Selasa, 19 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Kraksaan

Bayi 5 Bulan di Liprak Kulon Ini Memprihatinkan, Kepalanya Membengkak

Selasa, 13 Mar 2018 08:10 | editor : Fandi Armanto

hidrosefalus, bayi, benjolan di kepala, liprak kulon, banyuanyar

DIUJI: Anisa menggendong putrinya, Nur Fatimah, yang kepalanya membengkak sejak tiga bulan lalu. (Istimewa)

BANYUANYAR - Kesabaran pasangan suami istri (pasutri) Sutrisno, 54 dan Anisa, 34, warga Dusun Ketapang, Desa Liprak Kulon, Kecamatan Banyuanyar, Kabupaten Probolinggo, sedang diuji. Sejak tiga bulan lalu, kepala putrinya, Nur Fatimah yang masih berusia 5 bulan, membengkak.

Ketika kali pertama penyakit ini diketahui sekitar 3 bulan lalu, keluarganya sudah berupaya menolongnya. Salah satunya dengan membawanya ke rumah sakit. Namun, belum sembuh. Bahkan, sejak tiga hari lalu matanya juga ikut bengkak. “Sangat memprihatinkan, orang tuanya sangat tidak mampu,” ujar Kepala Desa Liprak Kulon Kusnandar.

Menurutnya, sejak timbul kepala korban bengkak, pihak keluarga terus berupaya mengobatinya. Termasuk, membawanya ke rumah sakit dengan berbekal kartu Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Namun, sepulang dari rumah sakit, penyakitnya masih sama. “Penyakitnya seperti radang otak,” ujar Kusnandar.

Menurutnya, pasutri Sutrisno dan Anisa memang keluarga kurang mampu. Selama ini, mereka bekerja sebagai buru tani. “Kami memohon bantuan melalui media massa supaya orang tahu. Sebab, keluarga bayi ini betul-betul butuh bantuan,” ujarnya.

Bayi malang ini dikunjungi Jumanto, warga Kecamatan Pakuniran, Kabupaten Probolinggo, Senin (12/3). Menurutnya, Nur Fatimah memang berasal dari keluarga tidak mampu secara finasial. Bahkan, tidak memiliki rumah. “Saat ini keluarganya numpang di rumah saudaranya. Di dapur berukuran 1,5 kali 5 meter,” ujarnya.

Menurutnya, semula bengkak di kepala korban cukup kecil. Namun, lama-lama semakin besar dan matanya ikut bengkak. “Matanya membengkak sejak tiga hari lalu. Bayi ini pernah dibawa ke rumas sakit selama tiga hari. Karena biaya hidup di rumah sakit tidak ada, terpaksa pulang. Ini tugas pemerintah untuk hadir mengetahui masyarakatnya,” ujarnya.

(br/fun/hil/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia