Senin, 25 Jun 2018
radarbromo
icon featured
Features

Sukirman Rela Keluar-Masuk Hutan Demi Tanaman Bonsai

Kamis, 24 May 2018 15:30 | editor : Fandi Armanto

bonsai, perajin, tanaman, hias, koleksi

PERLU KETEKUNAN: Sukirman dengan bonsai hasil kreasinya. (Iwan Andrik/Radar Bromo)

SEBAGAI perajin bonsai, Sukirman, 48, warga Dusun Kedungringin Tengah, Desa Kedungringin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, harus menemukan bakalan bonsai. Cara yang dilakukannya yakni berburu di hutan. Banyak pengalaman yang dilaluinya, termasuk hampir jatuh dari tebing.

----------------

Pohon santigi itu berukuran pendek. Tingginya tak sampai satu meter. Padahal, usia tanaman tersebut sudah hampir lima tahun. Bukan tanpa sebab, tanaman itu berukuran pendek. Pemiliknya sengaja membonsai tanaman tersebut.

Bonsai dari tanaman santigi itu, merupakan salah satu koleksi Sukirman. Ia mendapatkan tanaman tersebut dari kawasan hutan yang ada di wilayah Madura. “Saya memang sering keluar-masuk hutan. Selain untuk mendaki, juga demi mendapatkan bakalan bonsai,” kata Sukirman saat ditemui di rumahnya.

Lelaki 48 tahun ini memiliki puluhan bonsai. Bonsai-bonsai itu dirawatnya di depan rumah. Ia sengaja memajang tanaman bonsai tersebut agar taman depan rumahnya tampak menawan.

Kecintaan Sukirman terhadap tanaman bonsai, bermula sejak 10 tahun silam. Ketika itu, dirinya melihat tanaman cebol itu di kawasan Kota Wisata Batu. Banyak tanaman kerdil-kerdil yang ditawarkan penjual. Meski kerdil, jangan dipandang sebelah mata. Selain menawan, harganya pun cukup mampu menguras kantong. Ada yang ditawar ratusan ribu, adapula yang sampai jutaan rupiah.

“Sejak itulah, saya kepincut dengan tanaman bonsai. Dan, berniat untuk memilikinya di rumah,” kisahnya. Ia pun menggali informasi tentang bonsai. Lantaran tak cukup memiliki uang untuk membeli, ia memilih untuk mencarinya. Kawasan hutan pun menjadi jujukannya.

Beberapa lereng gunung disisirnya. Seperti Penanggungan, Penanjakan, dan beberapa lereng pegunungan lainnya. “Bahkan, bukan hanya di wilayah Pasuruan ataupun Mojokerto. Saya berburu bonsai sampai ke Probolinggo, Banyuwangi, dan tempat-tempat lain termasuk Madura,” kenangnya.

Tak mudah untuk mendapatkan bonsai-bonsai tersebut. Selain harus jeli memilih pohon yang memiliki potensi untuk dijadikan bonsai, juga harus hati-hati. Karena ancaman bahaya selalu menanti.

Seperti ancaman akan adanya binatang berbisa seperti ular. Atau, ancaman jatuh dari tebing saat berusaha hendak mengambil bakalan bonsai. Semua itu, sudah menjadi semacam “makanan” ketika masuk hutan untuk mencari bakalan bonsai.

Pernah, kata Sukirman, ia mengambil bakalan bonsai di tebing ketika berada di wilayah Tulungagung. Tinggi tebing tersebut memang tak seberapa. Hanya 4 meteran. Namun, tetap saja berisiko. Bahkan, ia nyaris jatuh dari tebing tersebut.

“Pernah saya hampir jatuh, waktu mengambil bakalan bonsai. Ketika itu, kaki saya tidak tepat menginjakkan kaki kanan di bebatuan. Untungnya, saya tidak sampai jatuh dari tebing,” cerita dia.

Meski susah payah mendapatkan bakalan, belum tentu bakalan bonsai yang didapatkan sesuai harapan. Karena tak jarang, tanaman tersebut akhirnya mati atau bahkan tumbuhnya tak sesuai keinginan. Sehingga, tidak bisa dijadikan bonsai sesuai keinginan.

Kalau sudah begitu, jelas menambah derita. “Sudah capek-capek mengambil di hutan, ternyata yang didapat tidak sesuai keinginan,” akunya yang menyebut tanaman yang diambil itu, bukanlah dari kawasan yang dilindungi.

Ia bisa tersenyum lebar, ketika jerih payahnya bisa “dibayar” dengan bonsai yang cantik. Karena bonsai tersebut bisa dihargai mahal. Bisa ratusan ribu sampai jutaan rupiah. Pernah ia menjual bonsai miliknya dengan harga Rp 7 juta.

“Tapi, tentunya tidak mudah. Karena membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memproses menjadikan bakalan bonsai itu menjadi bonsai yang indah,” urai Sukirman.

Meski banyak derita yang didapatkan, namun ia bisa enjoy dengan aktivitasnya menjadi perajin bonsai. Karena baginya, merawat bonsai adalah seni yang tak semua orang bisa memiliki.

“Merawat bonsai itu gampang-gampang susah. Kalau tidak telaten, bukan hanya bentuknya jauh dari harapan. Tetapi juga, tanamannya tak sehat bahkan mati,” bebernya.

(br/one/fun/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia