Minggu, 24 Jun 2018
radarbromo
icon featured
Features

Mau Cari Aksesoris Sangkar Burung, Coba Datang ke Desa Ini

Kamis, 11 Jan 2018 09:35 | editor : Fandi Armanto

burung, desa parasrejo, sangkar burung, aksesoris, kerajinan, kerajinan kayu, limbah kayu

DIKERJAKAN KAUM HAWA: Dua perempuan di parasrejo menyelesaikan pengerjaan sangkar burung. Pembuatan sangkar burung di desa ini menggeliat kurun waktu beberapa tahun. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

JANGAN pandang limbah kayu tak berguna. Di tangan kreatif, limbah kayu yang tak terpakai masih bisa dibuat aneka kerajinan sangkar burung seperti di Desa Parasrejo yang dipasarkan hingga luar pulau ini.

------------

Sejumlah warga tampak sibuk memotong kayu berukuran 50 x 100 sentimeter siang itu (5/1). Kayu-kayu yang sudah terpotong itu dipilah. Sejurus kemudian, tampak pria berkaus cokelat mengambil potongan kayu itu dan mulai menghaluskannya menjadi beberapa bagian.

“Setelah dihaluskan, kayu yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian itu dibentuk sesuai permintaan pesanan,” ungkap salah satu pekerja di tempat pembuatan aksesori sangkar burung di Dusun Penulupan, Desa Parasrejo, Pohjentrek.

Kades Parasrejo As’ari mengungkapkan, ada 2 lokasi pembuatan aksesori sangkar burung di desanya. Yakni, di Dusun Penulupan dan Dusun Paras. Kedua usaha itu adalah miliknya yang didirikan pada 2010 silam.

Ihwal pendirian usaha itu, disebabkan ia memiliki hobi memelihara burung. Mulai burung cucak ijo, kenari, hingga murai. Di sisi lain, harga aksesori sangkar burung cukup mahal. Karena itulah, ia lantas membuat kerajinan aksesori sangkar.

“Memang awalnya bermula dari hobi memelihara burung. Selain itu, paling tidak usaha ini mampu meningkatkan perekonomian warga. Dari dua usaha yang saya miliki, saya dapat menyerap 12 orang pekerja,” terangnya.

As’ari menyebut, bahan bakunya didapat dari limbah kayu yang tidak terpakai. Limbah kayu itu dibeli dengan harga Rp 5000 per sak. Limbah kayu ini lantas disulapnya menjadi beragam bentuk aksesori seperti tempat makan, tempat telur, kerekan, dan centelan sangkar di tembok.

Dalam sehari, usaha yang digagas kades itu mampu menghasilkan sampai 2.000 buah aksesori sangkar. Aksesori ini dijual dengan harga yang bervariasi. Rata-rata dijual dengan harga Rp 1.000 sampai Rp 3.500 per biji. Penjualannya pun sampai luar pulau Jawa yakni Kalimantan.

“Alhamdulillah, dari awalnya cuma iseng dan coba-coba, ternyata hobi saya dapat menambah penghasilan. Bahkan, meningkatkan perekonomian warga. Keuntungan saya per bijinya sekitar Rp 400,” ungkap As’ari.

burung, desa parasrejo, sangkar burung, aksesoris, kerajinan, kerajinan kayu, limbah kayu

GARAPAN TANGAN: Pembuat sangkar burung di Parasrejo menghaluskan kayu untuk sangkar burung. (Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)

(br/riz/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia