Senin, 25 Jun 2018
radarbromo
icon featured
Features

Aguk Nur Anggraini, Mainkan Rubik dengan Mata Tertutup Ataupun Kaki

Jumat, 25 May 2018 07:35 | editor : Fandi Armanto

Rubik

FASIH: Aguk Nur Anggraini saat mengikuti Jatim Open tahun lalu. (Dok Pribadi)

Menyelesaikan puzzle rubik memang tidak mudah. Butuh strategi, ketekunan, dan pantang menyerah. Namun, bagi Aguk Nur Anggraini, menyelesaikan rubik dengan tangan sudah hal biasa. Dirinya bahkan bisa bermain dengan mata tertutup bahkan kaki.

TUMPUKAN rubik dari berbagai jenis dan dimensi, tampak bertaburan di meja besar di salah satu kafe di Kota Pasuruan. Saat itu wartawan harian ini bertemu dengan Komunitas Pasuruan Extreme Cuber Community (PECC). Dalam pantauan koran ini, tampak remaja dari usia 14-25 tahun, terlihat sibuk dengan rubik di tangannya.

Rubik dari dimensi 2x2, 3x3, sampai 7x7 dimainkan. Tak hanya yang bentuk persegi, tapi juga segitiga sampai prisma. Permainan itu memang cukup menarik perhatian pengunjung lain yang lewat. Namun, di tengah perhatian tersebut, remaja-remaja ini masih tetap asyik dan fokus menyelesaikan rubik di tangannya masing-masing.

puzzle

TERBIASA: Aguk Nur Anggraini dengan rubiknya. (Dok Pribadi)

Salah satunya adalah Aguk Nur Anggraini atau biasa dipanggil Aguk. Remaja 21 tahun asal Desa Beji, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, ini sendiri berstatus sebagai mahasiswa di Jurusan Informatika, Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Uniknya dari kejuaraan rubik tingkat nasional, Aguk bisa mendapatkan tiket lewat jalur prestasi bahkan mendapatkan beasiswa di kampusnya.

“Bisa dibilang salah satunya dari rubik saya bisa lolos di jalur prestasi. Karena sejak SMP saya sudah sering menang di kejuaraan nasional untuk kejuaraan rubik,” jelasnya.

Perkenalannya dengan rubik dikatakan karena rubik memang sempat booming dan sangat populer saat tahun 2010 lalu. Dimana saat itu dirinya duduk di kelas II SMP Negeri 1 Bangil. Saat itu hampir semua teman sekolah banyak yang punya rubik dan berusaha untuk menyelesaikan rubik basic dimensi 3x3.

Tren ini pun diikuti oleh Aguk, termasuk kakak laki-lakinya, Novianto Pambudi. Saat itu Aguk mengaku sama seperti rekan lainnya, mencari cara sendiri menyelesaikan rubik. Aguk pun baru bisa menyelesaikan rubik 3 kali 3 hingga 1 minggu.

Setelah merasa bisa menyelesaikan rubik 3 kali 3, Aguk pun mencoba mencari rubik dengan dimensi lain.

 Saat itu Aguk tak hanya membeli rubik dimensi lain, tapi juga mencari buku-buku yang berisi bagaimana teknik menyelesaikan rubik. “Dari buku tersebut, disebutkan bahwa di Indonesia ada komunitas rubik dan dari website akhirnya ketemu juga sesama pecinta rubik di Pasuruan,” terangnya.

Dikatakan dari PECC banyak ilmu yang didapat. Termasuk bagaimana menyelesaikan rubik dengan metode yang cepat dan hampir bisa diaplikasikan di semua dimensi rubik. Menurut Aguk, selain belajar teknik menyelesaikan rubik, dia juga belajar kecepatan menyelesaikan agar bisa ikut kompetisi.

Aguk sendiri mengikuti lomba rubik pada tahun 2011 di Semarang. Meskipun tidak menang, tapi Aguk mengatakan tetap senang karena bisa mendapatkan pengalaman dan kenal dengan pecinta rubik. Selain itu, ia mengaku bisa mendapatkan banyak ilmu.

Setiap kompetisi selalu dipantau oleh Nusantara Speed Cubing Asosiasi (NSA) dan terdaftar di World Cube Asosiasi (WCA) tingkat Dunia. Aguk sendiri selain belajar speed menyelesaikan rubik, juga mulai belajar rubik dengan mata tertutup dan kaki yang juga terdaftar sebagai salah satu kompetisi resmi di ajang WCA.

Menurutnya, dengan mata tertutup lebih menantang dan juga menajamkan memori. Diakui memang tidak mudah, Aguk harus rutin berlatih dan juga harus menghafal ke 6 sisi rubik sampai akhirnya bisa menyelesaikan.  Dari satu tahun belajar rubik mata tertutup, di tahun 2012, Aguk ikut Malang Open tingkat Nasional dan meraih juara ketiga.

“Saat itu saya bisa menyelesaikan dengan durasi 5 menit, total dan menghafal sampai menyelesaikan,” terangnya. Tak hanya satu rubik, untuk mata tertutup Aguk bahkan bisa menyelesaikan hingga 3 rubik. Di tahun 2013 di Jatim Open di Kediri, Aguk bisa meraih juara kedua dengan tempo menyelesaikan 3 rubik mata tertutup dengan 18 menit. 

Termasuk Aguk yang belajar menyelesaikan dengan kaki yang juga diakui WCA. Pada tahun 2012 di Malang Open, ia berhasil meraih juara ketiga dan di Jatim Open meraih juara kedua. “Untuk kaki, sulitnya memang membiasakan memutar rubik dengan jari-jari kaki. Kalau copot harus diambil dengan kaki lagi, kalau dengan tangan bisa didiskualifikasi,” terangnya.

Dari hasil berbagai lomba yang diikuti, Aguk bahkan tercatat sebagai pemegang rekor 20 besar tingkat nasional untuk mata tertutup 3 rubik (3x3) di tahun 2014. Dan juga 30 besar menyelesaikan rubik dengan kaki tingkat nasional dengan kecepatan 1 menit 5 detik.

Dari Rubik, Aguk mengaku cukup banyak membantu terhadap akademisnya. Selain membuatnya lebih sabar dan menajamkan memori, Aguk juga mendapatkan beasiswa saat studi di Unesa lantaran sering mendapatkan kejuaraan di kompetisi rubik.

“Selain itu, juga bisa menambah banyak teman karena kemampuan rubik masih sedikit yang bisa. Jadi, banyak teman yang mengapresiasi,” terangnya. Aguk sendiri masih rutin di Komunitas Rubik dengan membuat event di PECC. Termasuk mengikuti berbagai kompetisi. 

(br/fun/eka/fun/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia