Selasa, 19 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

-- JARIK --

Senin, 13 Nov 2017 12:27 | editor : Muhammad Fahmi

jarik, cerpen

ILUSTRASI

“Dengar, Nak. Kau boleh memiliki sesuatu, asal kau rela dia pergi,” ujar bapak sambil melempar jaring. Deru ombak tak seberapa besar. Sedang mesin perahu yang sudah dimatikan, tak lagi membuat ikan-ikan lari menjauh. Justru, dengan suasana rembulan yang tak sempurna, ikan-ikan tak malu menuju permukaan.

“Kenapa kita harus memikirkan kepergiannya, Pak?” tanyaku penasaran. Bapak tersenyum sambil menyembulkan asap rokok yang kemudian asap putih itu menabrak mukaku.

“Karena kalau sudah ikhlas melepas, kau tak akan sakit hati saat ditinggal pergi.”

Aku tak mau memperpanjang nasehat bapak. Selama ini, setiap kali ada kesempatan berbicara, selalu bapak menyempilkan nasehat kehidupan. Sebagai anak seorang nelayan, tentu nasehat bapak tak jauh dari laut. “Sekali berlayar, pantang kembali ke belakang,” begitu ucapnya saat pertama kali mengajakku berlaut.

Entahlah. Sebagian besar nelayan yang notabene kawan bapak, seakan memiliki karakter sama. Amat bangga dengan profesi nelayan dan nenek moyang. Tentu, aku juga bangga memiliki kakek buyut yang berasal dari pulau seberang.

“Apa kakek Bapak juga dari Sulawesi?” tanyaku penasaran.

Bapak tersenyum sambil menunggu jaring selesai merangkap ikan. “Kau tau, Har. Buyutmu itu petangguh hebat. Dialah yang meminta teman-temannya menetap di Pagerungan.”

Kau tau, Kawan. Pagerungan memang termasuk kabupaten Sumenep, tetapi pulau ini justru lebih dekat dengan Sitobondo dan Bali. Bahkan, suku yang paling banyak mendiami pulau kecil ini adalah suku Bajo. Ya, kakek buyutku ini.

Jangan dilihat di peta negara. Nama Pagerungan tak bakal ditemukan. Seakan turut tenggelam diterjang gelombang. Padahal, keelokan Pagerungan tak kalah dengan pulau Dewata. Ya, tempat tinggalku masih terjaga. Rumah panggung, pasir putih masih terhampar. Kalau kau beruntung, jika cuaca cerah di pagi hari, kau akan melihat pulau Bali dari bibir pantai.

Tak ayal, para penghuni Pagerungan yang sebagian sudah berkeluarga dengan suku Madura asli, terdiri dari kalangan lanjut usia. Para kawula muda banyak yang merantau. Jiwa petualang sudah mendarah daging dari nenek moyang, membuatnya berani pergi ke tanah orang. Kendati tak mengarungi lautan seperti bapak dan nelayan yang lain, mereka tak kalah tangguh soal mengarungi hidup.

“Ah, lihatlah, Har! Hasil tangkapan kita sangat banyak. Kalau begini terus setiap hari, aku bisa menyekolahkanmu sampai ke Eropa.”

Aku tertawa mendengar ucapan bapak. Memang hasil tangkapan ikan kali ini amat banyak dan besar-besar, tetapi soal Eropa itu berbeda. Bukan mengecilkan niat, tetapi bapak sendiri tak tau letak Eropa di mana. Bapak hanya mengenalnya lewat pertandingan bola. Itu saja.

“Sepulang dari menjual ikan, kita mampir sejenak ke pasar. Sudah lama aku tak memberi ibumu hadiah,” ujarnya sambil memandang ribuan bintang.

Saat fajar mulai menengok dari arah timur, biasanya, ibu-ibu sudah menunggu di pinggir pantai. Menanti kedatangan suami yang telah pergi semalam suntuk mencari ikan. Aku sendiri tak melihat wajah ibu yang biasanya duduk di dekat pohon bakau. Ah, tak apa. Barangkali ibu sedang di dapur. Memasak makanan kesukaanku dan bapak. Apalagi kalau bukan sambal petai.

Pasar yang bakal kutuju tak jauh letaknya dari jangkar. Di ujung jalan itulah, toko emas Wan Ali sudah berdiri semenjak negara ini selesai krisis moneter. Konon katanya, Wan Ali yang keturunan Arab ini sengaja pergi ke Pagerungan karena kena imbas di Jakarta. Entah ia mengenal Pagerungan darimana, aku tak tanya.

Berbagai perhiasan dipajang. Bapak sendiri sibuk menunjuk beberapa kalung. Entah mengapa, sejak menjual ikan dan menerima uang dari Lek Dar, bapak sering mengumbar senyum. Pun begitu saat memilih kalung untuk ibu. Sambil bersiul-siul, bapak membayar dan berjalan mendahuluiku di depan.

“Hey, Har. Kau mau beli sepatu bola?”

Aku mengangguk cepat. “Tapi, apa uangnya cukup, Pak?” tanyaku lirih.

“Tak apa. Nanti kita melaut lagi, kita jual, dapat uang kembali.”

Aku meloncat kegirangan. Selama ini, aku hanya sering memimpikan sepatu yang memilki gerigi di bawah itu. Dan sekarang aku bakal memilikinya. Kendati tak sebagus pemain bola profesional, setidaknya, di liga pelajar Minggu depan, aku sudah bisa memakai sepatu bola.

“Kau senang?” tanya bapak sambil melihatku yang ikut senyum-senyum sendiri di sepanjang jalan pulang.

“Bagaimana kalau ibu marah?”

“Wajar ibumu marah. Sebagai isteri dan seorang ibu, dialah yang mengatur keuangan keluarga. Tetapi, tak ada salahnya memberinya sedikit kesenangan. Toh, kita tidak menghambur-hamburkan uang.”

Aku mengangguk setuju. Sambil menimang-nimang plastik berisi sepatu, aku berjalan di belakang bapak. Sayangnya, di sepanjang jalan ke rumah, orang-orang melihatku tak nyaman. Mungkin mereka iri melihat orang lain bahagia. Ah, tidak. Mereka seakan menampakkan wajah belas kasih. Bapak sendiri tak lagi senyum-senyum sendiri. Langkahnya juga semakin cepat menuju rumah. Aku juga ikut berjalan cepat. Orang-orang bahkan sudah berkumpul di depan rumah. Mereka menahanku masuk ke dalam. Tapi aku penasaran. Aku ikut menyelinap saja ke dalam rumah.

Sesampainya di dalam, tubuh ibu sudah bersimbah darah. Pisau menancap di perut. Sedang tubuhnya tak mengenakan sehelai kain. Bapak yang melihatku berdiri terpaku di samping ranjang, mengambil kain jarik di lemari lalu menutupi tubuh ibu. Bapak kemudian pergi ke dapur mengambil celurit, lalu keluar.

Beberapa orang berusaha menahan bapak, tetapi bapak terus berjalan  ke arah Ra’is, juragan ikan. Bapak kemudian berteriak memanggil nama juragan itu, lalu menantangnya berkelahi. Ra’is hanya tertawa, tetapi mata bapak yang tak pernah kulihat setajam ini, mendekat ke arah Ra’is hingga keduanya carok.

Aku yang masih memeluk plastik berisi sepatu ini, berdiri gemetar melihat keduanya bertarung. Hingga akhirnya bapak berhasil menebas perut Ra’is, lalu bapak menarikku ke atas perahu. Kembali ke laut.

“Kenapa ibu mati, Pak?” tanyaku memberanikan diri.

“Bhelik poteh tolang tembheng poteh deghing. Lebih baik mati daripada hidup menanggung malu,” katanya dengan tatapan amarah. Aku tak tau perihal peribahasa ini. Dan aku baru tau, setelah bapak mati. Katanya, ibu sengaja bunuh diri karena usai disetubuhi Ra’is, si juragan ikan itu.


Oleh: Nurillah. Alumni Ponpes Al-Amien Prenduan, Sumenep, Madura

(br/jpk/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia