Sabtu, 26 May 2018
radarbali
icon featured
Features
Cara Krama Timpag Basmi Hama Tikus

Kembangkan Penangkaran Tyto Alba untuk Awasi 375 Ha Sawah

Rabu, 16 May 2018 20:49 | editor : ali mustofa

burung hantu, basmi tikus, subak timpag

LEPAS: Burung hantu jenis Tyto Alba yang siap dilepasliarkan (Juliadi/Radar Bali)

Tabanan adalah penghasil utama padi di Bali. Sebagai lumbung padi Bali bertahun-tahun, petani Tabanan dituntut mempertahankan produktivitas tanamannya. Sayang, hama tikus jadi problem utama.

 

 

JULIADI, Tabanan

DESA Timpag, Kerambitan memiliki luas lahan pertanian 375 hektare.  Terdiri dari 4 subak yakni subak Timpag Celemanik, subak Tangkluk, subak Penatih dan subak Sambian.

Keempat subak tersebut secara keseluruhan ditanami padi. Tidak jarang petani di desa tersebut mengalami serangan hama tikus. Karena khawatir dengan serangan hama tikus.

Sehingga pemerintah dan masyarakat petani di desa tersebut mengembangbiakkan burung hantu dengan jenis Tyto Alba.

Perbekel Timpag I Gusti Wayan Sukewahana menyatakan, pihaknya sangat serius menangkarkan dan mengembangbiakkan secara liar burung hantu dengan jenis Tyto Alba.

Burung Hantu
burung hantu, basmi tikus, subak timpag

TEMPAT PENANGKARAN: Pemasangan rumah burung hantu di tengah areal lahan pertanian Desa Timpag. (Juliadi/Radar Bali)

Selain sebagai upaya membasmi serangan hama tikus yang mengancam lahan pertanian. Ini juga merupakan salah satu cara pelestarian satwa tersebut.

“Konservasi burung hantu jenis Tyto Alba yang kami dengan membuat sebuah rumah burung hantu (rubuha) sebanyak 15 unit rubuha.

Yang akan dipasang di setiap subak yang ada di desa Timpag. Saat ini baru terpasang 5 unit rubuha,” ucap Sukewahana.

Dijelaskan Sukewahana burung hantu dengan jenis Tyto Alba memang dikenal sebagai predator alami hama tikus.

Burung Hantu
burung hantu, basmi tikus, subak timpag

LEPAS: Burung hantu jenis Tyto Alba yang dikembangbiakkan (Juliadi/Radar Bali)

Diharapkan dengan dikembangkanbiakkan Tyto Alba mampu mengantisipasi hama tikus. Kemudian petani tidak perlu menggunakan pestisida untuk membasmi hama tikus. 

Di Desa Timpag 60 persen areal lahan pertanian tentunya pernah mengalami sejumlah kendala dalam pertanian.

Tidak hanya serangan hama tikus yang sempat mengganas hingga menyebabkan petani gagal panen. Sekarang alih fungsi lahan juga menjadi salah satu masalah.

Beruntung masyarakat disini masih kuat dan ingin terus mempertahankan sektor pertanian yang ada. 

“Pada tahun 2009 silam, hampir 70 persen petani gagal panen akibat serangan hama tikus. Bahkan saat itu menggunakan racun pembunuh tidak mempan justru tambah parah,” ceritanya.

Akhirnya dengan keberadaan burung hantu yang sudah ada sejak lama di desa. Kemudian tercetus keinginan melakukan konservasi burung hantu.

Karena selama ini burung ini tinggal di atas pohon kelapa,  pohon beringin dan dalam plafon rumah yang bolong.

“Sehingga sejak tahun 2015 sampai 2017 kami mulai kembangkan penangkaran burung hantu,” jelasnya.

Sukewahana menambahkan satu burung hantu betina mampu bertelur enam butir.

Nah, untuk mempertahankan populasi Tyto Alba agar terus hidup di Desa Timpag sehingga pihaknya membuatkan sarang atau rubuha.

Saat ini 5 ekor yang lepas liarkan. Dulu awal pertama kali dikembangkan Tyto Alba sebanyak 8 ekor. Mungkin secara keseluruhan jumlah Tyto Alba mencapai puluhan jumlahnya.

“Untuk biaya pembuatan satu unit rubuha lumayan, menghabiskan biaya yang besar. Tapi, tergantung dari bahan yang digunakan,” tandasnya. 

(rb/jul/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia