Rabu, 20 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Cerpen

-- Saksi --

Minggu, 11 Mar 2018 22:57 | editor : Radfan Faisal

cerpen, radar bromo, ruang publik, saksi

ILUSTRASI (Abdul Wahid/Jawa Pos Radar Bromo)

DI dalam ruangannya, Hakim Sumitro tengah memandangi sebuah lukisan yang tergantung di sisi kanan meja kerjanya. Sebuah mobil tua di ujung jalan, sementara kanan kirinya pepohonan berjajar rapi mengawal sepanjang jalan. Nuansa masa lalu begitu kentara terpancar dari lukisan itu. Dan lukisan itu memanglah sebuah repro dari sebuah foto yang mengabadikan suasana Jalan Sultan Agung di tahun 1940an. Itu adalah satu-satunya lukisan karya bapaknya yang ia pajang di tempat kerja. Kesenangan Hakim Sumitro sekarang sedang bergeser ke hal-hal yang berbau masa lalu.

Ada banyak perasaan yang mengapung setiap kali memandangi lukisan itu. Apalagi jika mengingat bahwa tempat itu kini sudah menjadi kawasan paling mewah. Para pengusaha besar dan pejabat sipil maupun militer banyak yang memilih mukim di sana. Bahkan warga yang ingin menabalkan status diri dalam deretan orang kaya pun selalu berharap ingin bisa membangun rumah di situ. Kawasan yang setiap hari harus dilewati lantaran letak kantornya yang melewati kawasan tersebut. Tak tahu apa alasannya mengapa bapaknya begitu suka dengan kawasan itu. Sumitro menduga mungkin tempat itu menyimpan banyak kenangan tentang almarhum istrinya—ibu Sumitro. Samar Sumitro ingat, bahwa ibunya pernah cerita, konon mereka pernah tinggal di sana.

“Mungkin karena faktor usia ya, Din?”

“Apa hubungannya, Pak?” si satpam menggaruk kepala setelah copot topi.

Setiap kali memandangi gambar itu, aku jadi bisa mengingat segala yang pernah diceritakan bapak ibuku, mengenai Semarang tempo dulu. Beliau paling senang bercerita tentang hal itu, apalagi beliau memang pakarnya.”

“O ya? Pasti asyik ya, Pak?”

“Biasanya aku akan langsung menyerbunya dengan banyak pertanyaan. Dan itulah yang senantiasa membuat keakraban kami semakin erat.”

Dan kali ini rindu itu dibagunkan oleh sebuah peristiwa yang membuatnya sering insomnia. Dimulai ketika sebuah kasus korupsi yang dilimpahkan kepadanya.

“Apakah kau tahu, bahwa setelah diaudit ulang, ternyata kau telah merugikan negara hampir setengah milyar?”

Lelaki itu mengangguk dengan jawaban takzim.

“Jadi, kenapa kau menolak dituduh korupsi?”

“Karena saya memang merasa tak pernah mengambil. Saya bahkan tak bisa menggantinya karena saya memang tak memiliki kekayaan sebanyak itu.”

“Lalu, sekumpulan anak jalanan yang kau asuh itu, bisa kau jelaskan dananya dari mana saja?”

“Dari honor menulis, dari sumbangan teman-teman donatur, dari sisa gaji yang kami sisihkan. Pak Hakim ingin melihat pembukuan dana keuangannya?”

“Lalu bagaimana data yang kau audit bisa tak sesuai dengan data audit susulan? Bukankah kau juga punya asisten?”

Lelaki itu terdiam. Membuat Sumitro mulai memegang sebuah prasangka.

Awalnya Sumitro memang condong pada prasangka itu. Apalagi tuduhan itu juga diaminkan oleh dua orang atasan di instansi keuangan milik Pemda tersebut. Itu sebelum terjadinya tiga peristiwa aneh yang amat mengguncang keyakinannya.

Anomali pertama terjadi ketika asisten lelaki itu dimajukan sebagai saksi.

Namanya Dewi. Ia mengaku baru dua tahun menjadi asisten Jujur. Dewi bersaksi bahwa Jujur adalah atasan yang baik dan belum pernah sekalipun melontarkan kata-kata buruk kepadanya, meskipun ia pernah melakukan satu dua kesalahan dalam pekerjaan. Hal yang tak disukai Dewi dari Jujur adalah ketika lelaki itu (kadangkala) percaya begitu saja dengan hasil kerja Dewi tanpa memeriksanya ulang, seolah ia amat percaya dengan hasil kerja dan kejujuran Dewi, padahal Dewi merasa dirinya kadang juga tak terlalu yakin dengan hasil pekerjaannya.

“Biasanya ketika dia terlihat amat sibuk dengan banyak kegiatan luar kantor, Pak,” Dewi menjawab pertanyaan Sumitro.

“Benar begitu?” Sumitro menoleh ke arah Jujur. Dan pertanyaan pendek itu pun langsung mendapatkan anggukan. “Bisa kau ceritakan, terutama yang berdekatan dengan perkara ini?” kembali menoleh ke arah Dewi.

“Aku pernah dengar sewaktu beliau menyebut-nyebut Tirta Sari. Tapi yang seperti kau tahu, Pak Hakim…”

Saat itulah Sumitro mulai merasakan keanehan. Dahinya berkerut. Ketika perkataan Dewi sepertinya bergerak ke lain arah.

“… Kau tentu tahu sendiri kan, Pak, dana bantuan pemerintah hampir selalu seperti itu. Bukannya membawa dampak positif tetapi malah sering membawa dampak negatif. Kala itu Pemerintah  baru saja mengesahkan keputusan desentralisasi yang ditandatangani oleh J.B. Van Geutaz pada 21 Februari dan mulai diberlakukan sejak 1 April 1906. Inti dari kebijakan itu, pemerintah otonom Semarang memiliki kebebasan dalam mengatur masalah keuangan. Sebagai modal awal, Semarang beroleh bantuan sebesar f 196.700 lantaran peran strategis dan potensi besar yang dimilikinya. Dari sinilah awal mulanya para lintah mulai bergerak…”

“Saudari Dewi, apa yang sebenarnya kau ceritakan itu?” potong Sumitro.

Tapi perempuan muda itu seperti tengah meracau saja. Cerita yang membuat semua orang bingung itu terus saja meluncur dari mulutnya.

“… Gedung perkantoran, sarana transportasi dan kesehatan… ah, Pak hakim tentu tahu sebuah rumah makan di daerah Karangturi—yang dulunya merupakan sebuah stadion sepak bola dan kolam renang? Pak Hakim ingin tahu apa yang terjadi di sana malam Minggu saat bulan purnama kala itu? Kami janjian di sana. Curi-curi kesempatan dari banyak orang. Di kolam renang itulah semuanya terjadi. Hingga kemudian aku tertawan tempat itu berpuluh tahun lamanya, sampai hari ini…”

Ketika suara Dewi berubah aksen dan warna suaranya, kegaduhan tak bisa lagi dibendung. Apalagi ketika Dewi menunjuk-nunjuk Hakim Sumitro dengan garang…

“Orang baik-baik jangan kau jadikan korban lagi! Kucekik kau jika itu sampai terjadi lagi!”

Petugas keamanan tak bisa lagi tinggal diam. Dewi pun diamankan secara paksa. Kegaduhan dalam ruang sidang semakin beranak-pinak ketika tubuh Dewi kehabisan tenaga, namun mulutnya masih komat-kamit menyatakan keberatan.

Insiden kedua terjadi ketika salah seorang pemegang tender dipanggil sebagai saksi. Serupa persis dengan insiden pertama, kegaduhan kembali terjadi ketika saksi mulai mengoceh tanpa kendali…

“Pak Hakim, apa kau masih ingat dengan Bojong Express? Rutenya hanya menghubungkan stasiun sentral di Jumatan dan berakhir ke Bulu. Dulu aku sering menonton keromantisan pemandangan itu dari jendela vilaku. Vila yang dibangun oleh papaku, vila kebanggaan keluarga Gimberg. Tapi apa yang terjadi sekarang, kalian telah menjadikannya sarang para penipu. Mereka sering mengusik ketenanganku. Apa kau pikir aku tak bersimpati dengan para pribumi? Dan kini kau malah hendak menghukum orang yang tak berdosa lagi? Apa kau pikir aku bisa tenang?” suara perempuan. Lelaki itu mengeluarkan suara perempuan yang setengah menggereng.

Kegaduhan hampir tak terkendali ketika beberapa wartawan mulai merangsek demi ambil gambar. Mereka memang sengaja menghadiri sidang itu setelah mendengar kegemparan di sidang pertama. Ternyata kali ini anomali itu terjadi lagi. dan sidang terpaksa harus ditunda sampai saksi dinyatakan bebas dari kerasukan.

Ketika berita tersebut diturunkan di koran-koran, Sumitro mulai mendapatkan banyak komentar, baik yang bernada saran sampai tuduhan. Jasa ruwat, pengusiran arwah, sampai ada yang mengatakan bahwa Jujur memiliki dekengan  dukun ampuh menggaduhi telinga Sumitro berganti-ganti. Suara-suara itu begitu kencangnya berembus selama Sumitro menunda sidang hingga tiga hari kemudian.

Dalam tiga hari itu, Sumitro memang tak tinggal diam. Ia mengunjungi dua ‘orang pintar’. Ia juga mengumpulkan semua keterangan terkait siapa itu Jujur. Ia ingin tahu, mengapa arwah tak diundang itu sepertinya begitu berminat sekali mericuhi sidangnya? Sayangnya dua saksi yang pernah kesurupan itu mengaku lupa total dengan apa yang pernah menimpanya di ruang sidang. Dan hasilnya hanya semakin membuatnya insomnia.

“Daripada kita memercayai omong kosong para pemelihara klenik dan malah memberi makan mereka, apa tak lebih baik kita usul pemindahan lokasi kantor saja ke Pemda? Siapa tahu, tempat ini dulunya pemakaman. Aku sampai enek mendengar bualan mereka yang kemudian mengaku-ngaku pernah melihat bayang-bayang misterius atau suara-suara aneh di tempat ini, padahal sebelumnya tak pernah ada suara apa-apa,” ujar Susi Margaretha, panitera yang selalu menjadi teman diskusi Sumitro.

“Aku sudah pernah menyusuri masa lalu gedung ini dari ahlinya. Aman kok,” sahut Sumitro ketika mereka berdua berbincang tentang siapa sosok Jujur itu.

“O ya? Siapa beliau?”

“Bapakku. Beliau ahli sejarah, pernah menyusun buku tentang perubahan kota Semarang.”

“Ya ampun, aku sampai hampir lupa. Bapakmu dosen juga kan ya?” perempuan yang setahun lagi akan memasuki masa pensiunnya itu menepuk dahi. “Kira-kira apa ya pendapat beliau jika mendengar kasus semacam ini? Andai beliau masih hidup…”

Kalimat terakhir yang tampaknya tak sengaja diucapkan itu diam-diam membawa dampak hebat bagi Sumitro. Mulanya Sumitro memang sengaja membagi dilema ini kepada Susi—rekan kerja yang ia tahu kadar kejujurannya. Setelah mencermati beberapa laporan dan penyidikan, mereka akhirnya tahu bahwa Jujur ini memang sosok orang baik-baik. Entah bagaimana proses audit yang dikerjakannya akhir tahun lalu terdapat keganjilan fatal.

“Mungkin Bapak justru akan menyuruhku mewaspadai orang-orang yang menjerumuskan orang ini,” sahut Sumitro, sembari menghirup rindunya dalam-dalam. Wajah sang bapak tergambar jelas dalam benak.

“Tapi orang ini jelas akan mati jika kasusnya tetap bergulir. Bayangkanlah ketika ia sudah benar-benar dicap sebagai koruptor. Lembaga swadaya yang ia dirikan pasti akan langsung kekeringan lantaran kehilangan kepercayaan dari orang-orang.”

Sumitro terdiam, membenarkan hal itu dalam hati.

“Kejadian-kejadian seperti inilah yang kadangkala membuatku benci dengan pekerjaanku sendiri. Kita pernah membebaskan orang yang sebenarnya bersalah, dan sebentar lagi kita juga akan pernah menghukum orang yang memang bisa jadi tak bersalah…”

*    *    *


Kini bukan hanya perkataan Susi Margaretha yang memenuhi kepala Sumitro. Ketika ia memandangi lukisan repro Jalan Sultan Agung tempo dulu, air matanya tanpa sadar menggenang. Rindulah yang jadi penyebabnya. Rindu yang semalam juga membawa sosok bapaknya ke dalam mimpi.

Lelaki sepuh itu datang dengan wajah yang amat riang. Tampak berseri dalam balutan baju warna putih. Entah mengapa—tanpa diminta—beliau kemudian meminta Sumitro mendengarkan ceritanya. Cerita tentang Kapiten Oie Tje, seorang Tionghoa totok yang lahir di Tjiophow Hokkian yang diangkat kompeni menjadi officer Tionghoa Semarang.

“Dia dituduh korupsi setelah terjadi penyimpangan laporan hasil penarikan pajak, tapi tuduhan itu menjadi tumpul lantaran pada kenyataannya Kapiten Oie hidupnya memang jauh dari kata mewah. Dia tak bisa membuat argumen bahwa uangnya telah dicuri—lantaran kotak penyimpanan uang tidak rusak. Dia bahkan hanya bisa bilang bahwa ia tidak bisa mengembalikan uang yang hilang itu lantaran memang tak punya harta kekayaan.”

“Lantas, apa yang terjadi dengan orang itu kemudian?”

“Dia dibui. Tapi orang-orang yang mencintainya kemudian kompak mengadakan protes. Mereka mengumpulkan iuran demi menebus kerugian yang ditanggung negeri. Hingga akhirnya sang kapiten pun dibebaskan.”

Sumitro terbangun dengan perasaan takjub. Ia merasa baru saja diberi nasihat berharga oleh bapaknya. Sepertinya ia tahu apa yang mesti dikerjakan sebelum kasus si Jujur kembali digulirkan. Apalagi ia sudah memegang data-data mereka yang punya hubungan baik dengan lelaki itu. Rasanya ia sudah siap menerima peristiwa besar yang akan terjadi selanjutnya.

Dalam sebuah tarikan napas, tiba-tiba Sumitro merasa ada saksi utama yang membantu kasusnya kali ini. Meski diselubungi kekacauan, tapi ia merasa harus berterima kasih, entah bagaimana caranya. Mungkin dengan cara yang pernah diucapkan almarhum bapaknya saja;

“Kenapa mesti dirobohkan jika memang masih kokoh? Masa lalu kadang-kadang juga bisa dijadikan saksi bahwa perubahan tak semuanya bisa membawa dampak kebaikan. Biarkan bangunan-bangunan tua itu menjadi bagian dari diri kita yang sekarang. Memang, apa ruginya?” ujar bapaknya dalam sebuah simposium yang mengangkat tema mempertahankan Kota Lama. Kebetulan saat itu ia yang jadi sopir pribadinya.

Sumitro tersenyum, meski sedikit merinding.*



Oleh: Adi Zamzam, Tinggal di Kalinyamatan, Jepara;
karya cerpennya tersebar di sejumlah surat kabar, tabloid dan majalah.

(br/jpk/rf/rf/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia