Senin, 25 Jun 2018
radarjember
icon featured
Radar Jember

Geliat Muaythai di Jember dalam Menggapai Prestasi

Rabu, 27 Sep 2017 18:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

HARAPAN BARU: Para atlet Muaythai Jember yang berlaga di Kejurprov Jatim di Ngawi, beberapa hari lalu.

HARAPAN BARU: Para atlet Muaythai Jember yang berlaga di Kejurprov Jatim di Ngawi, beberapa hari lalu. (Pengkab MI FOR RADAR Jember)

Dunia olahraga di Jember terus bergeliat. Salah satunya Muaythai, beladiri asal Thailand yang mulai berkembang di Jember sejak beberapa waktu terakhir. Pertama kali mengikuti Kejurprov, atlet Muaythai Jember langsung meraih 5 medali, dua diantaranya emas. 

Mendengar nama Muaythai, bayangan sebagian orang barangkali akan tertuju pada Thailand, sebuah kerajaan yang ada di semenanjung Indochina, Asia Tenggara. Anggapan itu memang tidak salah, karena sebagai cabang olahraga beladiri, Muaythai berasal dari negara yang juga memiliki nama lain Muay Thai. 

Beberapa sumber sejarah menyebutkan, Muay Thai mulai berkembang di Thailand sebagai salah satu beladiri yang dikembangkan di kalangan tentara kerajaan Siam sejak ribuan tahun yang lalu. 

Di Indonesia sendiri, sejak terbentuk pada 2004 lalu, Muaythai Indonesia (MI) sebagai organisasi cabang olahraga yang menaunginya, baru resmi masuk KONI pada tahun 2014. Keputusan itu diikuti dengan masuknya MI di beberapa daerah ke dalam KONI, termasuk Pengurus Kabupaten (Pengkab) MI Jember. “Di Jember, Muaythai baru terbentuk pada akhir 2015. Lalu kita masuk KONI di Jember pada awal 2016,” tutur Agus Sakera, ketua Pengkab MI Jember. 

Sejak awal terbentuk di Jember, Muaythai langsung berkembang di beberapa sasana. Menurut Agus, setidaknya saat ini terdapat lima sasana di Jember yang mengembangkan olahraga seni bela diri Muaythai. 

Perkembangan Muaythai di Jember cukup cepat, karena mereka yang menekuninya, sebelumnya juga menekuni beberapa jenis bela diri lain seperti Wushu, Jujitsu, Taekwondo, Karate dan sebagainya. “Sasana-sasana tersebut cukup aktif dan rutin berlatih, meski tidak sedang akan mengikuti kompetisi,” lanjut Agus. 

Bukti dari keseriusan tersebut adalah raihan atlet Muaythai dalam Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Muaythai Jawa Timur yang digelar pertengahan September lalu di Ngawi. Dari lima atlet yang dikirim, semuanya mendapatkan medali. Dua diantaranya bahkan medali emas. Sedangkan tiga sisanya meraih medali perunggu atau juara tiga. “Dari tapal kuda, hanya Jember yang berangkat. Alhamdulillah, lima atlet kita semuanya dapat medali,” jelas Bonny Baskoro, salah satu pelatih Muaythai di Jember. 

Kelima atlet Jember tersebut yakni Daniel Andri dan Ahmad Hidayat yang memperoleh medali emas, serta Michael Akira, Excel Bryan  dan Ezra Briyan yang ketiganya memperoleh medali perunggu. 

Kejurprov di Ngawi kemarin menjadi cukup penting bagi perkembangan olahraga Muaythai sebab itu merupakan even resmi Muaythai pertama di Jawa Timur. Meski demikian, ada banyak kekurangan yang terjadi dalam pelaksanaan kejurprov kemarin. “Panitia memang kurang konsekuen terhadap aturan. Sewaktu technical meeting kita memang sudah dikondisikan, karena mereka bilang mohon tidak banyak protes karena ini masih gelaran pertama, pembibitan. Tapi ya gitu,” ujar Bonny bersama beberapa rekan dan anak didiknya yang ditemui Jawa Pos Radar Jember di sasana Raptor MMA yang ada di Sumbersari.

Beberapa aturan yang sempat dipersoalkan kontingen Muaythai Jember dalam kejurprov kemarin antara lain adalah dibolehkannya serangan take down atau menjatuhkan lawan, yang sebenarnya dilarang dalam aturan Muaythai. Selain itu, beberapa pelanggaran yang seharusnya didiskualifikasi, seperti memukul wajah, juga dibiarkan oleh wasit. 

Bonny menilai, wasit dalam kejurprov kemarin cenderung kurang tegas. “Kalau ada pelanggaran, wasit seringkali masih menunggu keputusan dari juri. Padahal seharusnya wasit yang ambil keputusan karena dia yang memimpin pertandingan di atas ring,” keluh Noi Wisnu, salah satu pelatih Muaythai. 

Kecewa dengan jalannya pertandingan, kontingen Jember akhirnya mengubah strategi dengan banyak melakukan gerakan yang dilarang seperti takedown. Strategi ini dirasa tidak sulit karena para atlet Muaythai Jember sebelumnya juga banyak menekuni bela diri lain dengan aturan yang berbeda. “Kita sudah protes, tapi tidak digubris. Akhirnya, ketika final, kita instruksikan kepada atlet kita, Daniel Andri untuk juga melakukan takedown, dan akhirnya dia menang juara satu,” jelas Bonny yang juga mantan atlet Wushu ini. 

Meski demikian, Bonny tidak terlalu mempermasalahkan aturan yang dinilai kurang tegas ditegakkan oleh panitia. Ia memakluminya karena panitia dan banyak peserta dalam kejurprov pertama tersebut, banyak yang berlatar belakang wushu. “Jadi nuansa wushu sanda (tarung)-nya masih kental. Tidak masalah, yang penting atlet kita meraih prestasi,” lanjut Bonny. 

Capaian mengagumkan diraih Ahmad Hidayat, yang berhasil menang KO dengan rekor tercepat, yakni 20 detik. Ahmad Hidayat yang memang memiliki latar belakang sebagai atlet wushu tanding, memilih tetap konsisten dengan aturan bermain murni Muaythai. Ahmad Hidayat menumbangkan atlet asal Pasuruan sehingga meraih medali emas.

Selama ini, Pasuruan dikenal kontingen terkuat karena pembinaannya sudah berlangsung lama. “Dia hanya pakai tiga kali serangan. Pertama lowkick, lalu tendangan push dan lalu tendangan samping. Langsung KO musuhnya,” tutur Bonny. 

Perubahan strategi juga dilakukan oleh Michael Akira yang meraih medali perunggu. “Saya kan juga menekuni MMA (Mix Martial Arts) dan wushu. Jadi karena mereka pakai gaya wushu makanya saya gunakan gaya membanting yang merupakan gaya wushu dan  MMA,” jelas Akira. 

Karena gelaran yang pertama, kejurprov yang digelar di Alun-Alun Ngawi tersebut terbilang minim, yakni hanya diikuti 12 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Gelar juara umum diraih oleh Sidoarjo yang berhak membawa pulang piala bergilir. “Karena Sidoarjo memang mengirimkan atlet terbanyak, sekitar 18 orang,” lanjut Bonny. 

Persiapan Jember dalam Kejurprov Muaythai kemarin memang terbilang minimalis, baik dari segi pendanaan maupun persiapan. Karena informasi yang terlambat diterima, mereka hanya memiliki waktu persiapan tiga minggu. Selain itu, mereka juga berangkat dengan dana minimalis, sehingga harus menumpang menginap di rumah wakil bupati Ngawi. “Kita termasuk tim yang awalnya paling tidak diperhitungkan. Sampai beberapa kontingen juga agak iba melihat kita dengan persiapan yang seadanya,” timpal Noi Wisnu sembari tersenyum. 

Meski minimalis, Jember berhasil mengirimkan dua atletnya ke Kejurnas Muaythai yang akan pertama kali digelar di Indonesia. “Selanjutnya Ahmad Hidayat dan Daniel Andri akan dikirim ke Kejurnas Muaythai yang pertama, di Papua. Mungkin akhir tahun atau awal tahun depan,” tutur Bonny. 

Selain Kejurnas, even resmi lain yang akan diikuti atlet Muaythai Jember adalah Pekan Olahraga Nasional (PON) 2018 yang rencananya akan digelar di Kalimantan Timur. Gelaran tersebut juga akan menjadi PON pertama yang mempertandingkan cabor Muaythai di PON. “PON 2016 di Jawa Barat kemarin, Muaythai cuma eksibisi sebagai persiapan sebelum digelarnya pertandingan resmi di gelaran berikutnya,” pungkas Bonny. 

(jr/ad/hdi/das/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia