Sabtu, 23 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Probolinggo

Jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah Laporkan Warga Gili, Ini Alasannya

Selasa, 13 Mar 2018 02:00 | editor : Radfan Faisal

jamaah, thoriqoh, shiddiqiyyah, laporkan, laporan, ujaran kebencian, pencemaran nama baik, ajaran menyimpang

LAPORAN: Belasan jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah saat membuat laporan di SPKT Polres Probolinggo Kota. (Mukhamad Rosyidi/Radar Bromo)

SUMBERASIH - Jamaah Thoriqoh Shiddiqiyyah resmi melaporkan lima warga Desa Gili Ketapang, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo, Senin (12/3). Dalam laporannya, kelima orang yang dilaporkan itu, dituding menjadi dalang dari penolakan warga terhadap kegiatan jamaah Thoriqoh.

Jamaah Thoriqoh yang berjumlah belasan orang mendatangi Mapolres Probolinggo Kota sekitar pukul 12.30. Mereka langsung masuk ke ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Dalam laporan tersebut, mereka didampingi pengacara jamaah, yakni Mulyono.

Sesaat setelah membuat laporan, Mulyono mengatakan, ada lima orang yang dilaporkan. Lima orang itu yakni Ustad Syaifuddin, Ustad Laili Hasan (Ketua Ranting Ansor Gili), Sohibuddin (Ketua Ranting NU Gili), KH Ahmad Khoiron, dan juga KH Husni Mananda (Pengurus Ranting NU Gili).

“Jadi, yang kami laporkan ini adalah dalangnya. Karena mereka, kegiatan kami di Gili tidak terlaksana,” ungkapnya. Ia menjelaskan, ada dua hal yang dilaporkan. Pertama, terkait laporan ujaran kebencian. Kedua, tentang pencemaran nama baik.

“Untuk pencemaran nama baik itu, karena kami dianggap meresahkan warga dan juga mengatakan bahwa kiblat dari Shiddiqiyyah ini ada dimana-mana. Sedangkan untuk ujaran kebencian, mereka mengatakan bahwa kami bukan Islam." terangnya.

Ia kembali menjawab tudingan soal Salat Duhur saat hari Jumat. Menurutnya, yang diamalkan Thoriqoh-nya, sesuai dengan Alquran dan Hadis. “Sebagai orang Islam kan diwajibkan salat lima waktu dan juga diwajibkan Salat Jumat. Jadi, dimana salahnya? Selain itu, kami di Gili belum melakukan kegiatan sama sekali dan tidak menyebarkan ajaran. Untuk yang ngomong kami menjalankan kegiatan di puskesmas itu buktinya mana?” ungkapnya.

Muhammad Choirul Siddiq, salah seorang anggota Thoriqoh mengatakan, Thoriqoh Shiddiqiyyah memang melakukan Salat Jumat dan Salat Duhur. Tetapi, pelaksanaannya tidak dibarengkan. Melainkan terpisah dan hanya untuk jamaah yang mau saja.

“Kami menjalankan kewajiban yang telah diajarkan. Jadi, kami tidak memaksa. Dan untuk di Gili, kami tidak menyebarkan ajaran melainkan hendak melakukan kegiatan sosial. Berupa santunan ke anak yatim piatu dan kaum duafa,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala SPKT Polres Probolinggo Kota Iptu Gatot Santoso mengatakan, pihaknya telah menerima laporan dari jamaah Thoriqoh. “Kami sudah menerima laporan itu dan akan digelar perkaranya jika memenuhi unsur pidana,” katanya.

Terpisah, Sohibuddin saat dikonfirmasi mengaku belum mengetahui kalau dirinya dilaporkan kepada pihak kepolisian. Tetapi, jika memang benar adanya, maka ia akan mematuhi proses hukum yang berlaku. “Belum tahu. Tetapi jika dilaporkan, saya akan mengikuti proses hukumnya. Dan, saya akan memberikan keterangan berdasarkan apa yang ada di Gili,” terangnya.

Sohibuddin membantah tudingan jika melakukan ujaran kebencian. Sebab, ia tidak pernah mengatakan jika Shiddiqiyyah bukan Islam. “Saya tidak tahu kalau itu. Tetapi mungkin yang lain, saya tidak tahu. Kalau saya tidak pernah mengatakan seperti itu,” tandasnya.

Di sisi lain, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Probolinggo masih belum melakukan kajian. Sebab, belum ada laporan terkait hal itu. Sehingga, materi untuk melakukan kajian MUI tidak memiliki.

“Belum ada laporan masuk ke MUI sampai sekarang. Baik dari ormas Islam, tokoh agama, maupun Muspika setempat. Kami belum punya bahannya sampai sekarang,” kata sekretaris MUI setempat, Yasin.

(br/sid/rf/rf/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia