Sabtu, 23 Jun 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Suvenir Nikah Spesialis Alat Dapur

Senin, 22 Jan 2018 11:06 | editor : Ebiet A. Mubarok

UNIK: Lolyta,26 berkreasi menggunakan alat dapur untuk dijadikan sebuah souvenir pernikahan.

UNIK: Lolyta,26 berkreasi menggunakan alat dapur untuk dijadikan sebuah souvenir pernikahan. (Dokumen/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Tidak perlu bawa perasaan (baper) kalau mendengar kata pernikahan. Bukan pasangan pengantin saja yang ikut berbahagia. Tapi, para pebisnis suvenir pun turut kecipratan kebahagiaan. 

---------------------------------

AMRULLAH AM., Bojonegoro

--------------------------------

Sebuah papan kayu yang berfungsi untuk landasan memotong cabai dan bumbu lainnya menumpuk di rumah Lolyta Novia Yolanda, 26,.

Jumlahnya lumayan banyak. Satu persatu benda yang lebih populer disebut dengan telenan itu diambil satu persatu. 

Benda dapur itu kemudian sedikit dipercantik. Diberikan kemasan dan sedikit tulisan.

Benda-benda ini lantas di-packing untuk diantar kepada orang yang telah memesannya terlebih dulu.

Pastinya pemesan bukan seorang juru masak yang ingin memenuhi dapurnya dengan telenan, melainkan seorang calon pengantin yang akan merayakan acara resepsi.

Telenan itu dipesan sudah jauh hari.

Sehingga, Yola telah mempersiapkannya. 

Bulan lalu memang menjadi hari paling sibuk bagi Yola.

Sebab, bulan lalu banyak orang yang sedang menggelar hajatan kawinan.

Bukan sebagai pihak yang sibuk karena tuan rumah.

Namun, dia menjadi salah satu pihak yang turut menyukseskan acara pernikahan seseorang dengan menyediakan sebuah suvenir untuk para tamu yang telah diundang. 

Yola memang sebagai seorang pebisnis suvenir pernikahan.

Termasuk sebuah telenan yang telah dipersiapan untuk seorang kliennya itu adalah sebuah suvenir pernikahan. 

Perempuan yang telah menikah 2017 lalu mengaku memulai usahanya baru setahun berjalan.

Langkah ini dilakukan saat dirinya masih single.

Dia saat itu melihat banyak suvenir yang tertumpuk di rumahnya.

Suvenir itu dia dapat dari berbagai acara pernikahan yang telah dia hadiri.

Bukan miliknya saja. Tapi, suvenir orang serumah pun tertumpuk di rumah. 

Dari menumpuknya suvenir itu akhirnya dia memiliki inisiatif untuk menjalankan bisnis penyediaan suvenir.

Sebab, masih belum banyak para pebisnis suvenir di Bojonegoro.

Apalagi, berbagai suvenir di Kota Ledre ini modelnya sama. 

‘’Kalau nggak dompet, kipas ya gelas,’’ kata perempuan yang pernah menempuh studi di IKIP Bojonegoro itu. 

Karena tertantang, dia pun mulai bergerak untuk mengumpulkan segala informasi tentang di mana barang-barang suvenir yang murah.

Dari situ dia menego harga dan memodifikasi barang itu agar terlihat lebih kece dari pada umumnya.

Termasuk telenan yang kadang dipandang sebelah mata itu. 

Dia pun berpikir dan memutar otak agar barangnya bisa laku di pasaran.

Yakni dengan menawarkan  jenis baru.

Apa jenis baru suvenir yang ditawarkan? Yola melempar suvenir bertemakan alat dapur.

Pasar pun menyambut baik.

Beberapa orang tak hanya memesan telenan saja.

Namun, pisau buah hingga toples kerupuk pun dipesan oleh konsumennya. 

‘’Kadang ada entong atau suthil,’’ terangnya. 

Entong adalah alat untuk menyendok dari dari bakul.

Sedangkan, suthil semacam alat untuk menggoreng.

Dua alat itu bukan semata-mata dibiarkan biasa saja.

Tapi, Yola memoles alat-alat dapur itu sehingga orang menjadi tertarik dan pantas digunakan sebagai suvenir. 

‘’Jadi orang itu semakin banyak yang memesan,’’ katanya. 

Menurut Yola, suvenir saat ini bukan tentang sebuah pajangan saja.

Atau nantinya akan menjadi sebuah pajangan.

Melainkan, banyak konsumen yang memilih suvenir karena fungsinya.

Jadi, masyarakat sudah mulai memiliki pemikiran bahwa kenang-kenangan dari sebuah pernikahan bukan untuk dipajang di buffet atau almari.

Namun, alat tersebut bisa digunakan. 

‘’Kadang yang memesan sendok juga ada. Jadi, mereka lebih memilih pada fungsi benda yang dipesan,’’ terangnya. 

Lebih lanjut, Yola menerangkan, ada dua jenis barang yang disediakan.

Yakni berbahan plastik ataupun berbahan kayu.

Nah, bagi barang yang berbahan kayu dia memesan dari para perajin kayu rumahan.

Dengan cara ini, dia bisa turut membantu untuk mendongkrak perekonomian lokal.

Selain itu, masyarakat yang memiliki usaha kayu pun bisa ikut menikmati. 

‘’Yang berbahan kayu kami mengambil dari produk lokal,’’ terang dia. 

Sedangkan, untuk barang-barang berbahan plastik dia mencari di Surabaya dan daerah lainnya.

Untuk bekerja, dia tak sendirian. Ditemani suaminya dan adik iparnya. 

Tak perlu menyita banyak waktu untuk melakukan ini.

Meski dirinya terdaftar sebagai tenaga honorer di Dinas Perindustrian dan Tenaga Kerja Bojonegoro.

Tapi, masih bisa melakukan pekerjaan dengan maksimal. 

‘’Tinggal mengatur waktu saja. Kan tidak lama untuk memproses barang-barang pesanan,’’ terangnya.

(bj/aam/nas/rod/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia