Minggu, 27 May 2018
radarbromo
icon-featured
Hukum & Kriminal

Tersandung Kasus Dugaan Pemalsuan Tanah, Kades Legowok Ditahan

Rabu, 25 Apr 2018 09:00 | editor : Fandi Armanto

ditahan, ditangkap, diborgol, borgol

Ilustrasi (Dok. JawaPos.Com)

POHJENTREK - Kades Legowok, Kecamatan Pohjentrek, Muhammad Khozin kini harus melewati hari-harinya di balik jeruji besi. Itu, setelah ia ditangkap oleh Unit Tipiter (tindak pidana tertentu) Satreskrim Polres Pasuruan Kota. Penahanan itu atas dugaan pemalsuan akta autentik jual beli tanah di Desa Legowok, Senin (23/4) lalu.

Penangkapan ini atas laporan dari Chusnul Chotimah, warga Desa Legowok. Informasinya, Chusnul membeli tanah seluas 300 meter persegi milik Safinah pada 2010 lalu. Tanah ini lantas disewakan pada Zaini, warga Sidoarjo yang memiliki usaha mebel di Legowok.

Namun, diluar sepengatahuannya, Khozin melakukan transaksi jual-beli pada Choirul Anam. Selanjutnya, Khozin meminta pada salah satu perangkatnya untuk mengubah kepemilikan tanah pada Letter C dan berhasil melakukan akta jual beli (AJB) dengan kesepakatan Rp 75 juta.

"Dari keterangan Choirul Anam, Khozin sudah menginginkan tanah ini sejak lama. Choirul Anam sendiri juga sudah tahu siapa pemilik tanahnya. Namun, ia menuruti keinginan Khozin karena membutuhkan uang," kata Kasatreskrim Polresta Pasuruan AKP Arum Puspita Sari.

Dan, pada 26 April 2017, Chusnul melaporkan pemalsuan ini pada Satreskrim. Setelah cukup bukti, kasus ini dinaikkan menjadi penyidikan pada 26 Agustus. Lalu, Khozin ditetapkan sebagai tersangka pada Desember 2017 dan berkas penyidikannya dilimpahkan ke Kejari Kabupaten Pasuruan di Bangil pada 9 April 2018.

"Senin, kami sudah melakukan pelimpahan tahap kedua pada Kejari Bangil. BB yang kami serahkan persyaratan AJB berupa Letter C yang sudah dicoret dan daftar riwayat kepemilikan tanah. Tersangka kami kenakan pasal 266 tentang Keterangan Palsu dengan ancaman 6 tahun," ungkapnya.

Sementara itu, Kuasa Hukum Khozin, Ridwan Saleh menjelaskan, penangkapan Khozin oleh polisi merupakan perbuatan semena-mena. Alasannya, saat penangkapan, petugas tidak menunjukkan surat penangkapan. Di sisi lain, kliennya sedang mengalami sakit liver.

"Penangkapan tidak sesuai prosedur. Surat penangkapan baru kami terima setelah klien saya dibawa ke Bangil. Makanya, kami akan mengajukan langkah hukum berupa praperadilan dengan Kapolresta sebagai tergugat," terang Ridwan.

Ridwan menambahkan, tidak selembar pun akta otentik sebagai alas hak yang dapat membuktikan bahwa Chusnul Chotimah sebagai orang yang berhak atas tanah tersebut. Sebab, Letter C masih atas nama Azizah, pemilik lama.

Camat Pohjentrek Budi Utomo menyebut, pihaknya sudah mengetahui perihal penangkapan Khozin. Karena itu, agar roda pemerintahan desa tetap jalan, maka sekdes bertindak sebagai pelaksana tugas (Plt) kades sementara.

"Soal penonaktifannya, kami masih menunggu tuntutan dari Jaksa Penuntut Umum. Selanjutnya, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) yang akan mengambil keputusan terkait nasib Pak Khozin," jelas Budi.

(br/riz/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia