Kamis, 21 Jun 2018
radarbromo
icon-featured
Features
Menikmati Puasa di Negeri Orang (29-Habis)

Hanya Ada Empat Masjid di Nanjing, Jaraknya pun Jauh

Kamis, 14 Jun 2018 18:30 | editor : Fandi Armanto

berpuasa, puasa, ramadan, 1439 h, 2018, di luar negeri, di negeri orang, tiongkok, china

PENUH TANTANGAN: Tomi Prianggono ketika berada di Nanjing, Tiongkok. (Dok. Pribadi)

DUA tahun terakhir ini, Tomi Prianggono, warga Desa Wrati, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, menempuh studi di Tiongkok. Hidup di negara minoritas muslim diakuinya tidak mudah. Iklim dan lamanya berpuasa di sana menjadi tantangan tersendiri baginya.

---------------

Tomi -sapaan akrabnya- lulus dari Pondok Pesantren Terpadu Al Yasini pada 2016. Selama tiga tahun menuntut ilmu di pesantren ini, ia mengaku banyak ilmu dan pengalaman yang didapatkannya. Salah satunya adalah tidak pernah berpuas diri dalam menuntut ilmu.

Hal ini memotivasinya untuk menuntut ilmu ke jejang yang lebih tinggi, yakni kuliah. Keinginan ini pun tercapai pada awal 2016. Ia mendapatkan beasiswa untuk belajar di Nanjing Institute of Railwaytechnology dan mengambil jurusan management of railway.

“Alhamdulillah, saya mendapatkan kesempatan kuliah di Tiongkok. Seluruh biaya selama kuliah di sini gratis atau ditanggung sepenuhnya oleh Pemerintah Tiongkok,” jelasnya.

Selama di Tiongkok, Tomi tinggal di asrama yang disiapkan oleh kampus. Selama hampir dua tahun di Tiongkok. ia mendapatkan banyak hal dan kondisi yang berbeda. Dan yang paling mendasar adalah agama Islam di Tiongkok termasuk agama minoritas.

Menurutnya, tidak banyak masyarakat Tiongkok yang memeluk agama Islam. Bahkan, di kota yang ditinggalinya, Nanjing, jumlah masjid hanya 4 buah. Ini pun jarak antara satu masjid dengan masjid lainnya sangat berjauhan dan dari asrama kampus harus ditempuh satu jam perjalanan.

“Kondisi ini membuat saya harus berangkat lebih awal jika ingin salat di masjid. Misalnya salat Jumat yang dimulai pukul 11.30. Maka, saya harus bersiap satu setengah jam sebelumnya,” ungkap Tomi.

Dan, saat memasuki Ramadan seperti saat ini, tidak ada nuansa Ramadan. Sehingga, saat ingin berburu takjil, warga muslim biasanya pergi ke masjid setempat. Warga biasanya diberi hidangan roti dan minuman teh. Selanjutnya, warga menunaikan salat Magrib sebelum makan.

Tomi sendiri bersama mahasiswa dari luar Tiongkok tidak selalu salat tarawih di masjid. Salat tarawih biasanya dilakukan di asrama. Imamnya, bergantian sesuai jadwal. Usai salat, Tomi dan teman-temannya membaca Alquran dan berdiskusi.

“Di kampus saya, kan tidak hanya mahasiswa asal Indonesia. Ada juga dari negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam seperti Afghanistan dan Uzbekistan,” ujarnya.

Banyak tantangan yang dihadapi olehnya selama menuntut ilmu di Tiongkok. Selain minimnya Masjid, ia harus berpuasa selama 17 jam atau lebih lama 4 jam dibandingkan di Indonesia. Ia juga harus menyesuaikan dengan kondisi cuaca yang sangat panas.

“Saat memasuki musim panas seperti saat ini, udaranya bisa mencapai 40 derajat Celsius. Untungnya, ada teman yang menyemangati dan tentunya iman dan kemantapan hati,” pungkasnya.

(br/riz/fun/fun/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia