Jumat, 22 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Dialog Setan

Minggu, 11 Feb 2018 15:24 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, dialog setan

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

DENGAN hati-hati lelaki itu menyusuri setapak kecil. Tak berselang lama, tampaklah gubuk kecil itu. Bentuknya masih sama seperti 2 bulan yang lalu, saat terakhir kali ia pergi ke sana. Gubuk itu seperti biasa mengeluarkan aura yang tidak mengenakkan, membuat orang menjadi merinding dan enggan mampir. Aura yang terasa seperti tangan tidak terlihat yang melindungi gubuk itu dari jamahan tamu tak diundang.

Segera ia memasuki gubuk itu, karena memang gubuk itu tidak pernah terkunci. Lelaki itu pun segera membakar sesuatu, asap lantas mengepul dahsyat. Lalu perlahan beranjak surut dan terdengarlah suara asing dari kepulan asap tersebut.

”Kali ini apalagi yang kau minta?” tanya suara tersebut.

“Aku hanya minta kau memanipulasi takdirku!” jawab lelaki itu mantap.

“Aku tidak bisa melakukan itu lagi! Langit sekarang dijaga lebih ketat dari sebelumnya. Mencuri takdir bukan lagi hal yang mudah!”

“Tidak mungkin, kau adalah salah satu mahluk terhebat di dunia ini.”

“Tidak lagi, kini langit dijaga semakin ketat!”

“Tidak mungkin, selama ini kau telah banyak membantuku. Meski aku tahu aku ini juga sakti, tapi dengan bantuanmu semua pekerjaanku menjadi semakin rapi dan tidak terendus. Tidakkah kau bisa melakukannya lagi? Mencuri takdir langit?” lelaki itu mencoba meyakinkan sosok dalam kepulan asap itu.

“Hal ini tidak semudah dulu, gara-gara tingkah lakumu yang kelewat batas, langit pun kini dijaga dengan sangat ketat. Status gawat darurat diberlakukan selama lebih dari dua bulan. Semua itu karena kegaduhan di dunia yang kau sebabkan!” balas sosok dalam kepulan asap itu menyalahkan lelaki tersebut.

“Jika kau tidak bisa mencuri takdir langit untukku, bisakah kau menyembunyikanku?”

“Hahahahah...” sosok itu hanya tertawa mendengar permintaan si lelaki. Lantas sosok itu pun berkata.

“Aku sungguh bahagia saat dulu kau memanggilku. Kau menyediakan berbagai sesajen serta hal-hal kesukaanku. Setiap tumbal yang aku minta dengan senang hati kau sediakan dan penuhi. Sebagai balasannya aku melakukan semua permintaanmu dengan senang hati pula. Kau tahu, walaupun aku adalah setan, tapi aku juga tahu balas budi. Tapi maaf, kali ini aku sudah tidak bisa membantumu lagi!”

“Ayolah, kau hanya perlu menghilangkan barang bukti atas semua dugaan korupsi dengan namaku. Kau juga tinggal mencelakai para penyidik yang berusaha mengorek informasi tentangku, mudah kan? Kau tak perlu bolak-balik ke langit mencuri kabar langit!” lelaki itu mencoba meyakinkan sosok itu lagi.

“Hahahaha berapa kali pun kau mencoba untuk merayuku, aku tidak akan pernah mau lagi membantumu. Membantu orang sepertimu sungguh sangat beresiko! Toh kau bilang hal-hal itu dapat dilakukan dengan mudah. Kenapa tidak kau lakukan sendiri?” sosok itu membalas sang lelaki.

Lelaki itu pun mundur beberapa langkah, berpikir sejenak apa yang sebaiknya dia lakukan. Sekelebat muncul kolase tentang headline-headline media massa yang memasang namanya sebagai bahasan utama. Memang namanya sudah mendunia. Siapa yang tidak tahu nama lelaki itu. Mugeni. Tersangka utama kasus mega korupsi pembangunan infrastruktur serta bantuan sosial negara.

Mugeni mencoba berpikir lagi, bagaimana caranya ia bisa kabur dan lepas dari belitan masalah yang kini menderanya. Sedangkan sosok yang selama ini dengan senang hati membantunya, kini bertepuk sebelah tangan. Tidak mampu lagi membantu Mugeni.

Siapa yang akan menyangka jika selama ini aksi korupsi Mugeni dibantu oleh mahluk gaib yang dengan lihai mencuri kabar langit. Sehingga Mugeni dengan mudah berkilah serta lepas dari jeratan para penyidik serta pihak yang berusaha memenjarakannya.

Mungkin benar apa yang dikatakan oleh sosok itu. Ini adalah saatnya Mugeni mengalah, menyerahkan diri kepada yang berwajib agar semuanya lekas tuntas dan selesai. Tapi sisi lain Mugeni menolak hal tersebut. Dengan berbagai cara ia harus bisa lepas dari akal bulus serta jeratan para penegak hukum yang kini bersekongkol dengan para malaikat.

Setiap orang punya hak asasi, dan bebas merupakan hak asasi bagiku. Kilah Mugeni dalam hati.

“Tidakkah kau bisa mencobanya lagi? Memberiku bantuan kecil untuk yang terakhir kalinya?” Mugeni meminta bantuan kepada sosok itu kembali.

“Maaf, aku sudah tidak bisa lagi membantumu. Jika aku memaksakan diri untuk membantumu, maka bukan hanya kau, tapi akupun juga akan musnah,” tolak sosok itu.

“Dasar setan!” Mugeni marah.

“Aku memang setan, dan siapa suruh kau meminta bantuanku? Hahahaha aku hanya bisa tertawa melihat manusia! Mereka mengemis meminta bantuan karena ketamakan mereka yang tidak pernah terpenuhi, ahhahaha. Dasar manusia lebih terkutuk daripada aku!” balas sosok itu merendahkan Mugeni.

“Kurang ajar! Jika kau memang tidak bisa membantuku, lebih baik aku pergi saja!”

“Silahkan pergi. Dengan senang hati aku menerima kepergianmu, suatu hari manusia bodoh lain pasti datang dan meminta bantuanku! Hahahahhahah.“

“Lihat saja, tanpa bantuanmu aku pasti bisa lepas dari kejaran mereka. Akan kutunjukkan jika bukan hanya setan yang sakti, tapi manusia pun juga sakti.”

Mugeni pun melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Segera setelah telepon genggamnya menangkap sinyal dari operator, dia hubungi sebuah nomer. Ponsel berbunyi tut tut pendek lalu terhubung dengan orang di seberang sana.

“Hapus semua barang bukti, dan siapkan drama terbaik untuk menunda penyidikanku.”

“Siap!” balas suara di seberang sana.

Mugeni pun segera menghidupkan mobilnya dan pergi entah kemana?


Oleh: Rahman Kamal, Peserta didik Lembaga Pengembangan Bahasa Asing, siswa SMA Nurul Jadid

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia