Minggu, 27 May 2018
radarbromo
icon-featured
Ono-ono Ae

Oalah, Hubungan Mertua-Menantu Berubah setelah Tinggal Serumah

Minggu, 04 Feb 2018 19:00 | editor : Fandi Armanto

ono ono ae, tole, minthul

ILUSTRASI (Achmad Syaifudin/Jawa Pos Radar Bromo)

“JAUH disayang dan dekat dibuang”. Mungkin itu peribahasa yang cocok untuk hubungan Minthul (nama samaran), 25, warga Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan dengan mertuanya, alias ibu Tole (juga nama samaran), 29. Merasa disayang dan cocok dengan ibu mertuanya, Minthulpun rela diajak tinggal bareng.

Namun, itu hanya sementara. Ternyata setelah tinggal serumah, keduanya malah sering cekcok. Kondisi itu berdampak pada rumah tangga Tole dan Minthul. Hingga akhirnya, mereka mengakhiri kisah asmaranya di Pengadilan Agama (PA) Bangil.

Minthul mengatakan, sebelum menikah, ia memang sempat pacaran dengan Tole. Dari situ, Minthul merasa bahwa ibu mertuanya baik. Bahkan mau menerima Minthul sebagai menantunya. “Dulu sejak pacaran, ibu Tole memang baik dan perhatian sama saya. Termasuk kalau ada masalah sama Tole, selalu tanya ke saya,” ujarnya.

Karena itu, saat ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan, tak ada masalah dengan keluarga besar. Sehingga pernikahanpun berjalan dengan lancar. Setelah menikah, Minthul dan Tolepun sempat tinggal terpisah. Lantaran Tole ditempatkan di luar kota. Saat itu, Minthul memang memilih bertahan di rumah orang tuanya.

Setelah menikah, hubungan Minthul dan ibu mertuanya semakin baik. Ibu mertuanya sering menelepon menanyakan kabar Minthul. “Bahkan sering tanya sudah makan apa belum? Apalagi pas saya hamil, selalu ditanyakan kondisi kehamilan,” ujarnya.

Setelah Minthul hamil 6 bulan, Tole dipindah tugaskan ke Pasuruan. Setelah itu, baru Tole mengajak Minthul untuk pindah ke rumah orangtuanya. “Saya mau saja. Apalagi selama ini melihat ibu mertua juga baik,” ungkapnya. Sehingga, dari hamil sampai lahiran, ibu mertuanya memang mendampingi Minthul. Tak hanya itu, mertuanya juga membantu merawat buah hatinya.

Tapi, sejak tinggal bersama dalam kurun waktu yang lama itulah, sifat mertuanya yang ia tidak sukai mulai muncul. Apalagi setelah anaknya lahir, mulai banyak perubahan dari sikap ibu mertuanya. Dari yang awalnya dulu sayang dan perhatian, tiba-tiba jadi cerewet.

Termasuk sering memarahi Minthul ketika pekerjaannya dianggap kurang baik. Minthul sendiri setelah menikah, memang hanya menjadi ibu rumah tangga. Sehingga berada di rumah dan mengurusi semua pekerjaan rumah tangga. Minthul mengeluh, karena capek mengurus anak, ditambah mengurus pekerjaan rumah.

“Tapi kata Tole ya itu tugas ibu rumah tangga. Tapi kalau capek dan ibu mertua udah kayak bos di rumah, lama-lama juga geregetan,” ungkapnya. Bahkan keluhan terhadap perubahan sikap ibu mertunya, dinilai tak masuk akal bagi Tole. Minthulpun tak tahan lagi dan memilih untuk pindah ke rumah orangtuanya sendiri.

Keputusan itu justru membuat Tole kecewa, karena dinilai kekanak-kanakan. “Saya gak kuat, akhirnya pilih minggat bawa anak. Tole sendiri gak mau menjemput saya, katanya saya seenaknya sendiri gak mau berkorban untuk suami. Karena sudah gak ada jalan tengah, akhirnya ya bercerai saja,” jelasnya.

(br/eka/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia