Sabtu, 26 May 2018
radarjember
icon-featured
Perspektif
Jelajah Destinasi Wisata Turki (9)

Sejuknya Rumah Batu di Kapadokya

Jumat, 27 Oct 2017 04:00 | editor : Dzikri Abdi Setia

Rumah Batu Kapadokya, Turki, Radar Jember

RUMAH BATU: Ali Ekinci (kanan) memegang batu bulat yang merupakan pintu masuk rumah bawah tanah. Untuk membuka dan menutup pintu tinggal menggesernya ke kanan dan ke kiri. (CHOLIQ BAYA/RADAR JEMBER)

Selain naik balon udara, rasanya kurang afdol kalau ke Kapadokya tidak mampir ke kota bawah tanah. Kita bisa melihat dan menikmati sejuknya udara di rumah batu. Atau melihat gugusan batu-batu berbentuk unik.

KARENA banyak objek wisata cukup menarik di Kapadokya, kami tinggal di kota ini selama dua hari dua malam. Apalagi, untuk menuju ke kota ini Kami harus menempuh perjalanan sangat panjang. Tentu, Kami tak ingin cepat-cepat beranjak dari kota ini. Kami harus menikmati peninggalan bersejarah yang cukup terkenal di sini. Termasuk, mengunjungi pabrik karpet dan keramik. 

Setelah Subuh tadi menikmati keindahan kota Kapadokya dari atas balon udara (baca tulisan edisi kemarin: Amazing! Naik Balon Udara di Kapadokya), usai sarapan pagi Kami sudah harus meninggalkan hotel. Kepergian Kami dari hotel kali ini tidak langsung check-out. Sebab malamnya Kami masih menginap di Hotel Gold Yildirm lagi.

Pukul 08.30 kendaraan yang mengangkut rombongan saya meninggalkan hotel menuju Taman Sungai Merah yang berada di tengah kota. Taman di tepi sungai terpanjang di Turki (1355 km) ini sangat bersih dan rindang karena banyak pepohonan besar. Untuk menuju ke taman, Kami harus melewati jembatan gantung yang melintang di atas sungai merah. Di bawah jembatan tampak puluhan angsa berenang beriringan. Suasananya sangat sejuk, indah dan romantis.

Kami tidak lama di sini, sekitar 30 menit. Setelah menikmati es krim khas Turki, rombongan meluncur ke Pasabag Valley. Di lokasi ini Kami bisa menikmati lanskap yang menakjubkan. Yaitu, aneka bentuk bebatuan yang unik. Mulai dari yang mirip cerobong asap, jamur, menara, capil, unta, burung, pohon dan masih banyak lagi. Batuan berbentuk unik itu bukan hasil pahatan manusia. Tapi memang terbentuk melalui proses alami.   

Awalnya, batu-batu itu merupakan muntahan lava dari dua gunung vulkanik yang meletus sekitar tiga juta tahun silam. Lava itu kemudian mengeras membentuk batu-batu berbentuk unik setelah digerus musim. Karena begitu uniknya, tempat ini sering dipakai untuk foto prewedding. Kami pun tak ketinggalan memanfaatkan lokasi ini untuk berselfi dan berwelfi ria. Termasuk, foto bersama calon pengantin yang kebetulan sedang ambil gambar prewedding di situ.

Kunjungan ke destinasi wisata di Kapadokya memang terbanyak diantara sembilan kota di Turki yang Kami singgahi. Sebelum ke rumah batu, Kami juga mengunjungi pabrik pembuatan karpet handmade. Namanya Matis Carpet. Juga ke industri pembuatan cincin, kalung, liontin dan gelang dengan dipadu batu-batuan cantik di Haniem Art Center. Tak ketinggalan, industri keramik handmade yang menghasilkan produk berkualitas dengan aneka motif seni bercita rasa tinggi juga kami kunjungi. Semuanya di Kapadokya.

Meski barang-barang produk handmade seperti karpet, keramik dan perhiasan kualitasnya cukup bagus dan bersertifikat, tapi Kami tak tertarik untuk membelinya. Salah satu alasannya, harganya sangat tidak terjangkau. Untuk karpet seukuran sajadah dengan bahan campuran dari wool dan katun misalnya, harganya US$ 300 atau sekitar Rp 4 juta. Untuk ukuran yang sama dengan bahan dari sutra harganya wow US$ 8500. 

Begitu pula halnya dengan keramik tulisan kaligrafi ukuran 15x8 cm yang di bingkai pigura harganya terhitung mahal. Dengan ada tambahan bahan pospor (bisa menyala saat berada di kegelapan) pada kaligrafinya, harganya dipatok US$ 75. Itu pun sudah didiskon. Praktis di tiga lokasi industri handmade itu Kami hanya melihat dan mengagumi saja he he he…. 

Puas mengunjungi aneka industri handmade, kami menuju kota kuno bawah tanah. Salah satunya

Derinkuyu. Sebuah pemukiman bawah tanah dengan sistem perencanaan maju. Hingga saat ini, Derinkuyu merupakan kota bawah tanah terbesar yang sudah ditemukan dan diteliti. Letaknya di Anatolia Tengah, Provinsi Nevsehir, Turki. Wilayah ini terkenal karena lanskapnya tampak seperti permukaan bulan. Sehingga, sangat mengagumkan. 

Di antara sekian banyak kota bawah tanah yang ditemukan di Kapadokya, Derinkuyu merupakan salah satu yang paling besar. Kota tersebut dapat menampung hingga sekitar 20 ribu orang beserta hewan ternak dan bahan makanan mereka. Setiap ceruk di dalam gua bawah tanah memiliki fungsi masing-masing. Misalnya untuk dapur, ruang tinggal, ruang pertemuan, tempat ibadah, gudang senjata, sumur, serta kamar mandi.

Untuk mengetahui lebih detail, Kami diajak tour guide Ali Ekinci masuk ke salah satu rumah bawah tanah. Seperti masuk gua, lorong sempit agak gelap Kami telusuri. Dengan berjalan agak membungkuk, akhirnya tiba di ruangan agak lebar berukuran sekitar 3x4 meter yang diterangi sebuah bola lampu. Ternyata ruangan yang Kami masuki di awal ini adalah dapur. Beberapa perkakas dapur dari tanah liat ada di sini. 

Letak ruang dapur di bagian paling depan, untuk memudahkan asap keluar saat digunakan memasak. Sebelum ke ruang dapur, ada pintu masuk yang terbuat dari batu. Bentuknya bulat dengan ada lobang di tengahnya. Fungsinya untuk membuka dengan cara dimasuki alat kemudian digeser ke samping. Agar pintu bisa digeser ke samping, sudah dibuatkan cerukan seukuran pintu.

Dari dapur, Kami meneruskan penelusuran melalui lorong sempit dengan kontur jalan agak berliku. Sampailah Kami di ruangan kedua, ketiga, keempat dan kelima. Ruangan itu berfungsi sebagai kandang ternak, menyimpan sayur, buah dan bahan pangan, tempat tinggal dan tempat ibadah. Khusus ruangan tempat tinggal dan ibadah, ukurannya lebih luas. Di bagian pojok ruang keluarga ada sumur tertutup terali besi yang terlihat airnya.  

Meski di dalam gua, udaranya tidak pengap sama sekali. Justru saya merasakan semilir angin yang sejuk dan segar. Padahal, cuaca di luar rumah bawah tanah ini cukup panas. Bagusnya sanitasi udara di setiap ruangan karena ada lubang khusus yang terhubung ke luar gua. Termasuk tersambung ke lorong jalan masuk. (choliq baya)

(jr/das/das/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia