Senin, 28 May 2018
radarbojonegoro
icon featured
Kolom
Alfin Mustikawan

Manakib Tradisi Keilmuan Santri untuk Indonesia Emas

Minggu, 22 Oct 2017 19:36 | editor : Ebiet A. Mubarok

Alfin Mustikawan

Alfin Mustikawan (Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Inisiator Kampus Desa Indonesia.)

Proses islamisasi nusantara terutama jawa menghasilkan sesuatu yang begitu penting yaitu lahirnya tradisi keagaaman santri dalam kehidupan sosio kultural masyarakat nusantara. Tradisi keagamaan santri ini dengan pesantren serta kyai telah menjadi inti terbentuknya tradisi monumental Islam nusantara, yang secara substansial merupakan hasil akulturasi antara tradisi Islam dan tradisi asli nusantara.

Seperti yang disebutkan oleh H.J. Benda bahwa proses Islamisasi di jawa telah melahirkan peradaban santri (santri civilization), yang memiliki pengaruh sangat besar.

Sementara Clifford Geertz memandang kehadiran Islam di jawa telah membentuk varian sosio kultural masyarakat Islam jawa yang biasa disebut Santri, yang benar-benar berbeda dengan tradisi sosio kultural lainnya, yaitu Abangan dan Priyayi.

Tradisi Santri dan Kyai merupakan unsur kebudayaan Islam-Jawa yang memiliki pengaruh besar terhadap dinamika kehidupan agama, sosial dan politik dalam masyarakat Jawa dan Nusantara, hal tersebut terjadi secara terus menerus mulai masa tradisional, masa kolonial hingga Indonesia merdeka.

Sebut misalnya pada saat pendirian kerajaan Demak, Banten dan Cirebon konstribusi tradisi Santri dan Kyai sangatlah besar disana, pada era kolonial juga begitu, ketika era kerajaan-kerajaan Islam runtuh tradisi besar Santri kembali menjadi basis kekuatan sosial politik di pedesaan untuk melawan kolonialisme belanda, hal teresebut berlanjut ketika masa pertumbuhan nasionalisme Indonesia dengan munculnya organisasi mulai dari Sarekat Dagang Islam, Sarekat Islam, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Partai Sarekat Islam hingga Masyumi, dan Partai Nahdlatul Ulama hingga lahirnya partai yang lain mulai PPP, PBB,PAN hingga PKB.

Tradisi Intelektual Santri 

Santri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti orang yg mendalami agama Islam, orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh (orang yg saleh), Orang yang mendalami pengajiannya dalam agama islam dengan berguru ketempat yang jauh seperti pesantren dan lain sebagainya.

Ada yang menyebut, santri diambil dari bahasa ‘tamil’ yang berarti ‘guru mengaji’ ini seperti pendapat Zamakhsyari Dhofier yang mengutip pendapat  Johns. Ada juga yang menilai kata santri berasal dari kata india ‘shastri’ yang berarti ‘orang yang memiliki pengetahuan tentang kitab suci’ ini adalah pendapat C.C. Berg.

Selaras dengan Berg, Cliford Geertz menduga, bahwa pengertian santri mungkin berasal dan bahasa sangsekerta ‘shastri’, yang berarti ilmuan Hindu yang pandai menulis, yang dalam pemakaian bahasa modern memiliki arti yang sempit dan arti yang luas.

Dalam arti sempit, ialah seorang pelajar yang belajar disekolah agama atau yang biasa disebut pondok pesantren, sedang dalam arti yang lebih luas, santri mengacu pada bagian anggota penduduk Jawa yang menganut Islam dengan sungguh-sungguh.

Selain itu, berdasarkan telaah sejarah, santri memiliki tradisi intelektual yang tidak bisa dipandang sebelah mata, beberapa sumber mengatakan bahwa Santri memiliki tradisi berkelana untuk mengunjungi padepokan yang satu ke padepokan lainnya, dari pondok yang satu ke pondok lainnya untuk mendapatkan ilmu pengetahuan sebanyak-banyaknya dari para guru atau Kyai, tradisi berkelana ini juga digunakan para santri untuk mempraktekkan ilmunya.

Tradisi berkelana ini sebenarnya telah ada sejak wali sembilan atau bahkan sebelumnya, dari berbagai sumber dikisahkan bagaimana Raden Syahid atau lokajaya dulu mengembara berkelana dari satu tempat ke tempat lain untuk menuruti titah gurunya yaitu Sunan Bonang.   

Selain berkelana, santri jawa juga memiliki riwayat menjunjung tinggi dialog ilmiah melalui tradisi diskusi dan debat, tradisi tersebut dimulai semenjak zaman wali sembilan. Dan sudah diketahui bersama bahwa wali sembilan merupakan sebuah forum bertemunya para wali di tanah jawa untuk merancang dan mengembangkan dakwah serta membangun desain pemerintahan  di tanah jawa.

Perlu diketahui bahwa anggota dari wali sembilan memiliki keahlian masing-masing ada yang ahli pemerintahan, ahli ekonomi, ahli budaya, ahli strategi dan lain sebagainya, maka tak heran ada yang mengatakan bahwa sebenarnya landscape ilmu pengetahuan di tanah jawa bisa digambarkan dengan posisi geografis wali sembilan di tanah jawa. 

Gambaran monumental mengenai sepak terjang santri jawa dalam membangun dan merawat tradisi keilmuan diatas merupakan modal besar bagi santri zaman sekarang untuk bisa meneladani dan merawat tradisi keilmuan para santri terdahulu.

Dengan berpegang teguh pada kaidah ushul fiqh yaitu “Al Muhafadhah ala-l qodimis sholih wa-l akhdzu bi-l jadid-il ashlah” dan bagi santri kaidah tersebut merupakan spirit continous improvement yang autentik untuk dijadikan landasan melaksanakan perintah agama dalam dzikir, pikir dan amal sholih.

Konstribusi Santri untuk Indonesia

Secara tersurat maupun tersirat dengan adanya pengakuan negara atas keberadaan santri dengan ditetapkannya tanggal 22 oktober sebagai hari santri nasional merupakan panggilan bangsa kepada para santri untuk lebih berperan secara nyata kepada bangsa dan negara diberbagai bidang mulai dari ekonomi, politik, hukum, sains dan teknologi serta sosial humaniora.  

Dengan bonus demografi yang dimiliki Indonesia saat ini, menjadi sebuah keniscayaan Indonesia untuk menjadi negara yang Baldatun Toyyibatun Wa Rabbun Ghofur di usia emas tahun 2045 nanti, tentu hal tersebut membutuhkan peran serta santri secara signifikan diberbagai bidang dengan modal manakib tradisi santri jawa yang begitu monumental.

Melalui peringatan hari santri nasional yang ke-3 ini seyogyanya kalangan santri mulai melakukan sebuah refleksi dan menata formulasi diri bahwa stigma yang dilekatkan pada santri dewasa ini sungguh tidaklah benar bahwa santri itu Ndeso, jorok, lambat dan tertinggal, karena pada santri pada hakikatnya secara ideal merupakan sosok yang sadar mutu serta siap menerima perubahan dengan mandiri, percaya diri, lincah, berwawasan luas dan berahlak mulia untuk terus menjadi motor perubahan dalam melaksanakan khidmah kepada umat dimanapun dan dalam posisi apapun. Selamat hari santri 2017. Santri Kuat, NKRI Hebat.Wallahua’lam.

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia