Sabtu, 26 May 2018
radarbromo
icon featured
Features

Nih Dia, Anggota Polres Pasuruan yang juga Atlet Judo Berprestasi

Sabtu, 21 Apr 2018 13:00 | editor : Muhammad Fahmi

judo, atlet, polisi, briptu, mahaputera, polres pasuruan

DINAS: Briptu Mahaputera dengan motor dinasnya. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

DUNIA polisi dan atlet sangat melekat dalam diri Briptu Mahaputera, 29. Di sela-sela rutinitasnya sebagai seorang
anggota Turjawali Satlantas Polres Pasuruan, ia juga aktif sebagai atlet judo.

------------------

Waktu menunjukkan pukul 11.00. Siang itu, Briptu Mahaputera tampak sendirian di pos lantas Pegadaian, Bangil. Ia tampak lelah. Maklum, ia baru saja selesai mengatur arus lalu lintas di persimpangan setempat.

“Baru mengatur arus lalu lintas, Mas. Nanti malam saya latihan,” kata Mahaputera saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo. Mahaputera merupakan anggota Turjawali Satlantas Polres Pasuruan.

Ia tidak selalu berada di pos Pegadaian Bangil untuk mengatur arus lalu lintas. Karena ia berpindah-pindah. Terkadang berada di pos Apollo. Terkadang pula, berada di pos Alun-alun Bangil ataupun pos Taman Dayu Pandaan.

Di tengah kesibukannya itu, ia masih menyempatkan diri untuk menekuni hobinya. Yakni, menggeluti olahraga bela diri judo. Bukan sekadar untuk gagah-gagahan. Hobinya itu kerap membawa prestasi untuknya.

Beberapa kejuaraan pernah diikutinya. Tak sedikit pula, juara diraihnya. Tidak hanya kancah lokal, tetapi juga tingkat nasional. Bahkan, ia nyaris saja menjadi atlet PON (Pekan Olahraga Nasional), seandainya ia tak memilih mundur lantaran memilih untuk mendaftar polisi.

“Saya pernah dipinang untuk menjadi atlet PON. Tapi, semuanya batal. Karena waktu itu berbarengan dengan pendaftaran polisi,” kisah dia.

Bapak satu anak ini menceritakan, hobinya terhadap judo dimulai saat dirinya masih kelas lima sekolah dasar. Ia yang tinggal bersama saudaranya di asrama Pusdik Watukosek Brimob, sering mendapati teman-teman sebayanya latihan judo.

Hal itu membuatnya penasaran. Sampai akhirnya memilih untuk ikut-ikutan berlatih judo. “Dulu saya ikut kakak ipar. Kebetulan kakak saya memang seorang anggota di Pusdik Watukosek Brimob. Saat tinggal di sana, saya sering melihat teman seasrama latihan judo. Di situlah, saya tertarik untuk ikut-ikutan,” kenang lelaki kelahiran Bontang, Kalimantan Timur, 27 Oktober 1989 tersebut.

Rupanya, bela diri judo membuatnya kepincut. Dari yang semula hanya ikut-ikutan, menjadi keterusan. Akhirnya, tak hanya sekadar latihan, ia pun sering mengikuti kejuaraan.

Kejuaraan pertama dilakoninya ketika ia baru menginjak kelas satu SMP. Ia ikut kejuaraan tingkat pelajar di Sidoarjo. Pertama ikut kejuaraan, benar-benar membuatnya gugup.

Betul saja, bukan piala yang didapatkan. Justru kekalahan yang ia rasakan. Namun, kekalahan itu tak membuatnya patah arang. Ia malah semakin termotivasi untuk berlatih dan memperbaiki diri.

Hingga pada turname berikutnya. Ia berhasil menjadi juara, di sebuah kejuaraan yang ada di Surabaya. Dari situlah, ia sering ikut kejuaraan.

Beberapa kejuaraan pernah diikutinya. Bahkan, beberapa medali pernah dibawanya pulang. Mahaputera mengaku, pernah menjadi juara 1 Kejurda Surabaya tahun 2006 lalu. Ia juga pernah meraih juara tiga Kejurnas tahun 2006 dan 2008. Serta sejumlah penghargaan lain yang didapatkannya.

Seabrek pretasi yang didapatkannya itu, membuat KONI Jatim meliriknya. Tahun 2008, ia dipinang untuk mengikuti PON Balikpapan. Ia pun sempat mengikuti seleksi. Bahkan, sampai lolos seleksi.

Namun, ia memilih untuk mundur dari dunia keatletan. Karena waktu itu, ada pendaftaran polisi. Ia memilih untuk mendaftar sebagai polisi dan melepaskan diri sebagai atlet judo.

“Ada panggilan KONI waktu itu. Kebetulan, berbarengan dengan pendaftaran polisi. Sejak kecil, memang saya bercita-cita menjadi polisi. Makanya, saya memilih untuk mundur dari judo dan mendaftar menjadi polisi,” ungkap atlet judo yang mengikuti club Remaja Bhayangkara Club Judo Watukosek tersebut.

Sebenarnya, kata Mahaputera, ia benar-benar gambling. Karena mendaftar polisi belum tentu ia diterima. Namun, tekadnya sudah bulat. Ia ingin agar konsentrasi tidak terpecah.

“Makanya, saya harus memilih salah satu. Dan, pilihan itu jatuh untuk mendaftar polisi. Meski sebenarnya, belum tentu saya jadi,” akunya.

Nasib suami dari Yenis Sulistiyani ini bisa dikatakan mujur. Betapa tidak, ia mampu melalui tahapan demi tahapan seleksi menjadi polisi. Sampai akhirnya, ia lulus dan diterima menjadi anggota polisi tahun 2009 kemudian.

Sejak menjadi anggota polisi, ia benar-benar harus melupakan hobinya, berlatih judo. Kesibukan dinas, membuatnya tak sempat menyalurkan hobinya tersebut. Sampai pada 2017, ia kembali gatal untuk berlatih. “Apalagi, ketika melihat ada yang latihan judo. Saya menjadi keranjingan untuk berlatih,” sambung dia.

Siapa yang menyangka, vakum bertahun-tahun membuatnya masih bisa menguasai jurus-jurus bela diri asal Jepang ini. Bahkan, dalam kejuaraan di Surabaya akhir tahun lalu, ia menjadi juara. Ia menjadi juara dalam ajang Kejurprov Surabaya Desember 2017.

“Saya senang, bisa kembali berlatih dan bertanding. Sederet pertandingan, sebenarnya masih ada di depan mata. Tapi, saya masih harus menunggu izin dari atasan. Semoga saja bisa dikabulkan,” harapnya.

judo, atlet, polisi, briptu, mahaputera, polres pasuruan

ATLET JUDO: Briptu Mahaputera saat membanting rekannya saat berlatih judo. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

(br/one/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia