Jumat, 22 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Features

Coban Bidadari, Air Terjun yang Dikenal setelah Viral di Medsos

Minggu, 11 Mar 2018 16:00 | editor : Radfan Faisal

air terjun, coban bidadari, alami, suasana alam, viral medsos

SEGAR: Sejumlah pengunjung tampak bersantai di lokasi air terjun Coban Bidadari. Airnya yang menyegarkan, membuat banyak pengunjung datang ke lokasi. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

SATU persatu wisata tersembunyi di wilayah Kabupaten Pasuruan mulai bermunculan. Setelah Grojokan Limo, kini ada potensi wisata baru di Desa Ngembe, Kecamatan Beji. Wisata itu, dinamai air Coban Bidadari yang berartikan air terjun bidadari. Kok bisa?

-------------------------

Airnya memang tidak sejernih layaknya air pegunungan. Namun, kesejukan yang ditimbulkan, tak jauh berbeda dengan air pegunungan pada umumnya. Rasa sejuk itu, bahkan sampai menyentuh kulit, meski tak langsung nyebur di air.

Suasana itulah yang terasa ketika baru saja tiba di kawasan Coban Bidadari. Meski tidak berada di area pegunungan, air terjun di wilayah Ngembe, Kecamatan Beji itu, tak kalah sejuknya. Tak heran jika begitu tiba di lokasi, pengunjung berasa ingin berlama-lama. Apalagi, ketika sudah nyemplung ke air dan menikmati jatuhnya air dari tebing. Makin, membuat betah untuk singgah.

Menurut Muhammad Taufik, warga Dusun Simpar, Desa Ngembe, Kecamatan Beji, Coban Bidadari sudah dikenal warga sejak tahun 1965 silam. Namun, air terjun tersebut memang tak banyak diekspos. Sehingga, menjadi wisata yang tersembunyi.

Baru-baru inilah, air terjun Coban Bidadari mulai ramai dibicarakan. Yakni, berbarengan dengan Grojokan Limo yang memang berjarak beberapa ratus meter dari air terjun setempat. “Setelah banyak yang mengupload ke media sosial, wisata tersembunyi ini mulai terangkat. Perlahan, makin banyak yang mengetahui dan berkunjung ke sini,” tandas dia.

Lelaki yang menjabat Kaur Umum Desa Ngembe ini menyampaikan, Coban Bidadari terbentuk dari jaringan irigasi Wringin Anom Pandaan. Air yang jatuh di tebing kawasan Simpar, membuatnya menjadi sebuah air terjun. Ketinggian air terjun tersebut, sekitar sebelas meter.

Nama coban bidadari, disebut Taufik memiliki filosofi. Coban sendiri, berartikan grojokan atau air terjun. Sementara bidadari, disebutnya sebagai wanita yang cantik. Konon dulunya, warga mempercayai kalau ada perempuan yang cantik sering mandi di sini. “Dari situlah, nama coban bidadari disematkan pada air terjun ini,” ungkap Taufik.

Warga juga mempercayai, dulunya kawasan Coban Bidadari merupakan tempat untuk persembunyian orang cacar yang enggan untuk divaksinasi. Mereka bersembunyi di area air terjun, untuk menghindari vaksinasi cacar. Di situlah, air terjun tersebut, kala itu cukup dikenal.

“Kalau ada suntik cacar, orang-orang bersembunyi di sini. Karena memang, tempatnya tesembunyi,” bebernya. Hingga masyarakat mulai sadar akan pentingnya imunisasi. Mereka pun, jarang bersembunyi ke kawasan air terjun setempat. Sehingga, lambat laun keberadaan air terjun setempat, mulai terabaikan.

“Karena pemahaman masyarakat meningkat, mereka pun tak lagi takut disuntik cacar. Perlahan, keberadaan air terjun ini, mulai diterabaikan,” kisahnya.

Baru beberapa pekan inilah, air terjun setempat kembali dikenal. Hal itu tak lepas dari viralnya keberadaan Coban Bidadari tersebut di media sosial. Lambat tapi pasti, makin banyak warga yang berkunjung. Mereka datang dari berbagai tempat. Bukan hanya dari Beji, ataupun Bangil serta Pandaan. Ada pula dari Surabaya.

Ia merincikan, pengunjung rata-rata perhari mencapai 100 orang hingga 200 orang. Pengunjungnya kebanyakan anak sekolah, yang baru saja pulang dari belajar di sekolah mereka. Jumlah itu semakin meningkat, ketika akhir pekan tiba. Bisa mencapai 500 orang.

Relatif tingginya kunjungan tersebut, lantaran tidak adanya tiket masuk. Hanya ada biaya penitipan motor yang dikenakan bagi pengunjung. Maklum, lokasi untuk menuju tempat wisata air terjun Coban Bidadari itu, tidak bisa dilalui motor ataupun roda empat. “Mereka haru parkir, sekitar 300 meter dari air terjun. Untuk biaya parkir, hanya dikenai Rp 3 ribu. Dan tidak dikenai tiket masuk,” sampainya.

Untuk meningkatkan ketertarikan pengunjung, rencananya sarana tambahan akan dipasang. Yakni dengan penyewaan ban. Cukup dengan Rp 2 ribu, pengunjung bisa menikmati ban apung per jam. “Kami juga membabaskan pemuda dan karang taruna di sini untuk berkreasi. Supaya, Coban Bidadari ini lebih menarik dan banyak dikunjungi,” aku Taufik.

Ia pun tak menampik, kalau sarana yang disediakan masih minim. Misalnya, akses menuju lokasi, yang masih melewati area persawahan. Namun, bagi pecinta petualangan, hal itu akan menjadi nilai plus tersendiri. “Kami juga tengah berusaha untuk meningkatkan infrastruktur, berupa jalannya. Mudah-mudahan tahun ini, bisa dibangun jalannya, dengan pavingisasi. Meski bertahap,” jelasnya.

air terjun, coban bidadari, alami, suasana alam, viral medsos

ALAMI: Air terjun Coban Bidadari. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

(br/one/rf/rf/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia