Jumat, 22 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Hantu di Persimpangan Jalan

Senin, 19 Feb 2018 18:59 | editor : Fandi Armanto

cerpen, radar bromo, ruang publik, hantu di persimpangan jalan

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

BARANGKALI memang sudah waktunya aku harus menceritakan semua kesalahpahaman yang telah terjadi. Sudah terlalu banyak korban yang berjatuhan di persimpangan jalan di sekitar tempatku berpijak. Aku tak mau selamanya menanggung rasa bersalah, meskipun semua yang terjadi bukanlah karena perbuatanku. Seandainya saja para pengendara kendaraan bermotor itu sedikit berkompromi dengan naluri dan nafsunya, niscaya mereka tak perlu runyam membikin urusan dengan hantu yang konon bersemayam di persimpangan jalan ini.

***

Sudah menjadi rahasia umum bila persimpangan jalan ini adalah tempat angker. Semuanya bermula tatkala terjadi kecelakaan beberapa tahun yang lalu. Dimana korban berkelamin laki-laki itu ditemukan mati dan tergeletak tepat di tengah persimpangan jalan, yang menjadi titik temu dari tiga ruas jalan yang berbeda arah. Kondisi korban tabrak lari tersebut sungguh mengenaskan, karena kepalanya terlepas dari tubuhnya. Dan hingga kini kepala tersebut tak berhasil diketemukan. Semenjak itu, tiap kali terjadi kecelakaan di persimpangan jalan. Para tukang becak yang biasa mangkal tak jauh dari tempat ini akan ramai menuduh arwahnya sebagai biang keladi.

“Wah, pasti ulah hantu kepala buntung lagi”

“Entah sampai kapan dia akan tetap bergentayangan di persimpangan jalan ini”

“Sepertinya dia masih ingin menuntut balas kepada para pengguna jalan”

Begitu gerutu para tukang becak menggunjingkan keberadaannya.

Sebenarnya aku sendiri tak pernah tahu seperti apa wujud hantu tersebut. Meskipun sama-sama benda mati, tapi sepertinya ia tak dapat dilihat manusia bila hanya dengan menggunakan mata telanjang. Berbeda denganku, yang selalu menjadi pusat perhatian saat para pengendara melintasi persimpangan jalan ini.

Aku pun juga masih menyangsikan bahwa rentetan kecelakaan yang terjadi selama ini adalah karena ulah hantu kepala buntung. Karena sepanjang pengamatanku, seringkali kecelakaan yang terjadi karena para pengguna jalan kurang bijak dengan mengabaikan peringatan yang telah kuberikan.

Padahal sebagai makhluk yang dibekali akal. Seharusnya mereka mengerti tiap kali aku memberi isyarat untuk berhati-hati. Tapi nyatanya, mereka sama sekali enggan menggubrisku. Malah seringkali terdengar umpatan dan suara klakson yang menderu tatkala mereka harus berhenti lama di depanku. Dengan kata lain, aku harus tunduk dengan kemauan mereka, tanpa pernah menyadari tugasku di sini untuk apa.

***

Kemarin, menjelang dinihari. Tepat di hadapanku kecelakaan besar kembali terjadi. Kali ini melibatkan satu truk kontainer, lima sepeda motor, dan dua mobil. Korban-korban bergelimpangan di sana-sini, baik yang terluka maupun yang sudah mati. Semburan  darah segar juga turut melumuri seluruh tubuhku, karena salah satu tubuh korban terlempar dan menghantam tubuhku. Dan tentu saja, ia langsung terkapar. Karena tubuhku yang begitu kokoh.

Suasana saat itu begitu mencekam. Rintih kesakitan dan lenguh getir memilukan bersahut-sahutan dengan sirine ambulans yang mondar-mandir mengevakuasi para korban. Para warga sekitar pun juga berdoyong-doyong datang untuk membantu kelancaran evakuasi.

Tak ketinggalan pula para jurnalis berbondong-bondong datang meskipun tak ada yang mengundang. Mereka sibuk mengorek informasi seputar terjadinya kecelakaan dari saksi mata yang ada di sekitar tempat kejadian. Kebetulan, yang diwawancarai adalah salah satu tukang becak yang biasa mangkal di pinggir jalan tempat kecelakaan terjadi.

“Pak, bisa diceritakan kronologis terjadinya kecelakaan?. Siapa yang menjadi pemicu dalam kecelakaan ini?. Tentunya tadi Bapak melihat dengan jelas, ‘kan?!” rentetan pertanyaan dari jurnalis wanita itu menyembur di hadapan tukang becak.

Tukang becak tersebut sempat terdiam beberapa saat.

“Mbak, saya harus jawab yang mana dulu?” jawabnya lugu.

“Terserah Bapak saja!” sergah si jurnalis seperti tak sabar.

“Jadi, tadi truk kontainer itu melaju dengan kecepatan sangat tinggi. Demikian juga dengan beberapa sepeda motor dan mobil dari arah yang berbeda. Akhirnya tepat di tengah persimpangan jalan mereka bertemu dan saling hantam. Seharusnya mereka sudah mengerti, bahwa persimpangan jalan ini adalah tempat angker. Semestinya mereka harus berhati-hati bila melewati daerah ini.” ujar bapak tukang becak seraya menyeka peluh di keningnya.

Si jurnalis pun lekas terperangah.

”Hah, hantu kepala buntung?. Siapa dia, Pak?. Apakah dia hantu penunggu persimpangan jalan ini?!” lontaran pertanyaan jurnalis ini kembali menghambur dari bibir tipisnya.

Sampai di sini aku tak menghiraukan lagi percakapan mereka. Karena aku tahu, ujung-ujungnya pasti hantu kepala buntung yang akan disalahkan. Padahal, jika jurnalis wanita bergigi kelinci itu mau menanyakan kepadaku. Aku akan memberikan kronologis kecelakaan secara detail dan dapat dipertanggungjawabkan. Tapi begitulah tabiat kebanyakan manusia. Lebih menyukai hal-hal mistis daripada penjelasan logis.

***

Malam ini, warga sekitar sepakat mengundang paranormal untuk menggelar ritual pengusiran arwah hantu kepala buntung. Semerbak wangi kemenyan menyeruak di sekitar persimpangan jalan. Sang paranormal kemudian mulai komat-kamit merapal mantra yang tak aku mengerti maksudnya, sembari menebarkan sejumput kembang setaman di tengah persimpangan jalan.“Semoga tidak akan ada lagi kecelakaan di tempat ini” ucap paranormal dengan takzim.Yang kemudian lekas diamini oleh para warga.

Perlahan kemudian ritual pengusiran hantu kepala buntung selesai dilakukan. Para warga termasuk tukang becak berangsur meninggalkan tempat dan kembali pulang ke rumah masing-masing. Persimpangan jalan kembali lengang dan mendadak menyeramkan. Hanya terdengar gemerisik ranting pepohonan yang diterpa semilir angin malam. Serta riuh kelepak sayap kelelawar yang membuat malam semakin bergetar. Barangkali ritual yang baru saja dilakukan oleh warga mengganggu ketenangannya, batinku.

“Kenapa selalu aku yang disalahkan?!. Dasar manusia-manusia kurang kerjaan!” Tetiba saja terdengar umpatan yang sepertinya tak jauh dari tempatku berpijak. “Jelas-jelas kecelakaan kemarin terjadi karena kesalahan mereka sendiri; Sejak kapan truk kontainer diperbolehkan lewat persimpangan ini?!. Siapa yang suruh para pengendara mobil itu menerobos lampu lalu-lintas?!. Belum lagi, banyak pengendara motor seenak jidatnya melawan arus!.” Suara itu nyerocos tak karuan. Seolah menumpahkan semua kekesalan yang selama ini dipendam.

Aku sendiri mendadak bergidik. Mencoba menerka-nerka darimana muasal sumber suara. Karena tak ada seorang pun yang ada di sekitarku. Tetapi, dari apa yang ia ucapkan memang ada benarnya. Sebab memang demikianlah kronologi kecelakaan yang terjadi kemarin. Tetapi, siapa yang ada di balik suara itu?!.

“Arwahku memang masih gentayangan di persimpangan jalan ini. Tapi tak sekalipun aku mengganggu pengguna jalan yang melintas di sini. Bagaimana mau mengganggu, sedang aku sendiri masih sibuk mencari kepalaku!” tegasnya kemudian, seolah ingin menjawab pertanyaanku.

Aku hanya termangu mendengarkan celotehannya. Bingung antara harus merasa takut atau malah menahan geli. Akhirnya kuberanikan diri untuk sedikit menggodanya. “Katanya tidak punya kepala, tapi kok masih bisa bicara?”.

“Hei, kau sendiri cuma lampu lalu-lintas. Kenapa juga malah bisa bercerita?!”, hardiknya.

Seketika suasana persimpangan jalan bertambah hening. Dan aku akhiri cerita sampai di sini.


Oleh: Wahyu Christian Adi Setya, Tinggal di Dringu, Anggota Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia

(br/jpk/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia