Sabtu, 26 May 2018
radarbromo
icon featured
Features

Kerajinan Anyaman Bambu di Kanigoro-Rembang yang Punya Pasar Luas

Selasa, 17 Apr 2018 15:30 | editor : Fandi Armanto

kerajinan, bambu, anyaman, desa kanigoro

BAHAN BAKU MUDAH: Salah satu warga Kanigoro membuat kerajinan bambu. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

ANYAMAN bambu menjadi salah satu produk unggulan bagi warga Desa Kanigoro, Kecamatan Rembang. Industri skala rumahan ini merupakan kerajinan turun temurun yang eksis hingga sekarang.

------------

Bentuknya bundar. Bahannya terbuat dari bambu. Biasanya, digunakan untuk menampi beras. Itulah, tampah. Produk ini banyak diproduksi warga Desa Kanigoro, Kecamatan Rembang.

Ada puluhan perajin tampah yang bertahan hingga sekarang. Salah satunya Achmad, 38. Ia mengaku, sudah bertahun-tahun menggeluti usaha produksi tampah.

Bahkan, sejak kecil industri pembuatan tampah sudah ada di kampungnya. “Produksi pembuatan tampah ini, memang produk turun temurun. Sejak saya kecil, sudah ada yang membuat,” aku Achmad.

Achmad sendiri memproduksi tampah itu sejak bertahun-tahun lamanya. Industri tersebut merupakan pekerjaan utama yang dilakoninya. Ratusan tampah, bisa diproduksinya setiap bulan.

Tidak perlu kesulitan untuk memasarkan. Sebab, kata Achmad, pembeli datang sendiri ke tempatnya. “Ada pemborong yang datang. Biasanya, mereka menjual tampah ini ke pasar-pasar Bangil ataupun Pandaan,” sambung dia.

Kepala Desa Kanigoro, Kecamatan Rembang, Slamet Raharjo menyampaikan, kerajinan tampah memang menjadi salah satu produk unggulan di desa setempat. Industri yang ada sejak bertahun-tahun silam itu, menjadi penunjang ekonomi warga.

Tak heran banyak yang akhirnya menggelutinya. Bukan sekadar menjadikannya usaha sampingan. Karena ada yang menjadikannya mata pencaharian utama. “Ada puluhan perajin tampah di sini. Sebagian bahkan menjadikannya sebagai mata pencaharian utama,” terang Slamet.

Pasar produk tampah warga desanya, tidak hanya merambah wilayah Pasuruan. Karena sebenarnya, juga merambah luar kota. Contohnya Malang.

Harga yang relatif terjangkau menjadi alasan. Bayangkan, satu unitnya, tak sampai Rp 10 ribu. “Harganya relatif terjangkau. Pasarnya pun luas. Tidak hanya Pasuruan. Tetapi juga sampai Malang,” imbuhnya.

Yang namanya usaha, diakui Slamet, bukannya tanpa hambatan. Begitupun dengan tampah, sejatinya ada kendala. Seperti persoalan bahan baku. Sebab, bahan baku berupa bambu apus yang makin sulit didapatkan, kerap menjadi persoalan. Perajin harus membeli dari penjual di Malang. “Sering kali, bahan baku menjadi kendala. Karena untuk mendapatkan bambu apus tidak mudah,” sambung dia.

Pihaknya berharap, ada peranan dari pemkab untuk mendorong pengembangan industri tampah tersebut. Misalnya, dengan pelatihan agar tampah bisa bernilai jual lebih tinggi.

“Misalnya, memberikan pelatihan agar tampah bisa menjadi suvenir yang bernilai lebih tinggi. Agar perajin bisa meningkatkan pendapatannya,” harap dia.

kerajinan, bambu, anyaman, desa kanigoro

BANTU PEREKONOMIAN: Perajin bambu di Kanigoro yang sudah punya pasar jelas, ikut andil untuk mengangkat perekonomian setempat. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

(br/one/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia