Senin, 25 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Features
Menikmati Puasa di Negeri Orang (7)

Kondisi Ekstrem, Khawatir Tak Bisa Lancar Puasa

Rabu, 23 May 2018 14:00 | editor : Muhammad Fahmi

berpuasa, puasa, ramadan, 1439 h, 2018, di luar negeri, di negeri orang, tiongkok, china

SALING DUKUNG: Nikko (empat dari kiri berbaju hijau) bersama rekan-rekannya sesama muslim di Tiongkok. Mereka saling dukung selama menjalankan ibadah puasa. (Dok. Pribadi)

MENJALANKAN ibadah puasa di negara dengan mayoritas warga yang non muslim, bagi Nikkolai Ali Akbar Velayati, awalnya tidaklah mudah. Nikko panggilannya, yang kuliah kedokteran di sebuah universitas di Tiongkok itu, sempat khawatir tidak bisa puasa penuh.

-----------------

Demi menempuh pendidikan kedokteran, Nikkolai Ali Akbar Velayati rela terpisah jauh dari keluarga. Ia menempuh program Bachelor of Medicine & Bachelor of Surgery (MBBS) di Chongqing Medical University, Tiongkok.

Meski tinggal di Tiongkok yang mayoritas penduduknya non muslim, Nikko (panggilannya) yang seorang muslim, tidak pernah meninggalkan kewajiban ibadah. Seperti, puasa di bulan Ramadan. Bersama rekan-rekannya yang juga warga negara Indonesia, Nikko pun berpuasa seperti biasa.

Tahun ini, warga Perum Kopian Barat B7, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo, itu menjalankan puasa di kota kelahirannya beserta keluarga. September nanti, baru Nikko kembali ke Tiongkok.

Saat di wawancara Jawa Pos Radar Bromo, Nikko menceritakan pengalamannya berpuasa di Tiongkok selama 2014-2017. Menurutnya, pertama menjalankan puasa di Tiongkok, dia sempat khawatir.

“Merasa khawatir tidak bisa berpuasa dengan lancar. Soalnya di Tiongkok kan mayoritas warganya non muslim. Otomatis banyak orang tidak mengerti apa dan kenapa harus berpuasa,” tuturnya.

Warga setempat juga tidak mengerti batasan-batasan yang perlu diperhatikan oleh orang yang sedang berpuasa. Seperti makanan, perilaku, dan hal lain yang menyebabkan 'godaan' waktu menjalani puasa semakin besar.

Beruntung, Nikko tidak sendiri. Dia bersama rekan-rekannya sesama muslim di Tiongkok, selalu saling support. “Kami saling support dan mengingatkan satu sama lain. Selain itu, sering mengadakan pengajian, buka puasa, dan tarawih bersama. Sehingga, ibadah puasa dapat berjalan lancar,” ceritanya.

Menurutnya, kondisi di Tiongkok, terbilang ekstrem dibanding di Indonesia. Waktu puasa di Tiongkok lebih lama dari Indonesia. Yakni, mulai pukul 05.00 sampai 20.00. Selama 2014-2017 itu, Ramadan di Tiongkok selalu bersamaan dengan musim panas. Suhunya bisa mencapai 37-40 derajat Celsius. Sangat panas.

“Selama puasa Ramadan di Tingkok, selalu barengan dengan musim panas. Suhu di luar ruangan mencapai 37-40 derajat Celsius. Selain itu, waktu siang lebih lama dari waktu malam. Sehingga, puasa di sana menjadi tantangan tersendiri bagi saya dan teman-teman muslim lainnya. Belum lagi, kami harus menjalani aktivitas perkuliahan seperti hari-hari biasa,” jelasnya.

Warga lokal Tiongkok sendiri, menurut Nikko, kebanyakan non muslim. Bahkan, tidak jarang, tidak mengenal agama. Sehingga, mereka tidak memahami apa itu puasa. Bahkan, tidak bisa membedakan mana yang berpuasa atau tidak.

Dalam kondisi tertentu, menurut Nikko, aktivitasnya memang banyak bersinggungan dengan warga atau rekan yang tidak berpuasa. “Kadang saya sering menemani temen yang nggak berpuasa untuk makan, sambil ngobrol. Itu, biasanya dilakukan sambil bahas tugas. Walau begitu, teman saya yang non muslim bisa memahami posisi saya dan teman muslim lainnya. Malah, kami yang tergabung di komunitas pengajian mahasiswa muslim Indonesia, sempat mengadakan kegiatan buka puasa bersama dengan temen lain yang non muslim,” lanjutnya.

Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda, tentunya butuh motivasi tinggi. Bagi Nikko, motivasinya tak lain mengingat kembali niat ke Tiongkok. “Saya selalu mengingatkan diri saya bahwa tujuan saya ke sini adalah untuk menuntut ilmu. Dan, itu merupakan salah satu bentuk ibadah. Jadi, nggak ada waktu untuk mengeluhkan kondisi ekstrem yang menyebabkan susah berpuasa. Karena kalau sudah niat, halangan apapun jadi terasa kecil,” tandas Nikko.

Selain itu, kegiatan yang dilakukan bersama dengan teman muslim lainnya, sangat membantu penyesuaian. Seperti pengajian rutin, terawih bersama, dan lain sebagainya. Sehingga, membuat suasana di Tiongkok seperti di negeri sendiri.

“Alhamdulillah, teman muslim di sana (mayoritas dari Indonesia dan India) selalu mengadakan pengajian rutin. Di dalamnya juga membahas cara beribadah dengan baik di negara lain dengan kultur yang berbeda. Jadi, selalu mendapat cara pandang dan ilmu baru,” jelasnya.

(br/sid/mie/mie/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia