Sabtu, 23 Jun 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Features
Tahun 60-an Pastur Temukan Mahkota Raja

Mengenal Situs Patukangan Sebagai Peninggalan Hindu Budha

Rabu, 21 Feb 2018 08:01 | editor : AF. Ichsan Rasyid

Peninggalan HINDU BUDHA: Aktivis GESSIT dan Divisi Cagar Budaya DKS meneliti batu bata di Situs Pertukangan.

Peninggalan HINDU BUDHA: Aktivis GESSIT dan Divisi Cagar Budaya DKS meneliti batu bata di Situs Pertukangan. (IZZUL FOR JAWAPOS.COM)

Peninggalan sejarah di masa klasik Hindu-Budha di Kabupaten Situbondo terbilang langka. Tak banyak yang bisa dilacak dan dicatat. Salah satunya yang diyakini adalah Situs Patukangan.

IZZUL MUTTAQIN, Panarukan

Situs Patukangan merupakan salah satu aset peninggalan sejarah masa Hindu-Budha yang ada di Kabupaten di Situbondo. Kemungkinan tak banyak masyarakat Kota Santri yang tahu tempat ini. Apalagi, bukti fisiknya yang berupa bangunan mentereng sudah tak lagi bisa dinikmati.

Yang tersisa dari Situs Patukangan saat ini hanya berupa reruntuhan batu bata kuno yang ada di tanah-tanah ladang maupun persawahan yang dikuasai oleh warga. Letaknya tak begitu jauh dari muara Panarukan.

Informasi yang diterima koran ini, situs Patukangan ini setidaknya tersebar di dua desa. Yakni di Desa Duwet dan Desa Peleyan, Kecamatan Panarukan.Bentuknya berupa blok-blok struktur bata memanjang.

Belum ada yang bisa memastikan  bangunan struktur batu bata itu dulunya apakah berupa pagar atau bangunan inti. Sebab, kebanyakan sudah terpendam di tanah. Penggalian tak bisa dilakukan sembarangan. Belum lagi kendala izin dari pemilik tanah.

Halil Budiarto, Pembina komunitas Gerakan Sadar Sejarah Situbondo (GESSIT) menerangkan, keyakinan bahwa wilayah Patukangan meripakan pusat aktifitas sejak masa klasik Hindu-Budha termaktub dalam kitab negarakertagama. Di sana disebutkan tentang eksistensi wilayah Kadipaten Patukangan yang adipatinya bernama Suradhikara.

“Adipati Suradhikara adalah pemimpin upacara saat penyambutan Raja Majapahit, Hayam Wuruk saat melakukan audiensi dengan  raja-raja kecil di wilayah timur pada tahun 1359 M," terang pengajar di SMAN 1 Suboh tersebut.

R.Dian Sampurno, Ketua LSM Wirabhumi menambahkan, warga setempat banyak mengaku banyak yang menemukan fragmen-fragmen keramik maupun gerabah di sejumlah titik. Termasuk penemukan arca terakota dengan profil wanita. Namun sayang, benda antik tersebut saat ini berada Universitas Leiden,  Belanda. "Pernah juga ditemukan mahkota raja oleh seorang pastur pada tahun 1960-an," imbuhnya.

Iskandar, 60,  warga Dusun Bugur, Desa Duwet memberikan kesaksian bahwa sekitar tahun 1990-an di pekarangan almarhum mertuanya dilakukan penggalian tanah pekarangan. "Saat digali itu lah ditemukan semacam tempolongan. Tetapi hancur karena hantaman alat berat,” kenangnya.

Dia menerangkan, di bagian bawah tempolongan dimungkinkan ada sebuah sumur dengan dinding bata merah. “Yang menarik, tempolongan dari tanah liat itu ada ukirannya," imbuh Iskandar.

Dia menyebutkan, di areal persawahan yang ada di kanan-kiri rumahnya sejak dulu memang banyak terpendam batu bata merah ukuran besar. “Sangat melimpah. Warga di sini merasa bahwa bata di pekarangan mereka yang diubah jadi sawah itu mengganggu, sehingga harus diambil. Bahkan setelah diambil dihancurkan jadi semen merah," pungkasnya. (*)

(bw/mls/ics/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia