Senin, 18 Jun 2018
radarbromo
icon featured
Radar Bromo Events

Begini Keseruan Siswa-Siswi SMAN 1 Tongas saat Belajar Jurnalistik

Selasa, 06 Mar 2018 08:30 | editor : Muhammad Fahmi

diklat, jurnalistik, dasar, radar bromo, sman 1 tongas

ANTUSIAS: Puluhan siswa-siswi SMAN 1 Tongas saat mengikuti diklat jurnalistik dasar, Senin (5/3). (Ari Sugianto/Radar Bromo)

TONGAS - Siswa-siswi SMA Negeri 1 Tongas tampak antusias mengikuti diklat jurnalistik dasar, Senin (5/3). Diklat yang bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Bromo tersebut, diikuti sekitar 30 siswa dari kelas X dan XI. Diklat tersebut, direncanakan menjadi embrio terbentuknya buletin sekolah.

Kepala SMAN 1 Tongas Erni Prasetyawati mengatakan, keberadaan buletin sekolah saat ini sangat penting. Terutama dalam mengasah siswa-siswi yang memiliki bakat di dunia literasi. “Anak-anak punya potensi untuk itu. Karenanya, kami berikan ruang untuk mereka mengembangkan potensi tersebut,” terangnya.

Erni berencana, pasca diklat tersebut, pihaknya akan mendorong anak-anak untuk terlibat dalam pembentukan buletin sekolah.

Dalam diklat tersebut, para peserta diberi materi dasar. Mencakup pengertian jurnalistik, fungsi keberadaan pers, bentuk dan ragam berita, serta cara dan teknik menggali infomasi. Unsur berita yang mencakup 5W+1H juga menjadi bahasan penting dalam diklat yang berlangsung selama 2 jam tersebut.

Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Bromo Radfan Faisal yang memberikan materi tersebut mengatakan, kemampuan menulis tidak bisa didapatkan dengan instan. “Kemampuan menulis itu bukan semata-mata karena bakat. Tapi, porsinya lebih banyak pada usaha dan belajar,” terangnya.

Karena itu, siswa-siswi harus terus mengasah kemampuan menulis. Caranya dengan memulai menulis apapun yang ditemui, dirasakan, ataupun didengarnya. Apalagi, di tengah teknologi yang semakin canggih, sudah banyak penggunanya yang memanfaatkan ruang publik sebagai sarana mengembangkan kemampuan menulis.

Selain monolog, diklat juga memberikan ruang dialog pada peserta. Salah satunya Ajeng Dwi Martiana. Siswa kelas 11 IPA 4 ini menanyakan perihal eksistensi media di tengah merebaknya media sosial dan juga media daring. “Bagaimana upaya media cetak bisa bertahan?” tanyanya.

Radfan Faisal mengungkapkan, kekhawatiran akan tergerusnya media cetak sudah dikhawatirkan sejak lama. Namun, terbukti hingga kini media cetak tetap eksis. “Salah satu caranya memelihara trust pembaca. Selain itu, kita jangan gagap dengan perubahan. Kita bisa jalan beriringan dengan kemajuan teknologi, caranya dengan juga memiliki media daring (dalam jaringan) untuk memperkuat media cetak,” jelasnya.

(br/jpk/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia