Senin, 25 Jun 2018
radarbojonegoro
icon featured
Hukum & Kriminal

12 Anjal keroyok Supir Truk

Kamis, 18 Jan 2018 17:15 | editor : Ebiet A. Mubarok

AMORAL: Belasan anjal yang digiring sehabis menyerang supir truk.

AMORAL: Belasan anjal yang digiring sehabis menyerang supir truk. (Anjar D. Pradipta/Jawa Pos Radar Lamongan)

PUCUK – Perilaku anak jalanan (anjal) makin memrihatinkan. Sebelas anak jalanan laki – laki dan seorang perempuan kemarin (17/1) menganiaya  Windoko, 33, sopir truk S 8485 WC. Kejadiannya di Desa Waru Kulon, Kecamatan Pucuk, tepatnya depan pabrik PT Superior Prima Sukses (SPS) bless con.

Diduga, 12 anak jalanan itu ingin mencari tumpangan. Namun, Windoko tak memberi tumpangan karena dirinya hendak ke pabrik bless con. 

Windoko menceritakan, sekitar pukul 09.00, dirinya berniat mengambil bata ringan di pabrik bless con. Dia mengemudikan truk sendiri dari barat. Ketika mendekati pabrik, dirinya kaget melihat beberapa anak jalanan mencegat dengan tidur-tiduran di jalan. Beberapa di antara mereka mendekatinya dan mengatakan menumpang ke timur. 

‘’Mereka mengatakan ingin ikut. Saya bilang kalau mau ke pabrik ini. Eh, mereka gak terima dan menggebrak-gebrak truk bagian depan dengan kayu,’’ ujarnya. 

Ketika digebrak itu, Windoko masih berada di truk. Beberapa saat kemudian, salah seorang anak jalanan itu melayangkan tonjokan dari luar. Sontak hal itu membuat dia kesal dan turun dari truk. Setelah turun, Windoko malah dikeroyok. Bahkan, Ram, salah nama anak jalanan itu, melayangkan rantai yang dibawanya. 

‘’Saya kan merasa takut karena orang banyak. Saya lari ke pos polisi untuk menyelamatkan diri,’’ ujarnya. 

Warga sekitar yang melihat pengeroyokan itu geram. Mereka mendatangi anak – anak jalanan itu. Massa yang lebih banyak membuat anak – anak jalanan itu menjadi bulan-bulanan warga. Ram dan seorang temannya, Dit, yang mengaku berasal dari Cirebon, Jawa Babat, terluka agak parah karena dihajar warga. Keduanya dilarikan ke Puskesmas Pucuk untuk menjalani perawatan. Windoko juga menjalani perawatan di puskesmas tersebut.

‘’Saya belum sempat balas, mereka sudah di massa orang - orang (masyarakat sekitar),’’ tutur Windoko dengan kaus bersimbah darah kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (17/8).

Setelah mendapat perawatan, Windoko bersama Ram dan Dit dibawa ke Mapolsek Pucuk. Saat digeledah, ditemukan satu rantai berukuran besar, dua rantai berukuran kecil, serta beberapa cincin dan aksesori. ‘’Barang bukti alat yang digunakan untuk memukul korban juga sudah kita amankan. Berupa rantai yang ada girnya,’’ tutur Kapolsek Pucuk, AKP Siswoyo. 

Hingga berita ini ditulis, belum ada tersangka dalam kasus tersebut. Ram hanya ditetapkan pelaku penganiayaan. Sedangkan, Dit juga masih berada di Mapolsek Pucuk. Sementara sepuluh anak jalanan lainnya dibawa ke kantor Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Lamongan. 

‘’Sementara masih kita tetapkan satu pelaku,’’ ujarnya. 

Menurut dia, korban bakal menjalani visum lebih dulu. Setelah diketahui hasil visum, petugas bakal memeriksa saksi-saksi di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) dan saksi korban. ‘’Alat buktinya kan sudah jelas. Visum dan barang bukti pemukulan,’’ kata Siswoyo.

Sementara itu, Ram tertunduk merasakan sakit di mulut dan hidungnya yang terluka. Cowok yang rambutnya di semir dan badannya penuh tato itu mengaku spontan memukul sopir truk tersebut menggunakan rantai. Dia berkilah awalnya hendak melerai ketika melihat rekan-rekannya berkelahi dengan korban.

‘’Saya mau misah tapi gak berani. Iya tadi memang saya yang mukul dia pakai rantai,’’ kata dia. 

Ram mengaku hendak pergi ke Banyuwangi dari Semarang. Seperti aktivitas sebelumnya, dia berpindah tempat mengandalkan tumpangan dari orang lain. Apakah rantai itu tujuannya untuk melukai orang? Cowok yang hanya lulusan sekolah dasar itu hanya tertunduk. ‘’Tadi niatnya ke Banyuwangi nganterin temen,’’ alasannya. 

Sementara Dit di hadapan petugas berbelit-belit saat menjawab nama orang tuanya dan asal rumahnya. Awalnya dia bilang bahwa orang tuanya bekerja di Jakarta. Setelah di mapolsek, dia berkata orang tuanya sudah meninggal. ‘’Tadi saya takut, jadi bilang gitu. Tapi kedua orang tua saya sudah tidak ada,’’ katanya. 

Dit mengaku tak mengenal nama - nama teman gerombolan yang bersamanya menganiaya sopir truk. Dia bertemu di jalan, serta tak pernah tahu rumahnya masing-masing. ‘’Kita hanya ketemu di jalan saja,’’ ujarnya.

Dikonfirmasi via ponsel, Kepala Satpol PP Lamongan, Bambang Hadjar Purmono, membenarkan bahwa sepuluh anak jalanan berada di kantornya. Mereka didata dan dibina. 

‘’Setelah kita data akan kita cocokkan dengan data kita yang lama. Untuk mengetahui mereka sudah tertangkap berapa kali,’’ ujar Bambang. 

Apakah sepuluh anak tersebut bakal dikirim ke panti rehabilitasi? ‘’Kita lakukan pembinaan aja dulu,’’ jawabnya.

(bj/jar/ind/yan/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia