Selasa, 19 Jun 2018
radarbanyuwangi
icon featured
Genteng

TKI Asal Grajagan Meninggal di Malaysia

Kamis, 14 Jun 2018 18:00 | editor : Bayu Saksono

BERDUKA: Jenazah Winarsih baru tiba di rumah duka Dusun Grajagan Pantai, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, kemarin (13/6).

BERDUKA: Jenazah Winarsih baru tiba di rumah duka Dusun Grajagan Pantai, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo, kemarin (13/6). (BAGUS RIO/JPRG)

PURWOHARJO – Satu lagi tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Banyuwangi meninggal di negera tempatnya bekerja. Kali ini, pahlawan devisa bernasib malang itu adalah Winarsih, 37, warga Dusun Grajagan Pantai, Desa Grajagan, Kecamatan Purwoharjo.

Korban yang bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) di Malaysia itu, meninggal di rumah sakit karena menderita penyakit payu darah. “Winarsih ini bekerja di Malaysia sejak 2015,” terang Kapolsek Purwoharjo, AKP Ali Ashari.

Dari keterangan yang diperoleh, terang kapolsek, Winarsih ini masuk dan bekerja di Malaysia tidak melalui jalur yang benar. Saat kali pertama ke negeri Jiran, sebenarnya hanya ingin berkunjung ke rumah saudaranya Poniyah, 40, yang ada di Malaysia. “Awalnya hanya ingin berkunjung, tapi tidak pulang,” cetusnya.

Saat di Malaysia, jelas dia, korban bertemu dengan Paidi, 48, warga Dusun Grajagan Pantai, Desa Grajagan yang sedang bekerja di Malaysia. “Keduanya pacaran dan akhirnya menikah di Malaysia,” ujarnya.

Saat korban mengandung, jelas dia, ternyata terdeteksi mengidap penyakit kanker payu dara. “Itu anak pertama mereka, korban dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan dan akhirnya meninggal,” ungkapnya pada Jawa Pos Radar Genteng.

Sementara itu, kakak kandung Winarsih, Santoso menyampaikan adiknya itu melahirkan di rumah sakit Malaysia dan mengalami pendarahan. Dua hari menjalani perawatan di rumah sakit, korban akhirnya meninggal. “Anaknya selamat, sedangkan korban tidak tertolong,” kata lelaki 43 tahun tersebut.

Jenazah korban diterbangkan ke Indonesia dengan tujuan Bandara Juanda Surabaya. Pihak keluarga, menunggu di Surabaya untuk membawa jenazahnya ke Banyuwangi. “Kita ambil jenazahnya di Bandara Juanda Surabaya,” ungkapnya.

Semasa hidup, terang dia, adiknya itu memang memiliki penyakit kanker payu dara. Tapi, penyakitnya pernah dilakukan operasi. “Saya kira operasi itu sudah berhasil, ternyata masih belum,” katanya.

(bw/rio/rbs/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia