Selasa, 19 Jun 2018
radarbromo
icon featured
Features

Geliat Home Industry Hadrah di Kelurahan Bendomungal, Kecamatan Bangil

Selasa, 13 Mar 2018 16:30 | editor : Fandi Armanto

hadrah, kerajinan, pembuat, perajin, kesenian, alat musik, home industry

TEMBUS MALAYSIA: Produksi hadrah yang digeluti warga Bendomungal. Pasarnya sampai ke Asia, dan yang rutin adalah Malaysia. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

SAAT ini seni Al-Banjari kian booming. Salah satunya dipengaruhi ekstrakurikuler Al-Banjari yang kian marak digiatkan di sekolah. Kondisi ini membuat industri alat musik hadrah di Bendomungal, Kecamatan Bangil, kian melesat.

-----------------------

Kayu berbentuk bulat itu, menumpuk di gudang produksi milik Ahmad Suwandi. Lelaki 39 tahun tersebut sengaja menumpuknya untuk persiapan proses selanjutnya. Yakni, memasangi kulit kambing yang sudah dikeringkan.

Butuh waktu sekitar tiga hari untuk menyelesaikan proses demi proses. Mulai pengeringan kulit kambing, pemasangan, dan pengecatan. Selanjutnya, tinggal pengemasan barang untuk kemudian diantar ke pemesan.

Begitulah setidaknya proses pembuatan alat musik hadrah. Lelaki yang tinggal di Kelurahan Bendomungal, Kecamatan Bangil, ini memang dikenal sebagai spesialis pembuat hadrah. Ia tidak hanya menerima pesanan hadrah baru. Tetapi, juga menerima servis hadrah yang rusak.

“Saya sudah menekuni usaha pembuatan hadrah ini sejak 1997,” kisahnya saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di rumah produksinya, Senin (12/3).

Wandi –sapaannya- menceritakan, awalnya dirinya menjadi pelatih seni Al-Banjari. Bukan hanya di Bangil dan sekitar Pasuruan, namun juga sampai Mojokerto hingga Surabaya.

Lalu pada tahun 1997, ia terpikir untuk membuat sendiri kerajinan hadrah. Tak mudah memang.  Karena ia tak menguasai betul pembuatan hadrah.

Untuk bekal keilmuan membuat hadrah, Wandi pun hijrah ke Jepara. “Di sana, saya belajar membuat hadrah. Tak sampai setahun, saya mahir dan pulang ke Bangil,” kenangnya.

Ia pun mulai menggeluti kerajinan hadrah tersebut. Ia coba-coba membuka usaha sendiri. Siapa sangka, banyak yang meminati hadrah buatannya. “Dari situlah, saya terus mengembangkan usaha hadrah ini,” akunya.

Saat ini, usahanya terus berkembang. Produksinya pun meningkat. Dari yang semula hanya tiga set sebulan, sekarang memproduksi hingga 10 set sebulan. Satu setnya, terdiri atas berbagai alat musik. Seperti empat rebana, satu darbuka, satu tam, dan beberapa alat lainnya.

“Harganya, kami bandrol Rp 3 juta per set. Untuk memperlancar produksi, saya dibantu empat karyawan,” sambungnya.

Kerajinan itu pun, tak hanya merambah Kabupaten Pasuruan. Sejumlah daerah, juga meminati produksinya. Ia banyak menerima pesanan dari Medan sampai Jakarta. Bahkan, hasil produksinya juga menembus Malaysia.

Ia mengakui, dalam setiap usaha, pasti tak luput dari kendala. Untuk saat ini, kendala yang dihadapinya adalah minimnya modal. “Kami tidak bisa menyetok barang banyak karena terkendala modal,” beber dia.

Lurah Bendomungal, Kecamatan Bangil, Salam Hadi Mulyono mengaku, industri hadrah memang menjadi salah satu produk unggulan di wilayah yang dipimpinnya. Industri ini sudah ada sejak bertahun-tahun silam.

Saat ini, usaha tersebut terus eksis. Banyaknya pesanan yang berdatangan menjadi alasan. Baik dari sekolah yang menerapkan ekstrakurikuler hadrah ataupun dari lembaga-lembaga keagamaan ataupun kelompok-kelompok masyarakat.

“Di wilayah kami, setidaknya ada dua pelaku usaha hadrah ini. Mereka mampu bertahan hingga sekarang. Bahkan, terus berkembang,” sambung dia.

(br/one/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia