawa bahan peledak yang mematikan. Dan, kini budaya memakai cadar di masyarakat Timur Tengah dan Asia Barat mulai diadopsi sebagian masyarakat Indonesia.

Namun yang menjadi persoalan masih banyak masyarakat yang belum paham dengan cadar. Sehingga muncul phobia yang berlebihan.

Takut melihat wanita bercadar. Padahal, memakai cadar bukan sebuah kesalahan. Yang salah adalah orang-orang bercadar yang memakai simbol agama untuk memuluskan niat jahatnya memberangus nilai-nilai kemanusian.

Semoga ini mencerahkan dan menghindarkan kita dari syak wasangka satu sama lain. 

(rb/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia