Selasa, 19 Jun 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Ekonomi Bisnis
Dinas Koperasi dan Usaha Mikro

Usaha Sale Bisa Tampung Para Janda dan Warga Miskin

Rabu, 06 Jun 2018 11:00 | editor : Bayu Saksono

Usaha Sale Bisa Tampung Para Janda dan Warga Miskin

Usaha mikro yang ditekuni pasangan suami istri (pasutri) Suratno, 55, dan Wiwik S, 50, warga Dusun Sumberbroto, Desa Rejoagung, Kecamatan Srono, dengan membuat makanan ringan sale pisang, ternyata tidak hanya mampu menghidupi keluarganya. Tapi, juga para tetangga, terutama para janda dan warga miskin.

Suratno dan Wiwik menekuni usaha membuat sale ini sejak tahun 2011. Awalnya, dia melihat banyak buah pisang barlin yang terbuang percuma.  Harga buah pisang barlin, saat itu juga cukup murah. “ Jarang yang mau dengan pisang barlin, sampai banyak yang busuk, harganya satu tundun hanya sekitar Rp 2.000,” terang Suratno.

Saat pertama mencoba usaha sale pisang, terang dia, hanya dikerjakan bersama istrinya dan dijajakan sendiri. Sale buatannya, ternyata bisa diterima oleh masyarakat. “Saya khusus buat sale pisang barlin, sale ini punya rasa khusus,” katanya.

PENGERINGAN: Wiwik S menjemur pisang berlin yang akan dibuat sale.

PENGERINGAN: Wiwik S menjemur pisang berlin yang akan dibuat sale. (AGUS BAIHAQI/RABA)

Seperti usaha mikro lainnya, saat usaha yang ditekuni ini mulai mengalami perkem­ bangan yang baik, permasalahan klasik muncul, yakni permodalan. “Permintaan mu­ lai ramai, kami ada masalah dengan modal yang terbatas,” ujarnya.

Dari berbagai informasi dan mengikuti kegiatan pembinaan, yang salah satunya dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabu­ paten Banyuwangi, persoalan modal ini akhirnya bisa teratasi. Usaha pembuatan sale pisang, bisa berlangsung hingga kini. “Karena pesanan ramai, kami mencari tenaga untuk mem­ bantu,” cetusnya.

Para tenaga yang membantu itu, terang dia, hampir semua perempuan dan kategori tenaga informal dengan tidak memiliki keterampilan. Mereka itu, ada yang janda dan warga yang kategori miskin. “Yang membantu ada 15 orang, semua ibu-ibu dan ada yang janda. Mereka itu sebelumnya pe­ ngangguran,” ungkapnya.

Para tenaga kerja itu, lanjut dia, memiliki tugas sendiri, mulai bagian mengiris pisang dan penjemuran, menggoreng, pemilahan, dan bungkus. “Kalau untuk mencari bahan baku, saya sendiri yang mencari,” cetus Wiwik S, istri Suratno.

Bahan baku berupa pisang barlin, terang dia, di­ peroleh dari daerah Kecamatan Kalibaru dan Songgon. Selain itu, juga mendatangkan pisang bar lin dari Sumbawa, NTB. “Mencari pisang barlin kadang susah, ini kita mendatangkan dari Sumbawa,” ungkapnya.

PROSES SALE: Ibu-ibu bekerja memotong buah pisang menjadi irisan tipis untuk dibuat sale di rumah Wiwik S.

PROSES SALE: Ibu-ibu bekerja memotong buah pisang menjadi irisan tipis untuk dibuat sale di rumah Wiwik S. (AGUS BAIHAQI/RABA)

Wiwik menyebut usaha pembuatan sale pisang barlin ini, hampir tidak mengalami hambatan. Bila ada, hanya masalah bahan baku pisang barlin yang semakin sulit didapat. “Kalau untuk pemasaran tidak ada masalah, banyak sales yang datang,” katanya.

Menurut Wiwik, sale pisang hasil produksinya ini tidak hanya dijual di wilayah Kabupaten Banyuwangi saja. Tapi, juga dijual ke sejumlah kota di Jawa Timur, seperti Jember, Malang, Surabaya. Selain itu, sale pisang bikinannya ini juga dikirim ke Jakarta, Bali, dan Sumbawa. “Saya pernah mengirim ke Hong­ kong,” bebernya.

Menjelang Lebaran ini, jelas dia, permintaan mengalami peningkatan hingga 200 persen. Bila di hari biasa memproduksi pisang sale ini hanya satu kuintal per hari, maka saat ini memproduksi tiga kuintal per hari. “Yang ramai itu menjelang Lebaran dan setelah Lebaran, tapi selama 2018 ini penjualan memang cukup bagus ,” ujarnya.

Usaha pembuatan sale pisang yang dijalani Suratno dan Wiwik S ini, ternyata diikuti oleh warga lain di Desa Rejoagung, Kecamatan Srono. Saat ini, mulai bermunculan pembuat sale pisang. “Dulu hanya saya yang membuat, sekarang ada empat keluarga yang ikut membuat sale,” ungkapnya.

SEMANGAT: Nenek terampil memilah sale di rumah Wiwik S.   

SEMANGAT: Nenek terampil memilah sale di rumah Wiwik S.   (AGUS BAIHAQI/RABA)

Di antara pembuat sale pisang lain itu, adalah pasangan Abdul Karim, 52, dan Suliswati, 45, yang tinggal di Dusun Krajan, Desa Rejoagung. Selama Ramadan ini, usahanya ini mengalami peningkatan. “Untuk pemasaran saya jalankan sendiri,” kata Suliswati.

Menurut Suliswati, sale pisang yang dibuat ini hampir semua dijual di sejumlah daerah di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Tapi, juga ada yang dijual ke Jember. “Kami sale khusus pisang barlin,” ujarnya.

Suliswati mengaku sebelumnya ikut bekerja di usaha sale pisang milik Suratno dan Wiwik S. Dia berhenti karena menderita sakit. “Saat istirahat karena sakit, mencoba membuka usaha sendiri di rumah,” katanya.

Dengan usahanya ini, Suliswati bersama suami bisa menghidupi keluarganya. Malahan, dia menampung lima orang tetangga untuk ikut bekerja di tempatnya. “Yang membantu ini para tetangga,” cetusnya.

Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Banyuwangi, Aliec Rachman Kartio mengatakan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), itu memiliki ketahanan yang kuat mensikapi kenaikan bahan pokok.”Kalau bahan pokok naik, punya cara sendiri dalam mengatasi tanpa menaikkan harga,” katanya.

Alief menyebut UMKM saat ini bertumbuh subur di Kabupaten Banyuwangi, dan itu sesuai program Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang mendorong petumbuhan dan perkembangannya. “UMKM ini mam­ pu menyerap tenaga kerja, dan membantu pe­ ngentasan kemiskinan,” cetusnya.

(bw/jpr/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia