Minggu, 27 May 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Mengenal Bojonegoro Parrot Lovers, Pecinta Burung Paruh Bengkok 

Oleh: Wahyu Rizkiawan

Kamis, 17 May 2018 16:53 | editor : Ebiet A. Mubarok

KUMPUL BARENG: Anggota Komunitas Bojonegoro Parrot Lovers saat gathering bersama menerbangkan burung di salah satu lokasi wisata.

KUMPUL BARENG: Anggota Komunitas Bojonegoro Parrot Lovers saat gathering bersama menerbangkan burung di salah satu lokasi wisata. (Wahyu Rizkiawan/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Dengan menenteng tas kotak plastik berisi burung, sejumlah pemuda memarkir motor di salah satu kafe di Jalan Jaksa Agung Suprapto, Kota Bojonegoro. Pemuda-pemuda itu memang berbincang tentang burung yang mereka pelihara. Namun, ada yang berbeda. 

Jika pemelihara burung pada umumnya membahas seberapa jauh ocehan peliharaannya, mereka tidak sedikit pun membahas perkembangan ocehan. Mereka memperbincangkan aksi. 

“Nah, sebenarnya burung tidak harus dinilai dari ocehan saja, ini lebih ke aksinya,” kata Rizki Yuniargo Prasetya, salah satu anggota Bojonegoro Parrot Lovers (BPL). 

Komunitas ini dibentuk belum lama.  Yakni, pada awal Januari lalu. Di tengah gegap gempita penyuka burung ocehan, memang ada sejumlah pecinta burung lebih menekankan burung pada aksi. Dalam hal ini free flight (terbang bebas). Hanya, di Bojonegoro belum terlalu terlihat. Dari sanalah, pecinta burung itu dipersatukan oleh media sosial. Setelah bersepakat melakukan pertemuan, mereka pun membentuk komunitas pecinta burung bukan karena ocehannya, melainkan lebih pada aksi terbang bebasnya. 

Rizki tidak sendirian. Bersama Surya, Yuanda, Febri, Dimas, Eris, Galuh, Heru, Ado, dan Frengki, mereka mendirikan komunitas pecinta burung paruh bengkok dan memopulerkan aksi free flight daripada hanya sekadar ocehan saja.  

Komunitas yang awalnya hanya berisi dua hingga tiga orang tersebut, memang saat ini sedang berkembang. Sebab, kini banyak pecinta burung yang tidak hanya memandang burung sebagai objek oceh saja, melainkan bisa juga atraksi melalui terbang dan kembali lagi ke pemilik masing-masing. Atraksi itu kerap disebut sebagai free flight. Di sejumlah kota besar, burung free flight sudah tenar.

Pria 27 tahun itu menjelaskan, free flight merupakan gaya memelihara burung yang bukan berbasis pada ocehan. Melainkan pada aksi terbang-kembali yang dilakukan burung piaraan. Seperti halnya keplekan pada burung merpati, para pemilik burung free flight melepas burung piaraannya ke alam bebas. Bedanya, jika keplekan mampu membuat burung kembali karena pasangan betinanya, untuk free flight bergerak single. Tanpa ada pemicu sesama burung. 

“Cara memanggilnya bisa menggunakan peluit hingga menyebut nama burung itu,” ungkapnya.

Cara memainkan burung free flight memang dilepas di alam bebas, lalu setelah burung itu tidak terlihat oleh mata, pemeliharanya memanggil burung itu menggunakan peluit atau memanggil namanya. Tak butuh waktu lama, burung-burung itu mencari di mana letak para pemeliharanya. 

Jika dicermati sekilas, memang seperti magis. Sebab, burung itu kembali bukan karena ada pemicu layaknya merpati keplekan. Tapi, semua bisa dipelajari. Sebab, burung bisa menjadi free flight karena memang dilatih. Hampir semua burung free flight dilatih sejak kecil. Dari masa lolohan hingga mulai belajar terbang. 

“Lebih karena kedekatan pemelihara dengan burung piaraannya. Kalau sejak kecil diloloh dan kerap dielus-elus, tentu bisa dijadikan burung free flight,” kata Rizki. 

Bapak satu anak itu menjelaskan, untuk bisa menjadi burung free flight, sebenarnya hanya butuh waktu 3 bulan saja. Dari awal menetas hingga sampai belajar terbang, selama diloloh oleh si pemelihara, bisa dipastikan bisa dijadikan burung free flight. Namun, hanya jenis burung tertentu saja yang bisa dijadikan free flight. 

Jenis burung yang bisa dijadikan free flight hanya burung-burung berparuh bengkok seperti burung nuri, betet, parkit, hingga lovebird. Itu jenis burung-burung lokal. Sedangkan untuk burung impor seperti sun conure, falk, hingga macaw. Selain memiliki kesetiaan tinggi pada pemeliharanya, burung-burung parrot (berparuh bengkok) memiliki kecerdasan cukup bagus. 

Cara menjadikan burung menjadi free flight pun, kata Rizki, dilakukan secara bertahap. Setelah diambil dari indukan dan dilolohi sendiri untuk makannya, pada usia dua bulan dan memiliki bulu lengkap, bisa diajari fly to me. Seperti free flight, fly to me terbang dengan jarak dekat. Biasanya jarak pemelihara dengan burungnya hanya 10 sentimeter (cm), 50 cm, hingga 1 meter (m). jika sudah bisa dilepas dengan jarak 10 m dan bisa kembali, burung itu sudah bisa dijadikan free flight untuk dibawa ke alam bebas.  

Setiap pagi dan sore, BPL biasa berlatih di persawahan Jalan Lisman depan Kantor Polsek Kota Bojonegoro. Selain di sana, mereka juga kerap berlatih di persawahan Desa Pandanagung, Kecamatan Suko, Tuban. Karena untuk bisa melakukan free flight butuh lahan luas berbasis alam bebas, mereka selalu berlatih di persawahan.

(bj/zky/nas/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia