Sabtu, 23 Jun 2018
radarbromo
icon featured
Features

Inilah Rumdin Camat yang Sering Digunakan Kegiatan Beragam Agama

Senin, 12 Mar 2018 06:00 | editor : Fandi Armanto

rumdin, rumah dinas, camat, sukapura, kerukunan, toleransi, umat beragama

PENINGGALAN BELANDA: Rumah dinas Camat Sukapura yang merupakan bangunan lawas. Di rumah inilah kegiatan beragam keagamaan sering digelar. (Mukhamad Rosyidi/Radar Bromo)

Kerukunan umat beragama di Kecamatan Sukapura, sudah terjalin sejak dahulu. Kentalnya kerukunan umat tersebut, bahkan didukung pemerintahan dari tingkat kecamatan. Seperti apa?

------------------

Ada tiga jenis agama yang diyakini oleh masyarakat Sukapura. Islam, Nasrani, dan juga Hindu. Ketiga agama tersebut setiap hari selalu hidup beriringan. Masyarakat di kecamatan yang berbatasan dengan 3 daerah itu. Begitu harmoni dalam bingkai kebhinekaan.

Kerukunan yang terjalin itu, bisa terlihat dari rasa toleransi yang tinggi. Setiap ada kegiatan agama lain, pemeluk dengan keyakinan berbeda saling mendukung. Bahkan, ketika harus menggelar acara di salah satu tempat, seperti di rumah dinas Camat Sukapura.

Ya, rumah dinas yang kini dihuni Yulius Christian tersebut, sering digunakan untuk beragam acara keagamaan dari berbagai keyakinan. Pencetusnya adalah Yulius Christian, yang tak lain adalah Camat Sukapura.

rumdin, rumah dinas, camat, sukapura, kerukunan, toleransi, umat beragama

PENGAJIAN RUTIN: Sejumlah umat Islam di Sukapura menggelar istigotsah di rumah dinas Camat Sukapura. (Istimewa)

Di rumah dinas itu, setiap bulannya ada dua sampai tiga kali acara keagamaan yang dilakukan. Bukan hanya pengajian ataupun istighotsah yang biasa digelar umat muslim. Di rumah itu, Pesantian Umat Hindu Tengger, juga sudah beberapa kali digelar.

Yulius, sapaan akrab Camat Sukapura mengatakan, adanya acara keagamaan itu adalah berkat inisiasi dari dirinya. Sebab, dari dulu tidak pernah ada acara keagamaan. Dan inisiasi itu, kata Yulius, bukan bermaksud pamrih dengan keharmonisan warga umat beragama yang ada di sana. Tetapi, itu untuk menjaga marwah pusat Pemerintahan Sukapura tetap dipancari oleh sinar Ilahi.

rumdin, rumah dinas, camat, sukapura, kerukunan, toleransi, umat beragama

TIAP BULAN PURNAMA: Sejumlah umat Hindu Tengger di Sukapura juga pernah menggelar kegiatan keagamaan di rumah dinas Camat Sukapura. (Istimewa)

“Kami tidak bermaksud memamerkan kerukunan yang ada di sini. Tetapi, ini kami lakukan karena kami merasa doa yang dilakukan dengan iklas itu pasti akan dikabulkan. Dan, kami percaya itu. Sehingga, kegiatan keagamaan harus tetap berjalan,” ujarnya.

Acara keagamaan itu digelar bergantian. Pelaksanaannya sudah berjalan sekitar satu tahunan. Tepatnya pada Februari 2017 hingga sekarang.

Menurut Yulius, ia terinspirasi dari kegiatan pada 2003 lalu. Saat itu ada pengajian istighotsah saja. “Saya tidak tahu apakah ada yang semacam ini. Tetapi, saat saya di sini baru ini yang berjalan. Dan, sampai sekarang,” terangnya.

Ia menambahkan, acara keagamaan itu tidak dilakukan secara bersamaan. Tetapi, bergantian sesuai dengan keyakinan masing-masing. Untuk yang beragama Islam, biasa digelar Kamis malam atau ketika Jumat Legi. Sedangkan untuk yang Hindu pada malam pertama atau kedua setelah purnama.

“Namanya multitoleransi kan tidak harus dicampuradukkan. Jadi, yang pasti acaranya sendiri-sendiri dan diikuti oleh umatnya sendiri, ” ungkapnya saat ditemui di rumahnya.

Penghuni rumah yang disebut rumah putih itu sendiri adalah orang yang beragama Nasrani. Namun, hal itu tidak dipermasalahkan. Menurut si penghuni rumah, hal tersebut adalah anugerah. Sebab, dengan adanya doa yang dipanjatkan dalam rumah itu, maka akan semakin bertambah keberkahan bagi pemilik rumah dan juga masyarakat Sukapura.

“Saya setiap kali pengajian selalu ikut. Sebagai peserta pengajian pasif. Tidak memberikan ceramah dan juga tidak memberikan pemahaman tentang agama. Tetapi, kadang saya menyampaikan kegiatan atau pengumuman terbaru tentang pemerintahan,” kata mantan Kabag Humas itu.

rumdin, rumah dinas, camat, sukapura, kerukunan, toleransi, umat beragama

PERAYAAN NATAL: Sejumlah umat Nasrani berkumpul untuk mengikuti acara Natal. Selain itu, umat Nasrani juga pernah menggelar acara paskah. (Istimewa)

Di rumah itu, Yulius juga pernah beberapa kali menggelar kegiatan umat Nasrani. Biasanya dilakukan ketika mendekati Natal dan saat Paskah. “Kalau agama kami ya itu setiap Natal dan Paskah saja ada kegiatan. Tidak rutin. Itu pun kami tidak memaksa, tergantung masing-masing umatnya. Sama halnya dengan Islam dan Hindu. Mereka menyusun acaranya sendiri tanpa campur tangan kami,” ujarnya.

Bagi Yulius, doa mempunyai kekuatan luar biasa. Dalam pemerintahan selayaknya dukungan dari pada doa umat beragama sangat diperlukan. Tujuannya, untuk mengingatkan masyarakat beragama yang ada di wilayah itu.

“Dukungan doa tujuannya untuk mengingatkan umat beragama. Pemimpin adalah panutan, sehingga kami mencoba untuk mencontohkan yang baik. Kerukunan umat bergama itu adalah efeknya. Namun, tujuan utamanya mendoakan daerah ini agar selalu dihindarkan terhadap keburukan,” ujarnya.

Rumah dinas itu sendiri adalah peninggalan belanda. Dulunya rumah itu adalah rumah singgah para pemerintah Belanda. Sedangkan kantor Kecamatan Sukapura ada di atasnya, yakni masuk Dusun Bulak Sari Putuk, Desa/Kecamatan Sukapura.

“Sejarah bangunan rumah dinas ini masih belum jelas. Ada yang bilang memang pusat pemerintahan atau kecamatan, tetapi ada juga yang bilang hotel,” terangnya.

(br/fun/sid/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia