Senin, 18 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

Arwah Si Tarno

Minggu, 25 Feb 2018 21:29 | editor : Muhammad Fahmi

cerpen, radar bromo, ruang publik, arwah si tarno

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

TARNO tidak pernah mengeluh dalam bekerja. Semua tugas yang diberikan padanya, rampung tanpa satu kecacatan apapun. Teman-temannya dan juga juragannya kagum pada si Tarno. Kadang, ketika temannya sudah merasa lelah, Tarno tidak telat menawarkan diri membantu temannya. Sering kali temannya merasa tidak enak, tapi mau bagaimana lagi, Tarno selalu memaksa. Jika ada penobatan karyawan terajin, Tarno pasti akan selalu Juara.

Bila menengok ke belakang, ketika Belanda dan Jepang menjajah, Belanda akan bangga mempunyai budak seperti Tarno. Sedetik pun ia tidak berhenti kalau pekerjaannya belum selesai. Yang demikian itu, pastilah termasuk kategori pekerja yang dicari oleh Belanda dan Jepang.

Tidak jarang juga, pengusaha-pengusaha yang tertarik menjadikan Tarno karyawannya, saat melihat Tarno beraksi. Beberapa kali, pengusaha itu menawarkan uang pada Juragannya Tarno agar dia mau melepas Tarno dan Pengusaha itu bisa memiliki karyawan seperti Tarno. Namun, Juragan itu menolak mentah-mentah. Ia masih membutuhkan tenaga Tarno.

Tarno adalah orang desa yang merantau ke kota. Desa yang memiliki tradisi aneh.

Walaupun ia hanya menjadi cleaning service, ia tetap mensyukurinya. Ketika bekerja dan kemanapun ia pergi, celana panjang sampai menutupi kaki, selalu ia pakai. Banyak yang menertawakan, banyak yang menegurnya, tapi ia tidak memperdulikan satupun omongan mereka.

Ia bekerja di Motel bukan apartemen atau kantor seperti yang kalian bayangkan. Motel yang berukuran luas, menjadi tempat Tarno mengadu nasibnya. Ia harus mengumpulkan uang yang banyak, begitulah motivasinya datang kemari.

Dulu, waktu Tarno diterima kerja di Motel, ia tidak mau memanggil pemilik Motel itu Bos. Ia memilih memanggil Juragan, ketika teman-temannya menanyakan hal itu, ia hanya tersenyum dan tak mau menjawabnya.

***

Matahari memanggang bumi, panas mulai melata di kulit-kulit penduduknya. Mereka, berteduh, mencari tempat untuk menghindari panasnya siang ini. Tarno dan teman-temannya santai saja dengan keadaan siang ini, sebab mereka bekerja di dalam Motel dengan suhu dingin yang menyejukan.

Seperti hari-hari sebelumnya, hanya lima orang yang dipekerjakan untuk membersihkan motel yang sangat luas ini. dengan alasan apa, Tarno tidak tahu mengapa hanya lima orang saja yang diperkerjakan.Terbesit keinginan Tarno untuk menanyakan hal demikian, namun dia sadar, dia hanya karyawan yang harus menerima apa yang diperintahkan oleh atasan.

Teman-temannya menyerah ketika mereka sudah hampir lima jam membersihkan Motel ini. nyeri otot, penyeri pinggul karena terlalu lama merunduk, mengepel. Tarno menawarkan diri ketika melihat temannya yang nafasnya tersengal-sengal, kelelahan.

“Tidak perlu Tarno, kau sudah terlalu capek. Beristirahat lah. Akan aku lanjutkan sebentar lagi.”

Tarno tak menggubris perkataan temannya. Tanganya lincah, menyambar sapu yang tersandar di dinding. Mulai lah dia menyapu, melanjutkan temannya. Temannya berdiri, berniat menghentikan Tarno, namun Tarno meminta temannya untuk duduk kembali.

“Aku tidak tahu, harus membalas dengan apa kebaikanmu selama ini Tarno. Sungguh kata terimakasihku tak mampu membalasnya.” Temannya terkagum-kagum dengan Tarno.

Waktu istirahat pun tiba. Mereka mengajak Tarno untuk makan di warung makan depan Motel ini. mereka terkejut saat Tarno mengiyakan tawaran mereka. Padahal, sebelum-sebelumnya ia tak pernah mau makan dengan mereka.

Tarno berpamitan untuk pulang ketika sudah sampai di depan warung makan. teman-temannya, bertanya heran. Kata Tarno, ia sudah makan dan sudah kenyang sejak tadi pagi. Tarno berbohong, ia tidak pernah makan pagi sejak kecil.

***

Malam hari, Tarno dan Parno sedang duduk, menikmati cahaya rembulan yang merambati tubuh dengan manja. Secangkir kopi, dan sebungkus rokok tergeletak di samping mereka. Mata mereka memandang ke langit hitam, di penuhi bintang-bintang.

“Aku selama ini tidak pernah melihatmu makan atau minum.” Penjelasan Parno merubah arah pandang Tarno.

“Dan kau tidak pernah merasa lelah. Kamu memang manusia yang unik dan aneh bagiku.”

Lagi-lagi ia tak mau menjawab, hanya tersenyum lalu kembali lagi memandangi langit. Tarno tidak mau diganggu bila sedang memandangi langit. Parno memahami hal itu, sehingga ia lebih memilih untuk diam dan menatap bintang-bintang yang genit saling menggoda.

Selain yang disebutkan oleh Parno tadi, ada hal yang lebih aneh lagi dari Tarno. Setiap gajian, ia meminta juragan menyimpan uang belanjanya, kata Tarno ia ingin menabung untuk kembali ke desa, makanya ia titipkan. Untung saja juraganya baik, juga bisa tanggungjawab.

Selain dua itu masih banyak lagi keanehan tentang Tarno yang menjadi perbincangan hangat para teman-temannya. Namun karena merasa tidak enak, mereka merahasiakan perbincangan dari Tarno.

Pernah dulu, juragannya kehilangan cincin pernikahannya. Semua orang dikerahkan untuk mencarinya, mulai dari staff, manager, dan lain-lain kecuali Tarno dan teman-teman. namun hanya tangan kosong yang mereka bawa. Secara mengejutkan, Tarno malah meminta izin juragannya untuk mencari cincin itu. tiga hari ia mencari, akhirnya ketemu cinci milik juragannya itu. sungguh hanya Tarno yang bisa. Guman teman-temannya ketika Tarno berhasil.

***

Setelah uang yang dirasa cukup, Tarno memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Ia meminta sedikit gaji untuknya pulang. Sempat Juragannya ingin mengadakan acara perpisahan yang meriah, tapi Tarno menolak. Ia hanya meminta supaya gajinya yang lain diantar sendiri oleh juragan ke kampungnya. Karena Tarno adalah orang yang teramat dicintai bosnya, tanpa berpikir panjang, si juragan mau.

Esoknya, Si juragan berangkat bersama teman-teman Tarno. Mereka menuju alamat yang diberikan oleh Tarno. Berdandan rapi, berdasi, mereka juga sedang mempersiapkan pesta kecil dan kejutan lainnya untuk Tarno.

Mereka telah sampai di desa yang asri, sejuk, indah. Sama sekali belum terkontaminasi oleh polusi udara. Dengan langkah yang pasti, mereka menelusuri jalanan setapak, melewati sawah, rumah-rumah sederhana yang terbuat dari kayu.

“Tarno sudah meninggal sejak tiga tahun yang lalu.” Si juragan dan teman-temannya terkejut, mereka menganggap kepala desa sedang bercanda.

“Bapak bercanda, kalau dia sudah meninggal tolong tunjukan pada kami makamnya.”

“Maaf pak. Tarno adalah orang misikin yang tidak punya apa-apa. Dia pengangguran yang hanya bermimpi pergi ke kota. Dia hidup sebatang kara. Di desa ini, memiliki tradisi yang beda dengan desa lainnya. Jika ada yang mati, dan  kalau si mayat tidak bisa memenuhi biaya untuk pemakamannya sendiri, sudah pasti mayat itu tidak akan di makamkan. Makanya, si mayat hanya kami awetkan saja di rumahnya. Mungkin bapak punya biaya untuk menguburkan Tarno?”

Tanpa berdosa, si kepala desa masih menanyakan uang untuk pemakaman Tarno. Si juragan dan teman-temannya baru tahu, ternyata selama ini yang bekerja adalah arwah Tarno. Ia bekerja untuk mengumpulkan uang supaya lekas di makamkan dengan layak. Benar dugaan Parno, saat melihat Tarno yang tidak pernah lelah, tidak pernah makan dan minum. Bahkan jarang sekali terlihat tidur. Parno waktu menduga, kalau Tarno bukanlah manusia. Parno juga tidak pernah melihat kaki Tarno menginjak tanah.

Dengan kesedihan dan rasa hormat pada Tarno, akhirnya si Juragan bersedia mengurus jenazahnya. Tarno bisa tidur tenang di makamnya.


Oleh: Khairul Anam, lahir di Surakarta, Suka menulis Cerpen, novel dan puisi. Mahasiswa IAIN Surakarta. Karya-karyanya dimuat di sejumlah media.

(br/jpk/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia