Senin, 25 Jun 2018
radarbali
icon featured
Politika

Paslon 1 Klaim 6 Daerah, Sugawa: Bali Tidak Pas Dipimpin Ketua Parpol

Jumat, 25 May 2018 19:08 | editor : ali mustofa

pilgub bali, survei paslon, paket darma-kerta, paket koster-cok ace

PSIKOTES: Dua paslon duduk berdampingan mengikuti tes psikotest di KPU Bali beberapa waktu lalu (dok.radar bali)

DENPASAR – Sebulan jelang hari coblosan Pilgub Bali, persaingan antar kedua pasangan calon (paslon) semakin ketat.

Untuk memetakan dukungan, kedua paslon gencar melakukan survei di lapangan. Bahkan, Survei dilakukan berulang kali.

Informasi yang dirangkum Jawa Pos Radar Bali di internal PDI Perjuangan, paket Wayan Koster – Cok Ace (Koster – Ace) mengkalim sudah menguasai suara di Kabupaten Buleleng, Badung, Tabanan, Jembrana, Gianyar, dan Bangli.

Di enam kabupaten tersebut kepala daerah dan anggota DPRD memang didominasi PDI Perjuangan. Berdasar hasil survei sementara di enam kabupaten tersebut, Koster – Ace menang di atas 70 persen.

Namun, kabarnya suara Koster – Ace sempat melorot usai insiden “Nasbedag” saat membahas reklamasi Teluk Benoa dalam sebuah kesempatan.

Suara Koster – Ace kabarnya turun hingga 4 persen akibat ucapan “Nasbedag” itu. Selain itu, Koster cukup khawatir dan kesulitan menaklukkan tiga tempat. Kabupaten Karangasem, Klungkung, dan Kota Denpasar.

Bahkan, Koster – Ace disebut hampir mustahil menang di Kota Denpasar yang merupakan kandang Cagub IB Rai Dharmawijaya Mantra.

Di Klungkung, Koster – Ace harus menghadapi calon petahana I Nyoman Suwirta – I Made Kasta (Suwasta) yang diusung Gerindra, Golkar, Nasdem dan Demokrat.

Meski sulit menang di Klungkung, Koster – Ace mulai menggempur habis-habisan wilayah Klungkung daratan.

Sedangkan Klungkung kepulauan yang merupakan daerah asal Suwirta sulit ditembus. Meski kalah di Klungkung, namun Koster - Ace tidak sampai kalah telak. Koster – Ace berusaha mendapat 48 persen suara.

Sementara di Karangasem, Koster – Ace juga belum aman lantaran pasangan Bupati/Wabup (I GA Mas Sumantri – Wayan Artha Dipa) diusung Nasdem, Hanura, dan PKPI.

Menanggapi hasil survei yang didapat Jawa Pos Radar Bali ini, Sekretaris DPD PDIP Bali IGN Jayanegara enggan berkomentar.

“Yang saya tahu target menang 65 – 70 persen. Nah, apakah target itu sudah tercapai apa belum kami belum ada pertemuan formal,” ujar Jayangera.

Menurut Jayanegara, DPD PDIP Bali saat ini terus mematangkan pembekalan dan simulasi bagi calon saksi di TPS.

Selain saksi, pihaknya juga mematangkan pembekalan kepada guraklih (regu penggerak pemilih). Dikejar perkembangan di lapangan, Jayanegara juga enggan berkomentar.

“Untuk Pilgub Bali secara umum sudah dibentuk tim (pemenangan). Jadi kami mengikuti arahan tim yang dipimpin Pak Giri Prasta. Artinya kami koordinasi dengan beliau yang mempunyai tugas,” ucap politikus asal Denpasar itu.

Sayangnya, Giri Prasta saat dikonfirmasi terpisah tidak menjawab telepon. Di lain bagian, Koster sendiri dalam sebuah kampanye di Denpasar dan Badung belum lama ini,

menyebut hasil dua lembaga survei yang menyebutkan Koster-Ace menang secara mutlak pada Pilgub Bali 2018.

Namun, Koster juga tak menampik jika di Kota Denpasar sulit unggul.  “Di delapan kabupaten kami sudah menang sesuai target.

Tapi biar begitu, kami tidak ingin lengah. Malah kita lebih genjot dengan kerja keras agar melampaui target,” kata Koster.

Koster menyebut hasil survei dari dua lembaga nasional yang menyebutkan Koster-Ace mengungguli rivalnya dengan raihan angka mutlak.

Politikus asal Desa Sembiran, Buleleng itu memasang target menang 55 persen di Kota Denpasar.

“Memang di Denpasar masih di bawah lagi sedikit. Target kami sapu bersih kemenangan di semua kabupaten/kota se-Bali, termasuk Denpasar.

Masih ada waktu sebulan lagi, kami akan all out bekerja di Denpasar agar bisa menang meski tipis,” kata Koster.

Bagaimana reaksi kubu paslon Mantra – Kerta? Sekretaris DPD I Golkar Bali I Nyoman Sugawa Korry saat dikonfirmasi terpisah kemarin mengatakan, pihaknya tidak perlu mengungkap hasil survei.

“Yang jelas kami tetap berkeyakinan menang karena kerja keras dan solid,” tutur Sugawa.

Meski enggan membeber hasil survei, politikus asal Buleleng itu menyebut fakta di lapangan saat ini antusiasi serta dukungan masyarakat kepada Mantra – Kerta terus meningkat.

Dukungan itu semakin menguat menjelang hari pencoblosan. “Dalam setiap acara pertemuan dan konser dua jari, respon masyarakat di luar dugaan kami,” terang politisi bersuara berat itu.

Sugawa yakin Mantra – Kerta menang karena berdasar pertimbangan fakta dan sejarah. Dia mengungkit sejarah Bali tidak pernah dipimpin Gubernur yang sebelumnya menjabat ketua parpol.

“Mulai dari era 1957 sampai Pak Mangku Pastika, satu pun tidak ada Gubernur Bali berasal dari ketua partai.

Kalau tidak akademisi, TNI, pensiunan polisi, atau birokrat. Artinya, alam Bali memang tidak menghendaki gubernur dari ketua partai,” sindirnya.

Menurut dia, Rai Mantra sosok yang pas karena Rai Mantra orang independen yang tidak ber-KTA satu parpol pun.

Ketika menjadi Wali Kota Denapsar yang diusung PDIP, Rai Mantra tetap independen. “Kenaikan suara itu pasti ada. Kami dan relawan optimistis menang 60 persen bisa tercapai,” tandasnya.

(rb/san/mus/mus/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia