Senin, 28 May 2018
radarbromo
icon featured
Probolinggo

Ada Teror Bom di Surabaya, Begini Kondisi Pariwisata di Probolinggo

Rabu, 16 May 2018 06:00 | editor : Muhammad Fahmi

turis, wisatawan, mancanegara, asing

TAK TAKUT: Sejumlah wisatawan mancanegara yang naik KA Mutiara Timur menurunkan barang bawaannya saat KA berhenti di Stasiun Probolinggo (15/5). (Zainal Arifin/Radar Bromo)

ADANYA sejumlah aksi teror bom di Surabaya, Sidoarjo, beberapa hari terakhir, rupanya tak terlalu memengaruhi sektor pariwisata di Probolinggo. Wisatawan asing masih berdatangan.

-------------------

Sejumlah warga negara asing (WNA) itu tampak sibuk saat Kereta Api (KA) Mutiara Timur berhenti di Stasiun Kota Probolinggo (15/5). Mereka langsung mengemasi tas yang awalnya ditaruh di bagasi atas.

Dari pantauan Jawa Pos Radar Bromo yang mengikuti pengamanan Stasiun KA oleh Polres Probolinggo Kota dari ancaman teroris, tampak ada sejumlah WNA yang berhenti di Stasiun Probolinggo. Jumlahnya ada lebih dari sepuluh orang.

Semuanya adalah wisatawan mancanegara. Mereka hendak berwisata di Probolinggo. Tujuan utamanya, tentu saja Gunung Bromo yang keindahannya sudah diakui dunia internasional itu.

Yang ditemui Jawa Pos Radar Bromo, mereka berasal dari berbagai negara. Mulai Australia, Prancis, hingga Inggris. Salah satunya, pasangan Echi, 40 dan Alan, 45 asal Paris, Prancis.

Keduanya mengaku hendak berkunjung ke kawasan Bromo dari Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Mereka mengaku, tak khawatir saat berkunjung ke Indonesia. Meskipun, teror bom beberapa hari terakhir ini mengguncang Surabaya dan Sidoarjo yang jaraknya bisa ditempuh sekitar 2,5 jam perjalanan darat dari Probolinggo.

“Kami tidak takut. Ini adalah kunjungan kami yang pertama ke Probolinggo. Kami di Indonesia sudah sekitar 6 hari. Tetapi, kami tidak takut dengan aksi teroris itu. Bagi kami, kejadian itu tidak memepengaruhi untuk berlibur ke Bromo,” ujar Echi dalam Bahasa Inggris dengan aksen Prancis.

Selain ke Bromo, pasangan ini juga mengunjungi sejumlah tempat wisata di daerah lain di Indonesia. “Sekali lagi, tidak masalah. Kami bukan hanya ke Probolinggo, Jawa Timur saja. tetapi kami juga akan ke Sulawesi, Flores, dan juga Papua,” terangnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Wendi, wisatawan asal Australia. Ia mengaku, juga tidak takut berkunjung Indonesia pasca adanya serangan bom yang bertubi-tubi itu.

Wendi dan 5 rekannya datang ke Indonesia persis saat terjadi ledakan bom pertama di Surabaya (Minggu). Adanya aksi teroris itu membuatnya sedih. Sebab, aksi tersebut membuat puluhan nyawa melayang.

“Kami tidak takut berkunjung ke Indonesia. Meskipun beberapa waktu lalu terjadi serangan bom bunuh diri. Indonesia negeri yang indah. Karena itu, kami akan kembali untuk menikmati keindahan alam Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kabupaten Probolinggo M. Sidik Wijanarko mengatakan, kunjungan wisatawan asing di Kabupaten Probolinggo tidak terdampak aksi teroris.

“Sampai saat ini (15/4), kunjungan wisatawan stabil saja. Selain itu, tingkat kunjungan hotel yang ada di Kabupaten Probolinggo dari info PHRI, juga belum ada pengaruhnya,” ujar Sidik.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Kabupaten Probolinggo Digdoyo Djamaluddin. Menurut pria yang akrab disapa Yoyok itu, dari sekian banyak hotel yang ada di bawah naungannya, tidak ada yang melapor jika mengalami kemerosotan okupansi imbas dari teror bom di Surabaya-Sidoarjo. “Sejauh ini masih aman. Tidak ada dampak yang serius dan tingkat hunian masih stabil,” jelasnya.

Kondisi serupa juga terpantau di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Probolinggo. Kepala Bidang Promosi Pariwisata Suci Ningsih mengatakan, untuk kunjungan dari jalur laut tidak ada dampak yang signifikan.

Bahkan, Rabu (16/5) direncanakan akan ada kunjungan dari wisatawan mancanegara dengan jumlah sekitar 150 -200 orang. “Kalau jalur laut sepertinya tidak ada dampaknya. Sebab, besok (Rabu) akan ada kunjungan dari wisman yang akan ke Bromo. Jumlahnya paling sekitar 150-200 orang,” ujarnya saat dihubungi.

Wisatawan dari jalur laut itu berbeda dengan jalur darat. Untuk jalur darat, dari data yang didapat, sempat ada sejumlah wisatawan mancanegara yang membatalkan menginap di salah satu hotel berbintang di Kota Probolinggo pada Minggu-Senin (13-14) lalu.

“Terutama yang wisatawan berangkat dari Surabaya. Mungkin karena penutupan jalur itu, jadi banyak yang di-cancel. Itu saja sih. Untuk di Kota Probolinggo sendiri, kan yang okupansi paling besar dibanding hotel lainnya memang di Bromo Park itu,” tandasnya.

Di sisi lain, pihak Kepolisian Polres Probolinggo Kota sendiri terus memperketat dan mempersempit gerak dari para para teroris. Pihak kepolisian melakukan razia di beberapa lokasi untuk meminimalisir aksi teror bom.

(br/sid/mie/mie/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia