Jumat, 22 Jun 2018
radarbromo
icon featured
Features

Korban Terseret Bus Itu Tewas Sehari Sebelum Resepsi Pernikahannya

Minggu, 22 Oct 2017 02:52 | editor : Fandi Armanto

nahas, pasutri, pengantin baru, terseret bus, tewas tkp, karyawan koperasi, eratex, konfeksi, garmen

USAI AKAD: Ismail dan Sisi usai menikah di KUA. (Dok. Keluarga for Jawa Pos Radar Bromo)

Tenda untuk tamu sudah terpasang di rumah Sisi, warga Kelurahan Pilang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Tapi Sabtu sore (21/10), Sisi yang semestinya duduk di pelaminan, justru harus bersedih lantaran sehari sebelum hari bahagianya itu, dia kehilangan M Ismail, suaminya.

------------

Raut wajah wanita berhijab itu nampak sayu. Sisi lebih banyak terdiam, dan hanya membalas salam sekenanya, dari para pentakziah yang datang ke rumahnya. Dia masih tak percaya akan insiden yang terjadi Jumat (20/10) siang lalu.

Keluarga Sisi juga tak menyangka pesta pernikahan yang sejatinya digelar Sabtu (21/10). Padahal, undangan sudah tersebar. Bahkan kue-kue sudah dibuat. Rencana resepsi urung dilaksanakan setelah Ismail, suami Sisi, tertabrak bus di Rejoso Kabupaten Pasuruan.

nahas, pasutri, pengantin baru, terseret bus, tewas tkp, karyawan koperasi, eratex, konfeksi, garmen, honda scoopy

RINGSEK: Motor Honda Scoopy milik M Ismail usai mengalami kecelakaan di Rejoso, Jumat (20/10) lalu. (M Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Sisi dan keluarga besarnya mendapat kabar bahwa M Ismail, suaminya, mengalami kecelakaan di jalan raya Rejoso, tepatnya di daerah Arjosari. Kerabat seakan masih tak percaya, dan berharap kabar duka tersebut adalah berita bohong.

Keluarga Sisi rupanya sudah mengiklaskan. Ini ditandai dengan dilepasnya kuade pelaminan. Hanya terop (tenda untuk tamu undangan pernikahan, Red) yang dibiarkan terpasang. Terop itulah yang meneduhkan para pentakziah di rumah keluarga besarnya.

nahas, pasutri, pengantin baru, terseret bus, tewas tkp, karyawan koperasi, eratex, konfeksi, garmen, honda scoopy

TKP: Bus Restu Agung yang menabrak Ismail saat kejadian di Jalan Raya Rejoso, Jumat (20/10). (Istimewa)

Di rumah itu, Jawa Pos Radar Bromo ditemui Dwiyan Zakaria, kakak Sisi. Lelaki yang menjadi kakak ipar M Ismail itu, juga terlihat menerima tamu undangan yang tujuannya untuk bertakziah. Tamu semakin ramai, usai seluruh keluarga pulang dari acara pemakaman Ismail di Desa Kregenan, Kraksaan.

“Undangan sudah tersebar, kami tetap terima tamu dan melaksanakan tahlil. Besok (Minggu, 22/10) hari ketiganya,” terang Dwiyan Zakaria.

Sisi sendiri sejatinya sudah menikah dengan M Ismail, pada tanggal 2 bulan Dzulhijjah atau Agustus 24 Agustus lalu. Pernikahan itu baru berupa akad. Belum sampai untuk pesta pernikahan atau resepsi.

Setelah menikah, Sisi dan Ismail layaknya pasutri umumnya. Keduanya sama-sama bekerja. M Ismail adalah karyawan sebuah koperasi. Sementara Sisi adalah karyawan sebuah pabrik konfeksi di Kota Probolinggo.

Setelah menikah, keduanya juga disibukkan dengan pekerjaan mereka. Sisi dan Ismail juga masih sering berkunjung ke rumah orang tua mereka. Baik itu di Kregenan maupun di Pilang.

Ini juga diakui Maksum, 55, ayah M Ismail. Dia masih ingat saat anaknya membacakan akad nikah, di rumah Sisi. “Akad nikah anak saya sudah dua bulan lalu. Rencananya hari ini (Sabtu, 21/10) di rumah hendak menggelar selamatan saja, dan resepsinya di rumah mempelai wanita,” terang Maksum dengan mata berlinang.

Maksum mengaku, sebelum insiden kecelakaan yang menimpa Ismail, dia sempat mendapat firasat. Kedua firasat itu sama-sama dari mimpi. Pertama, sebelum salat Jumat (20/10), atau ketika insiden kecelakaan terjadi. “Saya tertidur dan sempat bermimpi. Dalam mimpi itu, Ismail tenggelam dan tidak dapat ditolong meskipun banyak yang ikut menolongnya. Sudah ditolong tapi tidak mampu ditolong,” terangnya.

Sehari sebelumnya, atau Kamis malam (19/10), Maksum juga bermimpi membangun rumah untuk anaknya. Namun rumah tersebut diperebutkan antara kedua putranya, yaitu Ismail dan Novel, kakak Ismail. “Di dalam mimpi saya, rumah belum rampung dibangun, kakaknya meminta karena sudah punya pekerjaan. Tapi Ismail juga meminta karena kerjanya masih belum nyaman,” terangnya.

Sembari berbicara, sesekali Maksum terlihat menyeka matanya. Apalagi, saat dia teringat akan kebiasaan baik Ismail. “Terkadang dia (Ismail) pulang ke rumah mertuanya di Kelurahan Pilang. Ismail hidup rukun dengan saudara lainnya,” terangnya.

Maksum mengatakan, dia pun berbahagia sebelum hari resepsi anaknya. Persiapan resepsi pernikahannya sudah 100 persen. Surat undangan sudah tersebar. Bahkan terop dan sound system sudah berdiri.

“Kue-kue sudah jadi, tamu-tamu banyak datang untuk membantu persiapan acara resepsi pernikahannya, hanya tinggal nunggu waktu hari H saja. Ternyata ada kejadian, kami langsung pulang, kuade dan sebagainya dibongkar lagi,” terangnya.

Di rumah duka, saat itu juga ada Santo, 34, atasan Ismail yang memimpin koperasi. Warga Kelurahan Pilang itu mengakui Ismail adalah sosok yang sopan santun dan pekerja keras. “Bahkan kurang dari tiga hari sebelum kejadian, banyak yang berbeda. Biasanya pulang kerja pukul 14.00 atau 15.00, Ismail sering pulang malam. Kami sempat makan malam bersama di kantor,” terang Santo.

Hal yang sama juga diungkapkan Susanti, 30, istri Yanto. Dia juga mengenal Ismail yang menjadi bawahan suaminya itu. Susanti mengaku, Ismail adalah karyawan yang selalu bersikap sopan. Orangnya santun dan jujur, pekerja keras, dan sering guyon,” terang Susanti.

Kini semua orang yang mengenal Ismail, hanya bisa mengenangnya. Lelaki tersebut mengalami kecelakaan saat pulang dari kerja, di kawasan Rejoso. Dia tertabrak bus Restu Agung dan sempat terseret sejauh 5 meter.

Semestinya Ismail duduk di kursi pelaminan, bersama Sisi. Di hari bahagianya itu, Ismail justru harus dimakamkan di tempat peristirahatan terakhir.

(br/fun/hil/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia